Kekuatan Super

Aku punya kekuatan super
Bisa menjadikanku siapapun
Bisa membawaku kemanapun
Bisa menempatkanku dalam situasi apapun
Semua sesuai sesuka mauku

Aku punya kekuatan super
Yang lebih hebat dari ilmu sihir
Lebih hebat dari kekuatan peramal
Yang mampu menaklukkan realitas
Yang seringkali mengkhianati mauku

Aku punya kekuatan super
Bisa menyamakan getar hati kita
Bisa membuatmu memujaku
Bisa menjadikanmu milikku
Selama waktu yang aku mau

Aku punya kekuatan super
Kusebut itu imajinasi

Lepas

Aku harus melepas lagi
Kali ini tanpa airmata
Mungkin aku telah terbiasa
Mungkin juga karena dia berkali lipat, berjuta pangkat, lebih pantas

Aku harus melepas lagi
Kali ini tetap terasa sakit
Masih namun tidak hingga melukaiku
Mungkin aku terlanjur siap
Dan telah berkawan dengan realita

Aku harus melepas lagi
Kali ini sebelum mencoba
Namun aku tidak menyesali
Mungkin aku tahu
Mencoba pun sia-sia

Aku harus melepas lagi
Untuk kesekian kali
Cinta hanya ilusi

Pamulang, 040813.

Meski Bukan Cinta

Mencintaimu dalam diam
Sudah lebih dari cukup

Mendoakanmu dari kejauhan
Mungkin satu-satunya cara untukku mencinta sosokmu

Kita adalah mimpi yang sulit mewujud
Aku menyadarinya tanpa meragu

Maka biarkan aku di sini
Menjaga debar jantungku yang kian memacu

Saat namamu terngiang
Saat senyum kau ulas

Meski bukan cinta

Kepada Manusia Hebat

Untuk Manusia Hebat,
Jangan lelah dulu menanti pertemuan kita. Jarak ini akan berkurang setiap sentinya hari demi hari. Hingga kau ada di sini dan aku begitu dekat denganmu. Jangan menyerah dulu dan terlanjur menoleh ke arah lain. Tetaplah berjalan maju, ke arahku.

Untuk Manusia Hebat,
Di sini pun aku akan bersabar. Menanti saatnya aku bisa menyentuh wajahmu dan mengagumi kesempurnaan yang Tuhan ukirkan di tiap lekuknya. Tak akan sedetik pun aku berhenti percaya. Kau sedang menyusuri jalanmu menuju hatiku.

Untuk Manusia Hebat,
Hari pertemuan kita akan menjadi hari terindah. Saat kedua mata kita tanpa sengaja bertumbukan. Dan sensasi kupu-kupu itu muncul mengganggu kita. Nama masing-masing terdengar bagaikan puisi yang menyejukkan. Esok dan esok adalah untaian cerita untuk menyatukan hati.

Untuk Manusia Hebat,
Kau yang berani mengakui rasamu. Kau yang tidak ragu untuk masuk dalam hidupku. Kau yang mampu menunjukkan apa itu bahagia. Kau yang memperlihatkan dunia di luar tempurungku padaku.

Sampai bertemu, Manusia Hebat yang mencintaiku.

Rasa Tidak Perlu Judul

Seperti kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Napas saya sesak. Bukan, kali ini bukan karena penyakit langganan yang dulu hobi manpir. Obat dokter hanya akan jadi sarana pembuangan uang yang percuma.

Napas saya sesak. Karena begitu banyak kata-kata yang tertimbun di dalam. Tidak tahu harus dikeluarkan ke mana dan dengan cara apa. Semua telinga sibuk mendengarkan ocehannya sendiri. Sementara telingaku dipaksa mendengar kebisingan itu.

Telinga siapa yang mau mendengar? Tanpa menghakimi. Tanpa menggurui. Hanya bersedia menjadi tempat rebahan kata-kata yang tertahan di ujung tangis ini.

Saya tidak perlu jalan keluar. Saya tidak perlu penghiburan. Saya hanya minta segenggaman tangan dan sesungging senyuman. Lalu tanpa harus bicara, saya tahuu saya dikuatkan.

Like The Moon

Akhirnya aku bisa mengerti semua.
Bulan tetap ada di tempatnya walau tak terlihat.
Ia hanya harus menanti setetes cahaya matahari, lalu sejuta mata akan memandanginya takjub.
Ia memilih diam, tanpa perlawanan.
Akhrnya aku bisa mengerti semua.
Aku hanya harus menanti terpaan lembut sebuah cahaya dan mengajakku berdansa dengan kilaunya.

Tuhan, Inilah Amarahku Padamu

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas suratan yang telah kau tuliskan tentang hidupku.

Dengan keegoisanmu Kau membedakanku.

Dari apa yang kusebut dengan ‘mereka’.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas sepasang mata yang Kau hadiahkan pada mereka.

Sehingga mereka bisa dengan leluasa menatapku.

Keheranan dan rasa jijik terpantul dalam bola mata mereka.

Tanpa perasaan.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas kaki yang Kau ciptakan untukku.

Tidak ubahnya sekedar aksesoris.

Karena kaki ini tidak mampu membawaku.

Ke mana seharusnya aku melangkah.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas tubuh yang terkurung.

Di balik tembok-tembok putih ini.

Tertawa di siang hari.

Menangis di malam hari.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas impian-impianku yang Kau buang dengan paksa.

Tanpa peduli berapa banyak doa kupanjatkan.

Berapa banyak air mata untuk meyakinkanMu.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas cinta yang Kau anugerahkan padaku.

Yang selalu berubah menjadi luka.

Karena Kau lupa menganugerahkan ketulusan.

Di hati putra Adam untukku.

Tuhan, inilah amarahku padaMu.

Atas diamMu.

Untuk satu-satunya pertanyaanku.

‘Mengapa?’