But I Don’t Love You Anymore

Vivi’s Song Pick : Sara Bareilles – Brave

Beep… Beep… Beep…

Teriakan klakson mobil yang memekakkan telinga membuatku cepat-cepat memulaskan lipstik di bibirku. Aku bergegas mengambil tas kerjaku dan berlari keluar dari rumah kontrakanku. Mobil Yovie sudah terparkir di depan pagar rumah. Buru-buru kupakai sepatuku lalu melangkah secepat yang aku bisa menuju mobilnya.

“Lama banget sih!” semprotnya begitu aku mendudukkan pantatku di atas jok penumpang di bagian depan kabin.

Wajah Yovie tampak kusut. Matanya merah dan rambutnya berantakan. Aku paling benci melihatnya dalam keadaan seperti ini namun aku tidak pernah berani mengungkapkan ketidaksukaanku.

“Maaf. Tapi ini kan masih seperempat jam lebih awal dari biasanya,” ujarku sambil menutup pintu mobil.

“Berani protes lo? Masih untung gue jemput!” bentaknya seraya menoyor kepalaku.

Aku memilih diam. Dua tahun bersamanya cukup untuk membuatku tahu betul sikap bagaimana yang harus aku ambil di saat-saat seperti ini. Mobil Yovie mulai melaju dan aku memakukan pandanganku pada jalanan di balik jendela mobil. Keheningan pun mengisi kabin sepanjang perjalanan menuju kantorku.

“Sepi banget sih! Nggak bisa ngomong ya?” protesnya beberapa lama kemudian.

Aku yang tersentak oleh suara kerasnya yang tiba-tiba, segera berusaha mencari bahan pembicaraan untuk meredam amarahnya.

“Kamu pulang pagi lagi?” tanyaku dengan intonasi selembut mungkin. Bukan pilihan bagus namun hanya itu yang bisa terpikir olehku.

“Ish, sekalinya ngomong nggak penting gitu!” sungutnya. Ia lalu menyalakan CD Player dan menyetel volumenya sampai batas tertinggi. Musik hip-hop mengalun dari situ.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kata orang aku ini bodoh karena mau saja menerima perlakuan sekasar ini selama dua tahun. Aku pun tidak mengerti kenapa aku masih bertahan di sisinya. Setiap kali aku berniat menyudahi semua ini dan meninggalkannya, aku selalu mengurungkan niatku kembali karena luluh oleh perhatian-perhatiannya. Yovie memang bermuka dua. Di suatu saat ia sangat kasar namun di saat lain ia bisa jadi begitu lembut dan romantis. Jika memang bodoh adalah satu-satunya sebutan yang cocok untukku, aku menerimanya.

Yovie menghentikan mobilnya di tepi jalan di depan gedung perkantoran tempatku bekerja.

“Makasih ya,” ucapku singkat.

Aku baru saja hendak membuka pintu mobil saat ia menarik tubuhku ke dekatnya lalu mencium bibirku dengan paksa sementara tangannya mulai bergerak menyusuri tubuhku. Aroma alkohol menguar dari mulut dan tubuhnya. Aku harus mendorong tubuhnya untuk menghentikan aksinya. Dahinya berkernyit, kesal karena aku menolak memuaskan nafsunya.

“Pulang kantor langsung ke apartemenku,” perintahnya tanpa menatapku.

Aku terdiam sejenak. Kumatikan CD Player di hadapanku. Ia tampak terkejut dan berniat memrotes aksiku namun aku buru-buru mendahuluinya bicara.

“Maaf, aku nggak bisa ke apartemenmu malam ini, besok malam, lusa, ataupun hari-hari lainnya. Kamu juga nggak perlu jemput dan antar aku ke kantor lagi mulai besok. Hubungan kita selesai sampai di sini.” Entah dapat kekuatan dari mana sehingga aku bisa melontarkan keputusan ini tanpa goyah.

“Apa-apaan sih? Kamu kan tahu kalau aku cinta sama kamu,” rayu Yovie untuk menahanku.

Aku tersenyum padanya. Kubelai pipinya dengan lembut yang kemudian disambut dengan kecupan di tanganku.

“But I don’t love you anymore,” ujarku tegas.

Tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lagi, aku turun dari mobil. Jika masih ada yang menyebutku bodoh, aku tidak akan menerimanya lagi.