Menunggu Lampu Hijau

image

“Leony, ayo cepetan!”

“Iya, sebentar,” aku memastikan ikatan tali sepatuku sudah kencang lalu bergegas menghampiri Shana yang sudah menungguku.

Shana menggamit tanganku dan buru-buru menarikku ke tempat di mana keempat teman kami dari komunitas penulis berkumpul. Mereka sedang menikmati keindahan dan kemegahan Jam Gadang. Aku dan Shana pun ikut menikmati pemandangan di hadapan kami ini. Shana berkali-kali berdecak mengagumi arsitektur yang layak disejajarkan dengan Big Ben di London.

“Jam-jam itu didatangin langsung dari Rotterdam lho, dan kalian tahu nggak kalau mesin penggerak jam tersebut cuma dibuat sebanyak dua unit di dunia. Satu untuk Jam Gadang, satu lagi untuk Big Ben di London,” celetuk Mas Median yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kami.

Aku dan Shana mengangguk-ngangguk seraya menatap Mas Median, berharap bisa mendengarkan lebih banyak cerita lagi darinya. Mas Median adalah penulis yang paling senior di antara seluruh anggota komunitas penulis tempatku bergabung. Ia terkenal memiliki pengetahuan yang luas.

“Kalian perhatiin deh jamnya, ada yang janggal nggak?” tanyanya sambil tersenyum.

Refleks aku dan Shana menuruti saran Mas Median untuk memperhatikan jam besar tersebut dengan lebih seksama.

“Aku tahu!” teriakku tiba-tiba, “Angka romawinya ada yang salah. Angka romawi empat seharusnya bukan begitu.”

“Leony betul! Kesalahan penulisan angka romawi itulah yang jadi keunikan Jam Gadang,” jawab Mas Median.

“Kenapa nggak diperbaiki?” tanya Shana.

“Kesalahan seperti itu udah biasa terjadi di belahan dunia kok, jadi nggak dianggap masalah besar,” Mas Median menjelaskan.

“Ceritain tentang sejarah pembangunan Jam Gadang dong, Mas,” pinta seorang teman kami.

Tanpa kami sadari, teman-teman kami sudah mengelilingi kami. Tampaknya mereka mendengar percakapan kami dengan Mas Median tadi dan mereka jadi penasaran.

“Singkat aja ya. Jam Gadang ini dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda untuk Rook Maker, sekretaris Fort de Kock atau yang sekarang kita sebut dengan Kota Bukittinggi, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitekturnya dirancang oleh Yazin dan Sutan Gigi Ameh,” Mas Median membetulkan posisi kacamatanya sejenak.

“Atap menara Jam Gadang sudah mengalami tiga kali perubahan. Pada awal didirikan, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam menghadap ke arah timur di atasnya. Lalu pada masa pendudukan Jepang, bentuk atap diubah jadi bentuk klenteng. Perubahan terakhir dilakukan setelah Indonesia merdeka, bentuk atapnta diubah jadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau,” lanjut Mas Median.

Ekspresi seluruh temanku tampak begitu serius. Mas Median memang selalu berhasil membuat semua orang hanyut dalam cerita-ceritanya sekaligus terpesona dengan luasnya pengetahuan yang ia miliki. Bahkan beberapa temanku menjulukinya dengan sebutan ‘ensiklopedi berjalan’.

Namun bagiku, Mas Median tidaklah sepandai itu. Mungkin Mas Median bisa menjelaskan dengan mudah tentang sejarah dibangunnya Jam Gadang, bahkan tentang peristiwa terbentuknya alam semesta. Tapi ada satu hal yang tidak ia ketahui di dunia ini. Yaitu, cara membaca makna dari tatapan dan senyuman yang biasa kulayangkan untuknya. Hanya untuknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s