Jari Manis

“Benar kamu nggak apa-apa?” Pertanyaan yang dilontarkan Banyu itu langsung menyambutku begitu aku melangkahkan kakiku di teras belakang. Banyu yang sedang memandangi hujan langsung menoleh begitu mendengar suara langkah kakiku mendekat.

Sudah lima kali aku mendengar pertanyaan itu hari ini. Sekali di rumah sakit, dua kali di sepanjang perjalanan menuju rumah, sekali begitu kami turun dari mobil, dan terakhir di sini.
Aku menyodorkan secangkir coklat panas padanya. Ia mengambilnya tanpa mengalihkan tatapannya dariku, menunggu jawaban yang ia mau.

“I’m fine, Banyu.” Kali ini aku memberi penekanan dalam tiap suku kata yang aku ucapkan untuk membuatnya yakin.

Banyu masih menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyeruput coklat panas di tangannya seraya memandangi tetes hujan yang turun. Hening sejenak tercipta di antara kami.

“Aku cuma khawatir,” ujarnya lirih.

“Terima kasih,” jawabku singkat dengan suara hampir berbisik.

Ia kembali menyeruput coklat panasnya. Tatapannya terpaku pada sekumpulan mawar di salah satu sudut taman belakang rumahku. Namun aku bisa melihat bahwa ia sebenarnya tidak sedang menatap mawar-mawar itu. Tatapannya menerawang begitu jauh.

“Apa karena Ar…” Tiba-tiba Banyu menggantung kalimatnya.

Aku sempat menangkap kata ‘ar’ di ujung kalimatnya. Apakah yang ia maksud adalah Arion? Mungkinkah Banyu juga melihat sosok Arion di rumah sakit tadi? Aku berusaha menutup rapat mulutku dari keinginan untuk menanyakannya pada Banyu. Aku takut jika dugaanku salah, aku malah akan memperkeruh suasana.

“Aku masih menanti jawabanmu,” Banyu menyeruput coklat panasnya lagi, “atas pinanganku,” lanjutnya seraya menolehkan wajahnya ke arahku.

Pinangan itu, sejak seminggu yang lalu dan aku masih belum bisa memberinya satu jawaban pun. Terlebih lagi dengan kemuunculan sosok Arion di rumah sakit tadi. Banyu memang baik, sangat baik, namun ia bukan lagi pria yang kucintai.

Hujan turun semakin deras. Aku meremas kedua tanganku dan meraba jari manisku. Tempat ini masih kosong. Hanya ada satu cincin yang bisa melingkarinya.

“Aku masih menanti seseorang menepati janjinya,” ujarku seraya meraba jari manisku sekali lagi.

Advertisements

Sosok

Aku melihatnya. Meskipun dari kejauhan, aku mampu mengenali sosoknya dengan baik. Tatapan sepasang mata itu, selalu hadir dalam mimpiku selama hampir dua tahun ini. Dan semua masih terlihat sama, masih mampu membuat jantungku kehilangan iramanya. Arion.

Ia bergeming di tempatnya, di seberang pintu masuk rumah sakit tempatku memijakkan kedua kakiku yang terasa kaku. Ia hanya menatapku dengan raut wajah yang sulit kumengerti. Bahagiakah ia bertemu denganku? Sinar matanya nengatakan sebaliknya dan itu membuat hatiku perih.

Saat ini rasanya aku ingin berlari ke arahnya. Menghambur ke dalam hangat peluknya yang telah sekian lama tidak kurasakan. Aku ingin menumpahkan seluruh rindu yang diam-diam melahap habis perasaanku. Aku ingin menagih janjinya untuk memakaikan cincin peninggalan ibuku di jariku. Namun kakiku enggan melangkah sesentipun. Seolah ada sesuatu yang menahanku untuk mendekatinya.

Seketika itu juga aku mengutuk Arion yang hanya mampu berdiam diri. Tidak rindukah ia padaku? Bukankah ia sudah berjanji untuk kembali? Sekarang ia sudah ada di sini, membiarkanku melihat sosoknya yang pernah menghilang, namun mengapa ia enggan datang mendekat? Aku ingin meneriakkan namanya namun rasanya tubuhku kompak menentang keinginanku hari ini. Bahkan lidahku pun ikut kelu.

“Nindy.”

Baru saja aku berhasil melangkahkan sebelah kakiku, panggilan itu menghentikanku. Refleks aku menoleh ke arah belakangku. Banyu datang mendekat sambil menggandeng Ayah.

“Kamu kenapa, Nin? Muka kamu kok pucat?” Senyum di wajah Banyu berganti menjadi raut cemas.

Aku hanya menggeleng. Aku tidak mungkin memberi tahu Banyu yang sebenarnya. Apalagi ada Ayah di sini. Aku tidak ingin penyakit Ayah kambuh jika mendengar nama Arion kusebut.

“Kamu yakin?” tanya Banyu memastikan.

Aku menggangguk seraya mengalihkan tatapanku darinya.

“Ya udah, kita pulang yuk! Aku ambil mobil dulu sebentar.” Banyu menyerahkan Ayah padaku lalu ia berlari kecil menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk.

Selepas Banyu pergi, aku kembali menoleh ke arah tempat Arion tadi berdiri. Kosong. Sosok itu sudah hilang sebelum aku sempat menyapanya. Aku berusaha mencari sosoknya ke segala arah namun nihil. Tidak terlihat sekilas pun sosok Arion lagi. Ia benar-benar menghilang seolah apa yang kulihat tadi adalah ilusi. Tidak, itu bukan ilusi dan aku tidak sedang berhalusinasi karena terlalu rindu. Aku yakin itu.

Arion benar-benar ada di sini. Tatapan itu nyata. Senyata detak jantungku yang belum juga kembali normal.

Arion, apakah ini bukan waktumu untuk pulang?

Sebuah Janji

Aku terbangun oleh suara berisik yang berasal dari arah dapur. Kuusap kedua mataku agar bisa melihat jam di dinding kamarku dengan lebih jelas. Jam setengah enam pagi. Siapa yang pagi-pagi begini sudah sibuk di dapur? Nas, pembantu rumah tangga di rumahku tidak mungkin sudah datang sepagi ini. Atau, jangan-jangan Ayah yang….

Aku bergegas turun dari ranjangku. Dengan langkah cepat-cepat, aku keluar dari kamar dan menuju dapur. Aroma bawang putih langsung menusuk hidungku begitu aku memasuki dapur. Tampak Arion berdiri memunggungiku, sibuk dengan kegiatannya mengiris daun bawang.

“Arion?” panggilku.

Dengan ekspresi terkejut ia menoleh ke arahku.

“Kenapa kamu udah bangun?” Dahinya berkernyit seraya menatapku heran.

“Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu udah sibuk di dapur pagi-pagi begini?” Aku balas bertanya.

Ia mengembalikan perhatiannya pada daun bawang di hadapannya. Sudah lama aku tidak melihatnya berkutat dengan pisau dan alat masak lainnya. Sejak dulu aku suka memperhatikannya saat sedang memasak. Aku suka melihat keluwesan tangannya meracik seluruh bumbu dan bahan masakan hingga akhirnya menjadi santapan yang lezat. Ia memang bukan seorang koki tapi aku menganggapnya lebih keren dari koki terhebat di dunia.

“Mungkin ini terakhir kalinya aku memasakkan nasi goreng kesukaanmu dan ayahmu,” ujarnya lirih.

Aku menangkap sesuatu yang tidak beres dalam kalimatnya. Belum lagi sikap Arion yang menghindari tatapanku saat mengatakan hal itu. Perasaanku mulai gelisah.

“Apa maksudmu?” tanyaku seraya berjalan mendekatinya.

“Aku harus pergi,” jawabnya, masih menghindari tatapanku.

“Kenapa dan ke mana?”

Arion tidak menjawab. Ia malah berusaha terlihat sibuk dengan mencuci tomat dan cabai. Aku bergerak lebih dekat lagi ke arahnya.

“Apa karena ucapan ayah semalam? Kamu sakit hati karena itu? Arion, ayah sedang sakit dan apa yang terjadi semalam hanyalah halusinasi ayah,” aku berusaha bicara dengan nada setenang mungkin.

Ia tetap diam. Tangannya terus menggosok tomat yang sebenarnya sudah bersih itu.

“Arion!”

Aku merebut tomat dari tangannya dan mematikan keran air. Kuputar paksa tubuhnya menghadapku. Ia tidak melawan namun kepalanya tetap tertunduk.

“Atau jangan-jangan… apa yang ayah ucapkan itu… benar?” tanyaku hati-hati. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya menganggukkan kepalanya atau mendengar kata ‘iya’ dari mulutnya.

Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku dengan kedua matanya yang memancarkan keteguhan namun juga meneduhkan.

“Nindy…”

Refleks aku menutup telingaku dengan  kedua tanganku sebelum Arion melanjutkan kalimatnya. Tidak, aku tidak ingin mendengarnya. Aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Aku bisa menebaknya dari ekspresi wajahnya dan juga caranya menyebut namaku. Aku menggelengkan kepalaku seraya mundur selangkah.

“Jangan teruskan. Jangan bicara apa-apa lagi,” suaraku bergetar hebat.

“Saat kebakaran itu terjadi, aku tidak bisa menyelamatkan ibumu. Itu sama saja dengan aku telah membunuhnya,” Arion nekat melanjutkan kalimatnya.

“Kebakaran? Ibuku meninggal karena kecelakaan, kan?”

Aku makin tidak mengerti. Kenapa semua harus jadi semisterius ini? Ayah dan Arion, jadi selama ini mereka merahasiakan penyebab kematian ibuku dariku? Tapi untuk apa?

Aku mundur selangkah lagi. Perlahan Arion maju dan meraih tanganku. Aku berusaha melawan tapi cengkeramannya begitu kuat.

“Aku akan menjelaskan semuanya,” ujarnya tegas.

Ia menuntunku ke meja makan dan menyuruhku duduk di salah satu kursi. Aku pasrah, kuikuti semua perintahnya. Ia lalu duduk di kursi di hadapanku. Kami sama-sama terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan mulai bicara.

***

Kami berdua terdiam. Aku tenggelam dalam pikiranku sementara Arion sepertinya sedang memberiku kesempatan untuk memahami semuanya. Ia sudah menceritakan rahasia yang tidak kuketahui selama bertahun-tahun. Aku cukup kecewa namun alasan yang ia berikan membuatku mau tidak mau harus memakluminya. Dan kini ia bilang ia harus pergi untuk menuntaskan apa yang belum sempat dituntaskan oleh ibuku.

“Kalau begitu, ayo kita lakukan sama-sama. Kita menikah dan melaksanakan rencana ini bersama,” usulku tiba-tiba.

Mata Arion membulat begitu mendengarnya. Cepat-cepat ia menggelengkan kepala.

“Tidak! Aku nggak mau membawa kamu dalam masalah ini,” tolaknya.

“Tapi ini menyangkut keluargaku. Aku nggak mungkin berdiam diri dan membiarkanmu berjuang sendirian,” aku melemparkan argumen terbaikku.

Arion menggenggam tanganku, “Serahkan ini padaku. Kamu bisa mempercayaiku, kan?”

Suaranya terdengar begitu lembut. Aku tahu ia sedang memanfaatkan kelemahanku yang mudah takluk oleh kata-katanya. Dan aku memang sudah setengah takluk saat ini. Tapi aku tidak bisa membiarkannya mengorbankan dirinya demi keluargaku. Apa yang akan ia hadapi bukanlah sesuatu yang kecil dan mudah dikalahkan.

“Kamu tahu aku selalu mempercayaimu, tapi kali ini…”

“Aku tidak akan bisa menghadapimu sebelum aku membayar hutangku pada ibumu. Kamu tega membiarkan batinku tersiksa setiap hari?” tanyanya setelah menyela kalimatku.

Aku menunduk. Aku sudah kehabisan argumen untuk melawan keteguhan niatnya.
Arion tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Ia menaruh sebuah kotak kecil di atas meja. Kotak itu, kotak yang sama dengan kotak yang ia keluarkan saat meminangku semalam. Didorongnya kotak itu ke dekatku.

“Aku mengembalikan cincin ini ke tempat yang seharusnya,” ucapnya.

Lalu ia bangkit dari kursinya.

“Aku pergi,” pamitnya seraya menepuk pundakku pelan.

Aku membiarkannya pergi begitu saja. Lankah kakinya terdengar makin lama makin jauh. Namun pandanganku yang tertuju pada kotak di hadapanku membuatku menyadari sesuatu. Membiarkannya pergi tanpa ada jaminan ia akan kembali rasanya tidak adil buatku. Aku harus membuatnya merasa berhutang padaku sehingga ia pasti akan berusaha keras untuk kembali.
Aku segera mengambil kotak itu dan mengejarnya ke pintu depan.

“Arion,” panggilku.

Aku langsung melesakkan kotak itu ke dalam genggamannya begitu ia membalikkan tubuhnya.

“Belum saatnya kamu mengembalikan cincin itu. Bawa itu bersamamu dan kembalikan saat urusanmu sudah selesai. Ingat, kamu  harus mengembalikannya. Tidak peduli seberapa pun lamanya, kamu tetap harus mengembalikannya.”
Aku berusaha menjaga nada suaraku agar tidak bergetar sedikitpun, meskipun air mata di pelupuk mataku sudah mendesak ingin keluar.

Arion menunduk memandangi kotak dalam genggamannya. Lalu sedikit demi sedikit seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Aku pasti kembali,” janjinya seraya menatapku dengan sepasang mata yang pasti akan begitu kurindukan.

Pria yang Melamarku Adalah Pembunuh

“Astari!”

Suara teriakan yang berasal dari dalam rumah itu mengejutkan kami berdua. Aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Arion. Tanpa mempedulikan cincin yang terjatuh sekali lagi, aku langsung berlari menghambur masuk ke dalam rumah. Aku bisa mendengar suara langkah kaki Arion mengikutiku.

“Astari!” teriakan itu terdengar lagi.

Ayah! Teriakan ayah itu menandakan sebuah ketidakberesan tengah terjadi. Aku bergegas membuka pintu kamar ayah yang tidak terkunci. Sejak ayah sakit aku tidak pernah mengijinkan ayah mengunci pintu kamarnya. Untuk menghindari itu, aku sengaja menyimpan kunci kamar ayah.

Bau menyengat menyapa penciuman kami begitu pintu kamar terbuka. Ayah tampak sedang berdiri di samping ranjangnya dengan raut wajah bingung. Aku melirik kasur ayah sekilas, noda lebar berwarna kekuningan mengotori seprainya. Perlahan aku menghampirinya. Kubuat sikapku agar tampak setenang mungkin.

“Ada apa, Ayah?” tanyaku lembut.

“Astari mana? Ibumu di mana?” tanyanya dengan panik.

“Oh, ayah buang air? Tidak apa-apa. Ayo, kita ke kamar mandi dulu, Yah.”

Aku bermaksud memapahnya ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar namun ayah mendorongku menjauh.

“Panggil ibumu. Biar ibumu saja yang bersihkan,” perintahnya.

“Ibu tidak ada. Biar aku yang bersihkan, sama saja,” ujarku dengan tetap menjaga intonasi suaraku agar tetap lembut.

Aku kembali menggandeng tangannya namun ayah menepisku.

“Apa maksudmu ibumu tidak ada? Kemana dia malam-malam begini?” Nada suara ayah terdengar meninggi.

Aku merangkulnya sambil mengusap-usap punggungnya.

“Ibu sudah pergi menemui Tuhan dua tahun yang lalu, Ayah,” bisikku.

Dengan kasar ayah mendorong tubuhku. Aku mundur beberapa langkah dengan sedikit terhuyung. Beruntung, Arion dengan sigap menangkap tubuhku sehingga aku tidak terjatuh.

“Jangan bercanda kamu!” bentaknya. “Mana mungkin…”

Ayah menggantung kalimatnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan tatapannya tajam ke arah Arion.

“Pembunuh!” tunjuknya.

Mata Arion terbelalak. Ia tampak begitu terkejut dengan tudingan ayah itu. Aku pun tidak menyangka. Selama ayah mengenal Arion, tidak pernah sekalipun ayah bersikap kasar pada Arion.

“Ayah, ini Arion. Dia bukan pembunuh,” aku berusaha menyadarkan ayah.

Ayah menggelengkan kepalanya, “Dia yang telah membunuh Astari! Dia lah pembunuhnya! Pergi! Pergi dari sini!”

“Ayah, jangan begini….” bujukku.

Tubuh ayah terlihat makin tegang, wajahnya pun kini memerah penuh amarah.

“Pergi!” usirnya lagi.

Aku menoleh ke arah Arion yang hanya bisa berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi. Meskipun kondisi ayah tidak sehat, tuduhan ayah itu pasti tetap terasa menyakitkan baginya.

“Arion, keluarlah dulu,” pintaku, demi ayah dan juga demi perasaan Arion sendiri.

Aku harus mengulang permintaanku sampai tiga kali sebelum akhirnya Arion tersadar dan segera beranjak keluar dari kamar ayah. Aku pun kembali memusatkan perhatianku pada ayah. Kupeluk tubuh rentanya untuk menenangkannya.

“Dia telah membunuh Astari-ku….” raungnya.

Aku tidak menyahutinya. Kini raungannya berganti menjadi isak tangis yang memilukan. Kubiarkan ia menangis sampai luka di hatinya berangsur-angsur mereda.

Sementara itu, aku bertanya-tanya tentang maksud dari tuduhan ayah pada Arion tadi. Apakah itu hanya halusinasi ayah? Atau mungkinkah tuduhan itu adalah bagian dari memori ayah?

Bagaimana Jika

Suara ketukan di pintu kamarku menarikku kembali dari alam mimpi. Refleks mataku melirik jam digital di atas nakas di samping ranjangku. Tepat jam duabelas malam. Siapa sih tengah malam begini? Rutukku dalam hati.

Karena sudah hampir tertidur pulas, aku harus berusaha keras untuk bisa bangun dan membukakan pintu untuk tamu tak diundang itu. Senyuman di wajah Arion langsung menyambutku begitu pintu kamarku terbuka. Aku memandangnya dengan kesal.

“Ada apa?” tanyaku ketus.

Bukannya segera menjawab Arion malah tertawa melihat penampilanku yang acak-acakan. Aku yang dibalut piyama favoritku yang sudah lusuh dengan rambut berantakan. Meskipun sudah sering menginap di rumahku sejak bertahun-tahun yang lalu, ia belum pernah melihat penampilanku seberantakan ini. Wajahku menghangat, malu juga rasanya.

“Jangan ketawa, ah! Siapa suruh ganggu orang tidur?” sungutku.

“Iya, iya. Aku nggak ketawa lagi,” ujar Arion sambil berusaha menahan tawanya.

“Keluar, yuk!” Tiba-tiba ia menarik tanganku dan mengajakku keluar.

“Eh, kemana? Ngapain?” protesku.

“Ada yang mau aku tunjukkin.”

Dengan wajah merengut aku pun akhirnya pasrah mengikutinya. Rupanya ia membawaku ke halaman belakang. Mataku menjelajahi seluruh sudut halaman, mencari-cari apa kiranya yang akan ia tunjukkan padaku. Aku tidak menemukan apapun. Semua tampak sama seperti sebelumnya. Sampai saat ia mengangkat sebuah kue tart kecil dari atas meja di teras. Lilin angka 25 menyala di atasnya.

“Selamat ulang tahun, Nindy,” ucapnya seraya mendekatkan kue itu padaku.

Oh, ini hari ulang tahunku! Begitu sibuknya aku dengan urusan ayah sampai-sampai aku melupakan hari ulang tahunku sendiri. Kalau tidak ada Arion, hari ulang tahun hanya akan menjadi hari yang aku lewati seperti biasanya.

“Tiup lilinnya. Jangan lupa make a wish dulu,” ujarnya memecah lamunanku.

Kutiup sepasang lilin yang melambangkan usiaku kini tersebut. Sebelumnya aku memohon tiga permintaan pada Tuhan.  Pertama, agar Arion selalu di sisiku. Kedua, agar Arion selalu di sisiku. Dan ketiga, agar Arion selalu di sisiku. Aku tertawa dalam hati mengingat kelakuan konyolku itu.

Arion meletakkan kembali kue tart itu di atas meja.

“Hadiahnya cuma kue? Tidurku udah terganggu dan aku cuma dapat kue?” Aku berpura-pura kesal padanya.

Ia tertawa kecil lalu merogoh saku kanan celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah keluar bersama tangannya.

“Ini bukan hadiah dariku,” ujarnya seraya membuka kotak itu perlahan.

Tampak sebuah cincin bermata rubi di dalamnya. Cincin itu… Aku sepertinya sudah pernah melihat cincin itu sebelumnya. Tapi aku tidak bisa mengingat di mana aku melihatnya. Aku menatap cincin itu dan Arion secara bergantian.

“Ini milik Nyonya Astari, ibumu. Beliau menitipkannya padaku untuk diberikan padamu di ulang tahunmu yang ke-25.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bayangan ibuku saat mengenakan cincin itu di jari manisnya memenuhi kepalaku. Ibu tidak memakainya setiap hari, hanya pada momen-momen tertentu. Ibu bilang cincin itu terlalu berharga. Bukti cinta dari ayah. Air mata menggenangi pelupuk mataku.

“Beliau juga menitipkan dirimu padaku,” sambungnya.

Aku menatapnya tidak mengerti. Arion mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan meraih tangan kiriku.

“Menikahlah denganku. Seperti yang ibumu harapkan,” ujarnya lirih.

Aku cepat-cepat menarik tanganku dari genggamannya. Cincin yang sudah di ujung jari manisku itu terjatuh. Arion tampak terkejut dengan reaksiku. Aku menatap matanya tajam.

“Bagaimana…,” Kalimatku tergantung. Aku berusaha menelan sesuatu yang mencekat tenggorokanku.

“Bagaimana… Bagaimana jika ibuku tidak pernah memintamu untuk menikahiku?” ulangku, kali ini satu kalimat utuh.

Mata Arion membesar, tidak menyangka aku akan menodongnya dengan pertanyaan seperti itu. Jantungku memacu. Bukan karena bahagia namun karena kekecewaan yang membanjiri relung hatiku tiba-tiba. Apa yang selama ini kusangka sebagai sebuah ketulusan ternyata hanyalah bentuk dari tanggung jawabnya. Mungkin juga balas budi atas kebaikan keluargaku padanya.

“Apakah… Kamu akan tetap melakukan semua ini?” tanyaku lirih, hampir berbisik.

Ia hanya diam menatapku. Entah sedang memikirkan jawaban yang tepat atau karena ia tidak mungkin memberiku jawaban yang sebenarnya. Aku tidak peduli. Aku menatapnya lebih dalam lagi, mencari jawaban yang tidak bisa terucap oleh bibirnya.

Kepalanya tertunduk. Sementara aku masih berdiri di hadapannya tanpa mengalihkan pandanganku darinya sedetik pun.

“Aku menunggu jawabanmu,” kataku tegas.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Aku masih bisa mengingat dengan jelas pertemuan pertamaku dengan Arion. Perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu yang biasanya hanya kami rayakan bertiga, kali itu kedatangan seorang tamu. Seorang pria usia 25 tahunan dengan tubuh tinggi dan tegap ayah perkenalkan kepada aku dan ibu.

“Arion,” ia menyebutkan namanya sendiri dengan  kikuk.

Saat itu aku masih duduk di semester tiga kuliahku sementara Arion sudah menjadi pegawai kesayangan ayahku. Ayah yang sejak dulu menginginkan kehadiran seorang anak lelaki, tampak begitu gembira dengan keberadaan Arion. Bukan hanya sekali itu ayah mengundang Arion ke rumah. Hampir setiap hari Arion datang. Sekadar untuk makan malam, bahkan tidak jarang pula ayah memaksanya menginap di rumah kami.

“Arion ini perantauan, di Jakarta tidak punya siapa-siapa. Kita bisa jadi keluarga untuknya. Lagipula Ayah jadi punya teman ngobrol, tidak kesepian saat kalian berdua sibuk nonton sinetron,” ujar ayah saat kami menanyakan kenapa beliau begitu baik pada Arion.

Pada awalnya ibu memang tidak  terlalu suka jika Arion sering datang dan menginap di rumah. Ibu menjadikanku sebagai alasan, tidak baik membiarkan pemuda asing menginap di rumah di mana ada seorang gadis tinggal. Namun setelah mengenal dan melihat sikap Arion yang sopan, keberatan ibu pun hilang. Bahkan, saat ayah pergi ke luar kota atau luar negeri untuk urusan bisnis, Arion lah yang menjaga kami. Kami benar-benar sudah seperti keluarga.

Aku sendiri gembira saja dengan kehadiran Arion. Dia seperti seorang kakak buatku. Dia selalu menjaga, melindungi dan memperhatikanku. Dia juga tidak keberatan mendengarkan cerita-ceritaku yang mungkin sebenarnya membosankan baginya. Dia selalu ada untukku dan tanpa kusadari aku makin bergantung padanya.

Namun ada satu gambar masa lalu yang terkadang muncul dan cukup membuatku gusar. Hari itu ayah sedang pergi ke luar kota. Aku pulang kuliah lebih cepat karena tidak ada dosen. Rumahku sepi, siang-siang begini ibu pasti sedang asyik membaca buku di kamarnya sementara Arion tentunya masih di kantor. Aku masuk ke rumah tanpa mengucap salam dan langsung menuju dapur untuk mengambil minum.

Perasaanku seketika berubah menjadi aneh ketika aku melihat pemandangan di teras belakang yang berhadapan dengan dapur. Tampak seorang pria dan seorang wanita sedang berpelukan. Aku kenal betul mereka. Ya, mereka adalah Arion dan ibuku. Aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan aneh itu.

Beribu pertanyaan bergantian menyusupi benakku. Tapi pertanyaan terbesarnya adalah, kenapa mereka berpelukan? Aku mereka-reka sendiri jawaban yang masuk akal untuk pertanyaanku itu. Aku tahu ibuku sudah menganggap Arion sebagai anaknya sendiri jadi mungkin saja pelukan itu adalah pelukan antara ibu dan anak. Seperti yang biasa terjadi antara aku dan ayah.

Aku memutuskan untuk meyakini jawaban itu meskipun masih terasa ada yang mengganjal di hatiku. Sepertinya ada jawaban lain yang lebih tepat untuk semua itu. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, menyangkal pikiran-pikiran negatif yang mencoba menguasaiku. Aku percaya pada mereka berdua, terutama ibuku.

Kukubur dalam-dalam rasa curiga yang berusaha mengintip. Kulupakan semua seolah aku tidak pernah melihat apapun. Aku menjalani hidup dengan normal, bahagia seperti sebelumnya.

Waktu terus berlalu, pertanyaan itu kadang muncul kembali. Namun hingga detik ini tidak pernah sekali pun aku menanyakannya, pada Arion apalagi ibu. Aku menganggapnya sebagai sebuah pertanyaan konyol. Atau mungkinkah sebenarnya aku terlalu takut mendengar jawaban yang sesungguhnya dan mungkin akan merusak semua yang telah terbangun indah ini?

Kembali

Bibirnya begitu dekat dengan milikku. Aku bisa merasakan hangat napasnya di wajahku dan itu membuat jantungku lepas irama. Lima tahun mengenalnya, belum pernah ia sedekat ini. Arion adalah pria yang sangat menghormati wanita. Kontak fisik yang terjadi di antara kami paling jauh adalah genggaman tangan, untuk menuntunku atau menguatkanku.

Namun kini, bibir kami hampir bersentuhan. Di dalam mobil yang sempit ini. Hanya ada aku dan dia, berdua dalam debaran yang menghentak dada kami masing-masing. Aku menelan ludahku, menanti apa yang akan dia lakukan setelah bibir kami berhadapan. Apakah ia benar-benar akan menciumku?

Tidak. Ia menarik tubuhnya kembali, bersandar pada jok mobil di belakang kemudi. Hatiku mencelos, harus aku akui itu. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku begitu ingin merengkuhnya dan mengatakan padanya bahwa aku adalah miliknya. Tidak perlu bertanya-tanya lagi, hatiku sudah lama kuserahkan padanya. Tapi lagi-lagi aku tidak boleh egois.

Aku mengalihkan pandanganku pada bangunan bergaya Itali, Soriano Trattoria, di hadapanku. Arion menyuruhku kembali dan menyelesaikan apa yang belum selesai antara aku dan Banyu. Agar tidak ada kenangan yang terbawa pulang. Haruskah?

Aku menimbang-nimbang sejenak keputusan apa yang harus kuambil. Kembali ke dalam trattoria itu atau tetap di dalam mobil dan memaksa Arion membawaku pulang. Tanganku perlahan bergerak ke pegangan pintu lalu membukanya. Arion menoleh, mata kami beradu sejenak. Ia tersenyum untuk meyakinkanku.

Akhirnya aku pun turun dari mobil. Menapaki aspal di lapangan parkir selangkah demi selangkah menuju pintu trattoria. Perlahan dan goyah. Pikiranku bercabang ke dua nama di dua tempat yang berbeda. Banyu di depanku, Arion di belakangku.

Aku berhenti di depan pintu trattoria. Dari tempatku terlihat Roberto sedang melayani pengunjung restoran, sementara Banyu tidak tampak. Justru bayangan Arion lah yang tampak di mataku, terpantul melalui pintu kaca di hadapanku. Ia duduk memandangiku, tampak begitu pasrah dengan apapun keputusanku.

Arion….

Tidak, yang aku cari tidak ada di depanku. Aku bergegas berbalik menuju mobil Arion. Aku masuk ke dalam mobil tanpa bicara sepatah-kata pun. Arion mengernyitkan dahinya, menatapku bingung.

“Kenapa kembali?” tanyanya. Ada kehati-hatian yang aku tangkap dalam nada bicaranya.

Aku menundukkan kepalaku sambil memainkan restleting tasku untuk mengusir perasaan yang berkecamuk dalam hatiku.

“Aku tidak peduli pada masa lalu. Yang aku pedulikan adalah apa yang ada di masa sekarang dan mungkin akan jadi masa depanku. Kamu.”

Entah dapat kekuatan dari mana hingga aku bisa mengungkapkan semua itu pada Arion, tanpa keraguan sedikit pun. Ya, akhirnya aku kalah pada keegoisanku. Tapi, bukankah cinta memang egois?

Ia meraih tubuhku dan membawaku ke dalam dekapannya. Hangat dan nyaman. Dikecupnya puncak kepalaku lalu ia mengangkat wajahku. Matanya menjelajahi mataku sedalam-dalamnya. Kupejamkan mataku begitu bibirnya menyentuh bibirku, lembut.