Takut

Belakangan ini aku sering banget sesak napas. Sering aku nggak kuat mandi dan terpaksa makan sambil berbaring karena sesak napas bikin aku nggak kuat duduk. Udah bolak-balik ke dokter, minum obat sesak setiap hari, tapi nggak ada hasilnya malah rasanya aku semakin lemah. Capek rasanya.

Tapi selain rasa capek, ada perasaan lain yang lebih menghantuiku. Takut. Aku bukan takut nggak akan bisa berumur panjang seperti yang udah dokter voniskan. Aku juga bukannya takut pada rasanya sulit bernapas. Bukan.

Aku takut pada perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi dalam hidupku. Aku takut pada banyak hal yang mungkin nggak akan bisa aku lakukan lagi. Aku takut akan jadi benar-benar lumpuh. Terpenjara di balik empat sisi tembok, terpisah dari dunia luar. Aku takut pada akhirnya impian-impian yang selama ini jadi alat bantu hidupku akan jadi sekadar lelucon yang nggak akan pernah jadi nyata. Aku takut, dan aku pun semakin sesak.

Jadi teman atau siapapun yang baca tulisanku ini, aku mohon kalian sudi menyempatkan diri untuk sejenak mendoakan aku. Agar Tuhan berkenan memberi tubuh dan jiwaku kekuatan. Agar aku bisa merajut hari demi hari untuk mewujudkan impian-impianku. Sebelum akhirnya hari terakhirku itu tiba.

Rasa Tidak Perlu Judul

Seperti kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Napas saya sesak. Bukan, kali ini bukan karena penyakit langganan yang dulu hobi manpir. Obat dokter hanya akan jadi sarana pembuangan uang yang percuma.

Napas saya sesak. Karena begitu banyak kata-kata yang tertimbun di dalam. Tidak tahu harus dikeluarkan ke mana dan dengan cara apa. Semua telinga sibuk mendengarkan ocehannya sendiri. Sementara telingaku dipaksa mendengar kebisingan itu.

Telinga siapa yang mau mendengar? Tanpa menghakimi. Tanpa menggurui. Hanya bersedia menjadi tempat rebahan kata-kata yang tertahan di ujung tangis ini.

Saya tidak perlu jalan keluar. Saya tidak perlu penghiburan. Saya hanya minta segenggaman tangan dan sesungging senyuman. Lalu tanpa harus bicara, saya tahuu saya dikuatkan.

OST. Asuka

Asuka adalah drama Jepang yang tayang di TV7 beberapa tahun yang lalu (lupa tepatnya kapan). Musik yang menjadi lagu pengiring drama tersebut begitu menarik perhatian saya. Dan di suatu senja, saat secara tidak sengaja saya melihat siluet seseorang yang disirami cahaya senja, terciptalah bait demi bait lirik pengisi musik instrumental ini. Inilah lirik yang saya buat beberapa tahun lalu. Agar bisa lebih menghayati, dengarkan musik yang ada di video di bawah ini saat membaca liriknya ^^

Senja

Terasa berat di jiwa.
Tangis dan lara dalam hati.
Ingin kau hapuskan beban yang ada.
Namun terasa kian sesak.

Ketika senja menyapa.
Lepaskan semua yang kau rasa.
Bayangkanlah cinta yang engkau impi-impikan.
Hadir memeluk dan membelai.

Biar hangatnya senja.
Membuatmu tenang.
Biar damainya senja.
Mengiringi tiap napasmu.
Merasuki hatimu.

Biar berlalu bersama senja….

http://www.youtube.com/watch?v=a56xW74DEmA&feature=youtube_gdata_player

Dilarang Bicara Cinta!

Saya nggak pernah suka bicara tentang cinta dan pria di depan orang lain, bahkan di depan orangtua dan keluarga saya. Bukan karena saya merasa risih atau malu tapi karena reaksi yang saya terima dari mereka. Kadang, saya lupa tentang kondisi fisik saya dan itu membuat saya merasa sama dengan gadis-gadis lain, termasuk dalam urusan cinta dan pria. Akhirnya saya jadi sering terbawa suasana dan ikut-ikutan membicarakan dua hal itu di depan mereka. Dan meskipun saya tahu reaksi yang akan saya dapatkan hanyalah reaksi basa-basi, saya tetap merasa kecewa.

Saya nggak mengada-ada, saya benar-benar bisa merasakannya. Contoh yang paling sederhana adalah ketika saya menghadiri acara kumpul keluarga besar. Seluruh sepupu yang belum menikah pasti mendapat jatah pertanyaan seperti, “pacarmu mana?” atau “kapan nikah?” dari para om dan tante. Tapi rupanya mereka selalu lupa memberikan jatah saya. Dan satu-satunya pertanyaan yang saya dapat adalah “Rina sehat kan?”.  Di saat perempuan-perempuan lain sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, saya justru begitu ingin mendapatkannya.

Contoh lain adalah ibu saya. Sekali pun beliau nggak pernah menasehati saya tentang cinta, pria dan pernikahan. Namun saat ada sepupu yang datang ke rumah, beliau nggak pernah melewatkan kesempatan untuk menasehati mereka tentang ketiga hal tersebut.

Saya sedih, sekaligus lelah karena harus berjuang sendirian untuk meyakini makna dari kalimat “tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”. Saya sedih sekaligus lelah.

Namun setiap kali saya merasa lelah, saya mengingat seorang wanita yang nggak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan saya, dengan usia perkenalan yang bisa dihitung dengan jari. Dengan tiba-tiba dia mendoakan saya agar Tuhan mengirimkan jodoh yang baik, pintar, agamanya bagus, tampan, kaya hati dan materi, dan yang paling penting menyayangi saya dan keluarga saya. Saya nggak bisa berkata apa-apa lagi selain mengamini doa itu. Saya benar-benar merasa terharu oleh ketulusan wanita itu. Saya nggak pernah membicarakan masalah pribadi dengannya apalagi sampai memintanya mendoakan saya tentang hal tersebut.

Dia percaya saya pun berhak mendapatkan apa yang perempuan lain dapatkan. Dan keyakinannya itu menjadi kekuatan saya untuk tetap berpijak pada keyakinan saya akan kebesaran Tuhan.

What Will I Be In The Next Ten Years?

Sepuluh tahun yang akan datang…. Bukan waktu yang lama dan juga bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun yang akan datang pastinya saya sudah berumur 35 tahun dan tentunya ada banyak hal yang bisa berubah dalam hidup saya. Izinkan saya berkhayal sejenak tentang hidup saya di masa sepuluh tahun yang akan datang. What will I be? Penulis sukses? Pastinya. Ukuran sukses yang saya maksud di sini bukanlah berapa banyak buku yang saya tulis atau berapa copy yang terjual, melainkan berapa banyak kebaikan yang bisa saya hasilkan dari kata demi kata yang saya tulis.

Satu impian saja rasanya belum cukup memuaskan perempuan Leo yang ambisius ini (baca : saya). Saya masih punya tiga impian lagi yang jauh lebih besar. Pertama, saya ingin menjadi pemilik dari sebuah toko buku di mana sebanyak 80% dari jumlah karyawannya adalah para penyandang disabilitas. Saya ingin memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah pada teman-teman penyandang disabilitas sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu bekerja dengan baik selayaknya masyarakat normal.

Kedua, saya ingin bisa tersenyum bahagia melihat ibu dan orang-orang di sekeliling saya yang sangat saya sayangi sehat dan bahagia.

And last, I wanna be a good partner for my future husband 😉

Saya masih punya waktu sepuluh tahun untuk mewujudkannya. Saya yakin dengan usaha yang teguh, sepuluh tahun yang akan datang saya akan menjadi seperti apa yang saya inginkan. Tentunya diiringi dengan doa agar Tuhan sudi memberi saya kesempatan untuk mewujudkannya.

 

Questions About Life and Death

“No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new.” -Steve Jobs.

Entah kenapa berita meninggalnya Steve Jobs, ex CEO Apple pagi ini memberi pengaruh yang cukup besar pada perasaanku. Bukan rasa kehilangan karena toh aku sebenarnya nggak terlalu mengenal sosok dan cerita hidup Jobs. Berakhirnya masa tugas Jobs di dunia ini membuat aku merenungi arti hidup dan kematian. Seorang Steve Jobs yang begitu sukses dan kaya, dikagumi dan dijadikan role model bagi banyak orang, pada akhirnya berakhir juga pada sebuah fase yang disebut kematian.

Jadi sebenarnya apa tujuan kita sibuk kesana-kemari mencari kesuksesan, materi dan reputasi, bila pada akhirnya semua itu akan lenyap ditelan kematian? Lalu apa tujuan Tuhan menaruh kita di atas muka bumi ini dengan dilengkapi segala akal dan juga ketamakan bila Tuhan hanya akan memanggil kita semua suatu hari nanti dan menyuruh kita melepaskan semua yang telah kita miliki di dunia ini? Apakah semua yang kita lakukan ini hanyalah sebuah kesia-siaan atau di ujung sana nanti akan ada sebuah penjelasan yang membuat kita ikhlas dan nggak menyesali hidup ini?

Aku cuma berusaha percaya bahwa Tuhan yang mengaku tidak menyukai sesuatu yang sia-sia, tentunya nggak menciptakan kita hanya untuk sekadar numpang bernapas di dunia ini. Ada sebuah misi yang diembankan pada masing-masing dari kita. Apa misinya, aku juga nggak tahu. Cuma satu yang bisa aku dan kita semua lakukan yaitu menjalani hidup ini sebaik-baiknya, sesuai dengan apa yang hati kita tuntunkan. Dan pada akhirnya, saat tiba giliran kita mengecap manisnya kematian, nggak ada lagi penyesalan yang tersisa dalam hembusan napas terakhir kita.

RIP Steve Jobs 06-10-2011.

The First Surprise of My 25 Years

24 Juli 2011. Sespesial-spesialnya hari buatku. Rasanya semua kebahagiaan tumplek blek jadi satu hari Minggu itu. Launching Mata Pena, ketemu kru Mata Pena sampai yang paling bikin speechless adalah aku dipertemukan sama penulis idolaku, Mahir Pradana. Bener-bener nggak bisa ngomong apa-apa dan kayaknya Mahir cukup BT karena udah datang jauh-jauh malah dicuekkin sama fansnya. Gomen ne, Mahir-Senpai 😦 Mudah-mudahan Mahir nggak kapok ketemu aku lagi ya 😀

Aku pengin ngucapin makasih banget buat teman-teman Mata Pena; Abang, Teteh, Danis dan Kak Chu yang udah nyiapin beautiful surprise ini. Bersyukur sekali bisa kenal kalian semua dan berjuang bersama untuk mewujudkan mimpi kita bersama. Semoga Mata Pena semakin berkembang dan hubungan kekeluargaan kita juga semakin kuat 🙂

Makasih juga buat Kak Dewi, Kak Novi, Rheza, dan tentunya Mahir-Senpai atas kehadirannya. I’m looking forward for our next meeting, Guys! 🙂

Me with Mahir Pradana

Mata Pena Crew with Mahir Pradana, Rheza and Kak Novi