Kita Sudah Mencoba

Ruang makan ini gelap dan sepi. Hanya ada aku dan kamu, terdiam di kursi masing-masing. Menatap secangkir teh hangat di hadapan masing-masing yang dulu pernah menjadi penyatu kita berdua. Saat ini teh hangat itu hanya sekadar mengepulkan asap, sementara hanya dingin yang terasa saat kita mencecapnya.

Kali ini kita tidak saling melempar argumen dalam nada-nada tinggi yang kadang terselipi kata-kata kasar. Mungkin kita sudah terlalu lelah untuk mendebatkan hal-hal yang itu saja, yang selalu berujung pada jalan buntu seolah tanpa solusi. Aku memang lelah. Bahkan terlalu lelah untuk melarangmu menyalakan sebatang rokok di depanku saat ini.

Kamu diam namun kamu tampak tidak tenang. Kamu menghisap rokokmu dengan terburu-buru. Aku pun tidak setenang yang aku tampakkan. Di dalam dada ini ada sebuah gejolak perasaan yang tidak bisa kumengerti. Aku ingin segera terbebas namun jauh di dasar hatiku, aku ingin semuanya tetap tinggal di tempatnya semula. Tapi toh kita sudah memutuskan dan kita bukan mengambilnya dalam waktu sedetik dua detik.

“Kita sudah berusaha, kan?” tanyamu tiba-tiba. Lirih dan sedikit bergetar.

Aku menganggukkan kepalaku meski aku tahu kamu tidak menatapku.

“Sudah semaksimal yang kita bisa,” jawabku, entah untuk meyakinkanmu atau diriku sendiri.

“Kamu akan lebih bahagia,” nada kalimatmu terdengar mengambang, antara pertanyaan dan pernyataan.

“Kamu pun akan jauh lebih bahagia.” Kali ini aku yakin dirikulah yang sedang aku yakinkan.

Kamu menghela napas lalu mematikan rokokmu di asbak kecil yang terletak di tengah meja makan. Untuk pertama kalinya asbak itu berfungsi di rumah ini, mungkin sekaligus untuk yang terakhir kalinya.

Suara derit kursi yang digeser terdengar. Kamu berdiri dari kursimu dan mengambil sebuah tas besar yang sejak tadi tergeletak di sampingmu. Kamu tidak langsung melangkah melainkan mengambil kesempatan untuk menatap mataku. Entah sudah berapa lama kita tidak pernah lagi bertatapan seperti ini. Dulu, kita hanya perlu saling menatap untuk menyampaikan rasa cinta, lalu tiba-tiba rasanya terlalu sulit untuk bertatapan tanpa melihat kebencian terpantul di bola mata masing-masing.

Kamu maju selangkah mendekat ke arahku. Kemudian dengan lembut kamu memeluk tubuhku. Aku bisa merasakan kamu sempat mencium aroma rambutku. Kamu pernah bilang kamu begitu menyukai wangi shampo yang aku pakai.

“Cinta yang pernah ada di antara kita adalah nyata, jangan pernah ragukan itu. Terima kasih untuk semuanya,” bisikmu tepat di telingaku.

Kamu melepaskan pelukanmu seraya tersenyum padaku. Dan seiring langkahmu yang menjauh, aku menguntai sebuah doa agar rasa sakit ini hanya menggores hatiku sekejap.

 

The Hobbit : An Unexpected Journey

image

SutradaraĀ 
Peter Jackson
Screenplay Peter Jackson

Fran Walsh

Philippa Boyens

Guillermo del Toro

Produksi Warner Bros Pictures
Tahun 2012
Genre Fantasy

Adventure

Casts
Martin Freeman

Ian McKellen

Richard Armotage

 

Siapapun yang menyukai trilogi The Lord of The Rings, pasti akan sangat excited dengan film ini. Lewat film ini kita akan bisa melihat kembali Gandalf, para Elf, Hobbit dan Dwarf, meskipun ada beberapa karakter yang tidak muncul dalam film ini.

The Hobbit : An Unexpected Journey adalah bagian pertama dari tiga bagian film yang direncanakan. Bagian kedua dan ketiga dari film The Hobbit rencananya akan dirilis pada tahun 2013 dan 2014. The Hobbit merupakan adaptasi dari novel karya J. R. R Tolkien yang merupakan prekuel dari trilogi The Lord of The Rings.

Cerita berawal dari keinginan Bilbo Baggins (Ian Holm) untuk mengisi ulang tahunnya yang ke 111 tahun dengan menuliskan pengalamannya mengikuti sebuah perjalana besar 60 tahun yang lalu untuk diwariskan kepada keponakannya, Frodo Baggins (Elijah Wood).

Adegan beralih ke masa 60 tahun sebelumnya saat Gandalf (Ian McKellen) berusaha membujuk Bilbo (Martin Freeman) untuk bersedia ikut dalam perjalanan yang akan dilakukannya bersama 13 Dwarves yang dipimpin oleh Thorin (Richard Armotage) dengan tujuan untuk merebut kembali Lonely Mountain dari tangan Smaug The Dragon. Dengam enggan akhirnya Bilbo menerima permintaan Gandalf tersebut.

Perjalanan itu tentu saja tidak berjalan mulus. Mereka sempat ditangkap oleh Trolls dan hendak dijadikan santapan. Beruntung Bilbo sanggup mengalihkan perhatian Trolls sebelum akhirnya Gandalf menyelamatkan mereka. Mereka juga harus berusaha meloloskan diri dari kejaran Orcs. Dan Bilbo juga sempat terpisah dari rombongan Dwarves saat Goblin menculik mereka untuk dibawa menemui Great Goblin.

Favorite Part

Saya dibuat merinding oleh adegan para Dwarf bernyanyi bersama saat mereka berkumpul di rumah Bilbo. Nyanyian mereka terdengar begitu khidmat dan nyanyian itu pula yang membuat Bilbo yang awalnya menolak mentah-mentah permintaan Gandalf akhirnya berubah pikiran.

Satu lagi adalah the Gollum part! Secara personal saya memang selalu menganggap Gollum adalah makhluk yang lucu dengan matanya yang besar dan kepala botaknya. Jadi saya selalu menikmati adegan-adegan yang menampilkan Gollum :p

Kesimpulan

Buat saya yang tidak terlalu menyukai film-film berdurasi lebih dari dua jam, film ini terasa cukup membosankan. Beruntung film ini menyuguhkan efek visual yang mampu menjaga mata kita untuk tetap terpaku pada layar, dan tentu saja kehadiran Kili (Aidan Turner) yang tampan dengan panahnya.
Yang terpenting, The Hobbit : An Unexpected Journey mampu mengobati kerinduan akan kombinasi cerita dan visual yang mengagumkan dalam The Lord of The Rings.

Star : 4

Untuk R

Dear R,

Saat ini aku sedang berjuang keras untuk membencimu. Ya, aku menyebutnya sebagai sebuah perjuangan keras karena gaya gravitasi yang menarik hatiku untuk selalu kembali jatuh ke hatimu terasa begitu kuat. Aku harus barjuang habis-habisan untuk bisa melawannya.

Jangan pura-pura tidak tahu dan sibuk bertanya kenapa seolah kamu tidak pernah menyakitiku. Jika kamu minta aku membeberkan semuanya, akan tercipta deretan panjang bukti-bukti yang bisa menguatkan kebencianku.

Kamu yang selalu bersikap seolah peduli padaku namun tidak pernah sekalipun mengirim pesan untuk menanyakan kabarku. Selalu aku yang bertanya.

Kamu yang selalu mengatakan bahwa kamu juga memikirkanku namun bahkan tidak ingat hari ulang tahunku. Bagaimana mungkin kamu lupa sementara ulang tahunku hanya berbeda sehari dengan adikmu?

Kamu yang hanya bisa memberi alasan dan senyuman, merasa bahwa aku akan selalu percaya. Aku sudah tidak sebodoh dulu. Alasanmu hanyalah alasan yang kamu buat-buat.

Masih ada banyak lagi yang membuatku memutuskan untuk membencimu. Hal-hal kecil yang mungkin bagimu sepele namun tidak mungkin aku abaikan.

Ya, aku masih mencintaimu. Namun rasa sakit yang aku rasakan jauh lebih dalam dibanding rasa cintaku untukmu.

Maka, biar kita jadi sepasang orang asing saja. Agar langkah ini menjadi lebih ringan.

We Need To Talk About Kevin

image

Sutradara : Lynne Ramsay
Screenplay : Lynne Ramsay
Produksi : BBC Film
Tahun : 2011
Genre : Drama, Thriller
Cast : Tilda Swinton, Ezra Miller, John C. Reilley

Film yang dirilis pada tahun 2011 dan bergenre drama dan thriller ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Lionel Shriver. Berkisah tentang seorang wanita bernama Eva Katchadourian (Tilda Swinton) yang berusaha menata kembali hidupnya setelah mengalami keterpurukan akibat pembunuhan massal yang dilakukan oleh putranya Kevin (Ezra Miller), di sekolah. Hidup dengan kebencian dari orang-orang di sekitarnya membuatnya tertatih-tatih untuk bisa bangkit kembali.

Di tengah usahanya itu, Eva mencoba merangkai kembali peristiwa-peristiwa masa lalu untuk menemukan apa penyebab sesungguhnya yang menjadikan Kevin seorang pembunuh kejam. Sejak Kevin lahir, berbagai keanehan memang tampak dalam diri Kevin. Saat masih bayi Kevin sulit berhenti menangis sampai berteriak-teriak. Lalu di usia yang sudah cukup besar, Kevin masih menggunakan popok karena Kevin tidak mau berlatih buang air di kamar mandi. Hubungan Kevin dan Eva pun tidak baik dan Kevin cenderung memusuhi Eva.

Melihat kejanggalan-kejanggalan ini, Eva mencoba membicarakannya pada Franklin (John C. Reilley), suaminya. Namun Franklin enggan menganggapnya sebagai masalah yang serius. Bagi Franklin apa yang dilakukan Kevin adalah kenakalan biasa yang lazim dilakukan anak seusianya. Sampai akhirnya ketakutan Eva pun terjadi, Kevin melakukan massal di sekolahnya.

Favorite Part

May I skip this section? šŸ˜€ Bukan karena tidak ada adegan atau bagian yang saya sukai dari film ini, justru seluruh adegan dalam film ini terasa begitu penting sehingga sulit untuk memilihnya. Seluruh adegan dalam film ini dibuat seperti kepingan-kepingan puzzle yang harus kita rangkai.

Di luar itu saya mengagumi karakter Eva yang kuat. Apa yang menimpanya bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dihadapi namun Eva tetap berusaha bangkit dan berjalan dengan tegak.

Kesimpulan

Bagi penggemar film-film yang berkaitan dengan psikologi, film ini pantas untuk menjadi pengisi waktu luang. Bahkan mungkin psikolog, psikiater ataupun ahli kejiwaan harus menonton film ini sebagai ‘bahan observasi’ ringan mengingat belakangan ini sering terjadi hal serupa di dunia. Meskipun film ini tidak memberikan jawaban secara gamblang atas perilaku Kevin yang menyimpang.

Disebutkan bahwa film ini bergenre thriller namun menurut saya nuansa thriller-nya tidak terlalu menonjol. Jadi untuk yang merasa ngeri menyaksikan adegan-adegan sadis dan darah, film ini masih bisa anda nikmati.

Setahu saya film ini tidak pernah masuk ke Indonesia. Mungkin agak sulit untuk menemukan DVD-nya. Anda bisa menikmati ‘We Need To Talk About Kevin’ di sini

Star : 4

Looper

Film bergenre science fiction ini berkisah tentang seorang looper bernama Joe (Joseph Gordon-Levitt) yang bekerja untuk sebuah organisasi kriminal dari masa depan dan bertugas membunuh orang-orangĀ  yang dikirim oleh organisasi tersebut dengan menggunakan mesin waktu. Suatu hari Joe ditugaskan membunuh dirinya sendiri yang dikirim dari masa depan. Joe ragu dan akhirnya tanpa sengaja membiarkan Joe Tua (Bruce Willis) melarikan diri.

Dalam pengejarannya, Joe pun akhirnya bertemu kembali dengan Joe Tua. Di kesempatan itu Joe Tua menceritakan tentang Rainmaker, pemimpin organisasi kriminal tempat Joe terikat kontrak yang mengirim Joe Tua untuk dibunuh. Rainmaker juga telah membunuh istri Joe Tua yang amat sangat ia cintai.

Joe Tua berniat ingin membalaskan dendamnya dengan mencari Rainmaker kecil dan membunuhnya. Namun Joe tidak sependapat dengan keinginan Joe Tua dan ia malah berusaha menemukan keberadaan Rainmaker kecil sehingga ia bisa menghalangi niat Joe Tua.

Favorite Part

Ending film ini menurut saya adalah adegan terbaik di antara seluruh adegan dalam film ini. Adegan yang menyentuh dan membuat saya mengangguk setuju akan keputusan yang diambil oleh Joe.

Selain itu akting Rainmaker kecil atau Cid (Pierce Gagnon) benar-benar memukau. Di usia sekecil itu dia benar-benar bisa menampilkan karakter Cid dengan begitu alami dan baik.

Kesimpulan

Jujur, pada awalnya saya kurang berminat untuk menonton film ini. Saya bukan penggemar film-film science fiction dan tadinya saya mengira film ini hanya akan menampilkan kecanggihan visual effect semata. Namun ada satu pertanyaan besar di kepala saya yang akhirnya membuat saya tergoda untuk menontonnya : “Why do so many people say that this movie is great?”.

Saya pun sudah menemukan jawabannya. Film ini berbeda dengan film-film bergenre sama yang lainnya yang berlomba-lomba menampilkan visual effect paling canggih dan keren. Bisa dibilang film ini minim sekali dalam hal visual effect. Cerita dalam film ini lebih menonjol. Ketimbang dibuat terkagum-kagum oleh visual effect, penonton diajak untuk berpikir dan hanyut dalam peran masing-masing karakter.

Bagi anda yang kurang suka genre science fiction, film ini layak anda coba untuk ditonton. Saya jamin anda pun akan dibuat jatuh cinta.

Hello Ghost

Kesepian dan merasa nggak berarti. Itulah yang dirasakan Sang-man (Cha Tae-hyun), seorang pemuda yatim piatu, sehingga membawanya pada berkali-kali percobaan bunuh diri. Sial baginya, percobaan bunuh diri yang ia lakukan nggak pernah berhasil.

Pada percobaan bunuh diri yang terakhir, Sang-man melompat dari jembatan ke sungai. Percobaan itu gagal lagi, ia berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Saat sadar, sebuah perubahan terjadi pada diri Sang-man. Ia kini bisa melihat hantu. Bukan hanya satu, melainkan empat hantu sekaligus.

Bukan hanya bisa melihat keberadaan hantu-hantu itu. Tubuh Sang-man pun dengan seenaknya dipinjam oleh hantu-hantu tersebut untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka terus mengikuti Sang-man sampai akhirnya hidup bersama Sang-man.

Lambat-laun Sang-man merasa terbebani dengan kehadiran keempat hantu tersebut. Keberadaan hantu-hantu itu di sisi Sang-man dirasa cukup mengganggunya saat ia mulai jatuh cinta pada seorang perawat yang ia temui di rumah sakit bernama Jung Yoon-soo (Kang Ye-won). Sang-man akhirnya membuat kesepakatan dengan keempat hantu tersebut. Ia akan membantu mereka mewujudkan harapan terakhir mereka dengan syarat setelah harapan mereka terpenuhi, mereka harus pergi dari kehidupan Sang-man.

Favourite Part

Menit-menit terakhir film ini berhasil menguras air mata saya. Adegan saat Sang-man menyadari bahwa keempat hantu itu ternyata adalah… (ups! I won’t write a spoiler here :p), benar-benar adegan yang mengharukan dan nggak akan mudah lepas dari ingatan.

Kesimpulan

Saya berani mengkategorikan film ini sebagai film yang wajib ditonton bersama keluarga. Saya yakin film ini akan mempererat hubungan kekeluargaan kita dan juga menyadarkan kita akan betapa berharganya sebuah keluarga.

Akting Cha Tae-hyun yang sudah membintangi beberapa film besar di Korea pun sudah nggak perlu diragukan lagi. Oya, jangan mengharapkan ada penampakan-penampakan yang menyeramkan dalam film ini ya. Hantu-hantu dalam film ini terlihat sangat ‘normal’ dan tingkah laku mereka pun sangat mengundang tawa.

Pesan terakhir dari saya, siapkan tissue yang banyak!

Star : 4,5

TED

Pernah dengar pepatah yang mengatakan “Hati-hatilah dengan harapanmu”? Kita nggak akan pernah tahu harapan mana dari sekian banyak harapan yang kita panjatkan bisa terwujud.

Begitulah yang dialami John Bennet (John kecil diperankan oleh Bretton Manley, John dewasa diperankan oleh Mark Wahlberg), seorang anak laki-laki yang nggak punya seorang pun teman. Saat Natal, John mendapatkan hadiah natal berupa sebuah boneka beruang dari kedua orangtuanya. John senang bukan main. Ia menganggap boneka itu sebagai sahabat satu-satunya dan memberinya nama Teddy yang kemudian dipanggil dengan nama Ted.

Belum puas dengan Ted yang nggak bisa bergerak dan berbicara, John pun memanjatkan permohonan agar Ted bisa hidup layaknya manusia. Miracle does exist, saat John bangun keesokan harinya, Ted sudah berubah menjadi sesuai harapan John. Mereka pun berjanji untuk menjadi sepasang sahabat selamanya.

27 tahun kemudian, John dan Ted sudah sama-sama dewasa dan banyak yang telah berubah kecuali persahabatan mereka. Kini Ted bukan lagi boneka beruang yang polos dan lucu. Ted telah menjadi boneka beruang yang memiliki gaya hidup bebas dan selalu berpikiran mesum. Sementara John juga sudah bukan lagi seorang bocah kesepian. Ia sudah memiliki seorang kekasih dan juga beberapa teman kerja, meskipun John masih menganggap Ted adalah sahabat sejatinya.

Masalah timbul saat Lori Collins (Mila Kunis), perempuan yang sudah menjadi kekasih John selama empat tahun, mulai merasa terganggu dengan kehadiran Ted di sisi John. Lori menganggap Ted lah penyebab ketidakdewasaan John. Bagi Lori Ted hanyalah penghambat bagi kemajuan hidup John.

Di sinilah persahabatan John dan Ted diuji. John terjebak di antara dua pilihan sulit, Lori atau Ted, yang sama berharganya bagi John.

Favourite Part

Saat Ted dan John berpisah untuk yang pertama kalinya. Ted terpaksa harus pindah dari apartemen John dan tinggal di apartemennya sendiri setelah ia diusir oleh Lori akibat ulahnya. Sedih juga lihat mereka berdua harus terpisah setelah selama 27 tahun selalu bersama.

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Ted mendatangi Lori untuk memohon pada Lori agar mau memaafkan John. Untuk itu, Ted berjanji untuk pergi dari kehidupan John. Di situ saya melihat sosok Ted yang berbeda. Dalam sekejap imej Ted yang hobi hura-hura dan mesum hilang berganti menjadi sosok sahabat yang begitu tulus menyayangi sahabatnya.

Kesimpulan

Film ini sangat menghibur. Ceritanya ringan namun nggak terkesan klise. Dan sosok Ted benar-benar ‘termanusiakan’, ini menjadi poin utama dalam film ini. Saya nggak sempat mengantuk sedetik pun saat menonton film ini. Selain itu si cantik Mila Kunis juga menambah warna film ini.

Satu yang perlu diingat, meskipun karakter utamanya adalah boneka beruang, film ini sama sekali bukan ditujukan untuk anak-anak. Terdapat banyak konten dewaasa dalam film ini. Jadi para orangtua, jangan pernah mengajak anak-anak menonton film ini.

Star : 4