Dilarang Bicara Cinta!

Saya nggak pernah suka bicara tentang cinta dan pria di depan orang lain, bahkan di depan orangtua dan keluarga saya. Bukan karena saya merasa risih atau malu tapi karena reaksi yang saya terima dari mereka. Kadang, saya lupa tentang kondisi fisik saya dan itu membuat saya merasa sama dengan gadis-gadis lain, termasuk dalam urusan cinta dan pria. Akhirnya saya jadi sering terbawa suasana dan ikut-ikutan membicarakan dua hal itu di depan mereka. Dan meskipun saya tahu reaksi yang akan saya dapatkan hanyalah reaksi basa-basi, saya tetap merasa kecewa.

Saya nggak mengada-ada, saya benar-benar bisa merasakannya. Contoh yang paling sederhana adalah ketika saya menghadiri acara kumpul keluarga besar. Seluruh sepupu yang belum menikah pasti mendapat jatah pertanyaan seperti, “pacarmu mana?” atau “kapan nikah?” dari para om dan tante. Tapi rupanya mereka selalu lupa memberikan jatah saya. Dan satu-satunya pertanyaan yang saya dapat adalah “Rina sehat kan?”.  Di saat perempuan-perempuan lain sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, saya justru begitu ingin mendapatkannya.

Contoh lain adalah ibu saya. Sekali pun beliau nggak pernah menasehati saya tentang cinta, pria dan pernikahan. Namun saat ada sepupu yang datang ke rumah, beliau nggak pernah melewatkan kesempatan untuk menasehati mereka tentang ketiga hal tersebut.

Saya sedih, sekaligus lelah karena harus berjuang sendirian untuk meyakini makna dari kalimat “tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”. Saya sedih sekaligus lelah.

Namun setiap kali saya merasa lelah, saya mengingat seorang wanita yang nggak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan saya, dengan usia perkenalan yang bisa dihitung dengan jari. Dengan tiba-tiba dia mendoakan saya agar Tuhan mengirimkan jodoh yang baik, pintar, agamanya bagus, tampan, kaya hati dan materi, dan yang paling penting menyayangi saya dan keluarga saya. Saya nggak bisa berkata apa-apa lagi selain mengamini doa itu. Saya benar-benar merasa terharu oleh ketulusan wanita itu. Saya nggak pernah membicarakan masalah pribadi dengannya apalagi sampai memintanya mendoakan saya tentang hal tersebut.

Dia percaya saya pun berhak mendapatkan apa yang perempuan lain dapatkan. Dan keyakinannya itu menjadi kekuatan saya untuk tetap berpijak pada keyakinan saya akan kebesaran Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s