Jari Manis

“Benar kamu nggak apa-apa?” Pertanyaan yang dilontarkan Banyu itu langsung menyambutku begitu aku melangkahkan kakiku di teras belakang. Banyu yang sedang memandangi hujan langsung menoleh begitu mendengar suara langkah kakiku mendekat.

Sudah lima kali aku mendengar pertanyaan itu hari ini. Sekali di rumah sakit, dua kali di sepanjang perjalanan menuju rumah, sekali begitu kami turun dari mobil, dan terakhir di sini.
Aku menyodorkan secangkir coklat panas padanya. Ia mengambilnya tanpa mengalihkan tatapannya dariku, menunggu jawaban yang ia mau.

“I’m fine, Banyu.” Kali ini aku memberi penekanan dalam tiap suku kata yang aku ucapkan untuk membuatnya yakin.

Banyu masih menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyeruput coklat panas di tangannya seraya memandangi tetes hujan yang turun. Hening sejenak tercipta di antara kami.

“Aku cuma khawatir,” ujarnya lirih.

“Terima kasih,” jawabku singkat dengan suara hampir berbisik.

Ia kembali menyeruput coklat panasnya. Tatapannya terpaku pada sekumpulan mawar di salah satu sudut taman belakang rumahku. Namun aku bisa melihat bahwa ia sebenarnya tidak sedang menatap mawar-mawar itu. Tatapannya menerawang begitu jauh.

“Apa karena Ar…” Tiba-tiba Banyu menggantung kalimatnya.

Aku sempat menangkap kata ‘ar’ di ujung kalimatnya. Apakah yang ia maksud adalah Arion? Mungkinkah Banyu juga melihat sosok Arion di rumah sakit tadi? Aku berusaha menutup rapat mulutku dari keinginan untuk menanyakannya pada Banyu. Aku takut jika dugaanku salah, aku malah akan memperkeruh suasana.

“Aku masih menanti jawabanmu,” Banyu menyeruput coklat panasnya lagi, “atas pinanganku,” lanjutnya seraya menolehkan wajahnya ke arahku.

Pinangan itu, sejak seminggu yang lalu dan aku masih belum bisa memberinya satu jawaban pun. Terlebih lagi dengan kemuunculan sosok Arion di rumah sakit tadi. Banyu memang baik, sangat baik, namun ia bukan lagi pria yang kucintai.

Hujan turun semakin deras. Aku meremas kedua tanganku dan meraba jari manisku. Tempat ini masih kosong. Hanya ada satu cincin yang bisa melingkarinya.

“Aku masih menanti seseorang menepati janjinya,” ujarku seraya meraba jari manisku sekali lagi.

Advertisements