Sosok

Aku melihatnya. Meskipun dari kejauhan, aku mampu mengenali sosoknya dengan baik. Tatapan sepasang mata itu, selalu hadir dalam mimpiku selama hampir dua tahun ini. Dan semua masih terlihat sama, masih mampu membuat jantungku kehilangan iramanya. Arion.

Ia bergeming di tempatnya, di seberang pintu masuk rumah sakit tempatku memijakkan kedua kakiku yang terasa kaku. Ia hanya menatapku dengan raut wajah yang sulit kumengerti. Bahagiakah ia bertemu denganku? Sinar matanya nengatakan sebaliknya dan itu membuat hatiku perih.

Saat ini rasanya aku ingin berlari ke arahnya. Menghambur ke dalam hangat peluknya yang telah sekian lama tidak kurasakan. Aku ingin menumpahkan seluruh rindu yang diam-diam melahap habis perasaanku. Aku ingin menagih janjinya untuk memakaikan cincin peninggalan ibuku di jariku. Namun kakiku enggan melangkah sesentipun. Seolah ada sesuatu yang menahanku untuk mendekatinya.

Seketika itu juga aku mengutuk Arion yang hanya mampu berdiam diri. Tidak rindukah ia padaku? Bukankah ia sudah berjanji untuk kembali? Sekarang ia sudah ada di sini, membiarkanku melihat sosoknya yang pernah menghilang, namun mengapa ia enggan datang mendekat? Aku ingin meneriakkan namanya namun rasanya tubuhku kompak menentang keinginanku hari ini. Bahkan lidahku pun ikut kelu.

“Nindy.”

Baru saja aku berhasil melangkahkan sebelah kakiku, panggilan itu menghentikanku. Refleks aku menoleh ke arah belakangku. Banyu datang mendekat sambil menggandeng Ayah.

“Kamu kenapa, Nin? Muka kamu kok pucat?” Senyum di wajah Banyu berganti menjadi raut cemas.

Aku hanya menggeleng. Aku tidak mungkin memberi tahu Banyu yang sebenarnya. Apalagi ada Ayah di sini. Aku tidak ingin penyakit Ayah kambuh jika mendengar nama Arion kusebut.

“Kamu yakin?” tanya Banyu memastikan.

Aku menggangguk seraya mengalihkan tatapanku darinya.

“Ya udah, kita pulang yuk! Aku ambil mobil dulu sebentar.” Banyu menyerahkan Ayah padaku lalu ia berlari kecil menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk.

Selepas Banyu pergi, aku kembali menoleh ke arah tempat Arion tadi berdiri. Kosong. Sosok itu sudah hilang sebelum aku sempat menyapanya. Aku berusaha mencari sosoknya ke segala arah namun nihil. Tidak terlihat sekilas pun sosok Arion lagi. Ia benar-benar menghilang seolah apa yang kulihat tadi adalah ilusi. Tidak, itu bukan ilusi dan aku tidak sedang berhalusinasi karena terlalu rindu. Aku yakin itu.

Arion benar-benar ada di sini. Tatapan itu nyata. Senyata detak jantungku yang belum juga kembali normal.

Arion, apakah ini bukan waktumu untuk pulang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s