Cupid Patah Hati

Aku adalah Cupid. Ya, Cupid yang merupakan Dewa Cinta itu. Tidak, aku tidak berbohong dan berpura-pura menjadi Cupid. Aku ini benar-benar Cupid. Lihat panah-panahku yang siap menembus hati sepasang manusia yang telah ditakdirkan menjadi satu.

Aku adalah Cupid. Aku bahagia menjadi dan menjalankan peranku sebagai Cupid. Saat sepasang hati bersatu, perasaanku pun ikut melambung bahagia. Kata dewa-dewa lain, aku mengemban tugas yang paling mulia. Yaitu menjaga keberlangsungan spesies manusia dengan menyebarkan cinta di antara mereka. Sampai di suatu saat, aku berbalik jadi begitu membenci peranku.

* * *

Sudah malam ke-210 sejak tidurku selalu terganggu oleh suara seorang gadis yang memanggil-manggil namaku dalam doa malamnya. Berbeda dengan orang-orang lain di kota Florencia ini yang hanya sesekali memanjatkan harapan mereka padaku, gadis di hadapanku itu tidak pernah putus menyebut namaku setiap malam. Andai saja aku punya kuasa untuk mengabulkan permohononannya begitu saja, aku pasti akan langsung mengabulkannya agar ia tidak mengganggu tidurku lagi. Sayang, aku baru bisa menembakkan panahku jika sudah ada perintah dari Cupid Besar, pimpinan para Cupid.

Dan pada malam ke 54, saat aku mulai benar-benar terganggu oleh doa gadis ini, aku nekat mendatangi gadis itu. Aku memang tidak bisa menyampaikan keberatanku secara langsung karena manusia tidak dapat melihat keberadaanku. Aku hanya penasaran, apa yang membuat gadis itu tidak mau menyerah akan doanya. Malam itu aku menyusup ke dalam kamarnya, memperhatikannya diam-diam.
Tidak ada yang aneh dengan gadis itu. Ia tampak sama dengan gadis-gadis lain di kota ini, hanya saja rambut merah ikalnya tampak mencolok. Usianya sekitar 25 tahunan dengan penampilan yang amat sederhana. Ia duduk memeluk lututnya di atas kasur dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar.

“Cupid, aku mohon panahlah hati pria kutu buku yang selalu duduk di taman saat sore hari itu.”

Kalimat itu terus ia ulang sampai lidahnya kelu. Persis sama seperti yang selalu kudengar dari pemukiman Cupid di khayangan.
Sejak saat itu aku seperti tersihir, aku selalu kembali ke kamar itu. Aku tidak lagi peduli dengan waktu tidurku yang berkurang. Memandangi gadis itu mengulang-ulang doanya sampai ia kelelahan dan akhirnya tertidur, melenyapakan seluruh rasa kantukku. Kadang aku menemukan setitik airmata di sudut matanya. Betapa aku ingin menghapusnya namun aku tidak bisa.

Hingga malam ke-210 aku masih terus kembali ke kamar itu. Aku masih terus memperhatikannya diam-diam. Rambut merah ikal itu telah menyelimuti seluruh hariku.

* * *

Aku bersiap membidikkan panahku ke arah seorang pria yang sedang duduk membaca buku di taman sore itu. Cupid Besar telah memberiku perintah. Aku hanya harus melaksanakannya. Bidikanku tidak pernah meleset, panahku melayang menuju tepat di hatinya. Tubuh pria itu tersentak. Ia menurunkan bukunya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Mata pria itu terpaku pada seorang gadis yang sedang duduk di atas rerumputan sambil menggambar di atas buku sketsanya.

Pria itu kemudian berdiri lalu melangkah perlahan mendekati gadis itu.

“Selamat sore,” sapanya.

Gadis itu mengangkat kepalanya dari buku sketsa yang sejak tadi menyita perhatiannya. Gadis itu tampak terkejut namun sedetik kemudian seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Apa yang kamu gambar? Boleh aku lihat?” tanya pria itu.

Si gadis menganggukkan kepalanya. Ia perlihatkan gambar-gambarnya pada pria yang kini ikut duduk di atas rerumputan di sampingnya. Pria itu mengagumi satu-persatu gambar di hadapannya yang kebanyakan berupa pemandangan taman di sore hari. Pria itu mengatakan sesuatu lalu sang gadis tertawa begitu bahagia. Sore ini mereka habiskan bersama.

Aku memandangi sepasang manusia itu dari kejauhan. Ada sebuah perasaan sakit yang tidak mampu kujelaskan saat melihat gadis itu tersenyum dan tertawa untuk pria itu. Rambut merah ikal itu mulai tercabut perlahan dari hatiku karena ada hati lain yang ingin ia selimuti.

Dan detik itu juga kebahagiaanku sebagai Cupid berganti menjadi derita.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s