Sebuah Janji

Aku terbangun oleh suara berisik yang berasal dari arah dapur. Kuusap kedua mataku agar bisa melihat jam di dinding kamarku dengan lebih jelas. Jam setengah enam pagi. Siapa yang pagi-pagi begini sudah sibuk di dapur? Nas, pembantu rumah tangga di rumahku tidak mungkin sudah datang sepagi ini. Atau, jangan-jangan Ayah yang….

Aku bergegas turun dari ranjangku. Dengan langkah cepat-cepat, aku keluar dari kamar dan menuju dapur. Aroma bawang putih langsung menusuk hidungku begitu aku memasuki dapur. Tampak Arion berdiri memunggungiku, sibuk dengan kegiatannya mengiris daun bawang.

“Arion?” panggilku.

Dengan ekspresi terkejut ia menoleh ke arahku.

“Kenapa kamu udah bangun?” Dahinya berkernyit seraya menatapku heran.

“Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu udah sibuk di dapur pagi-pagi begini?” Aku balas bertanya.

Ia mengembalikan perhatiannya pada daun bawang di hadapannya. Sudah lama aku tidak melihatnya berkutat dengan pisau dan alat masak lainnya. Sejak dulu aku suka memperhatikannya saat sedang memasak. Aku suka melihat keluwesan tangannya meracik seluruh bumbu dan bahan masakan hingga akhirnya menjadi santapan yang lezat. Ia memang bukan seorang koki tapi aku menganggapnya lebih keren dari koki terhebat di dunia.

“Mungkin ini terakhir kalinya aku memasakkan nasi goreng kesukaanmu dan ayahmu,” ujarnya lirih.

Aku menangkap sesuatu yang tidak beres dalam kalimatnya. Belum lagi sikap Arion yang menghindari tatapanku saat mengatakan hal itu. Perasaanku mulai gelisah.

“Apa maksudmu?” tanyaku seraya berjalan mendekatinya.

“Aku harus pergi,” jawabnya, masih menghindari tatapanku.

“Kenapa dan ke mana?”

Arion tidak menjawab. Ia malah berusaha terlihat sibuk dengan mencuci tomat dan cabai. Aku bergerak lebih dekat lagi ke arahnya.

“Apa karena ucapan ayah semalam? Kamu sakit hati karena itu? Arion, ayah sedang sakit dan apa yang terjadi semalam hanyalah halusinasi ayah,” aku berusaha bicara dengan nada setenang mungkin.

Ia tetap diam. Tangannya terus menggosok tomat yang sebenarnya sudah bersih itu.

“Arion!”

Aku merebut tomat dari tangannya dan mematikan keran air. Kuputar paksa tubuhnya menghadapku. Ia tidak melawan namun kepalanya tetap tertunduk.

“Atau jangan-jangan… apa yang ayah ucapkan itu… benar?” tanyaku hati-hati. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya menganggukkan kepalanya atau mendengar kata ‘iya’ dari mulutnya.

Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku dengan kedua matanya yang memancarkan keteguhan namun juga meneduhkan.

“Nindy…”

Refleks aku menutup telingaku dengan  kedua tanganku sebelum Arion melanjutkan kalimatnya. Tidak, aku tidak ingin mendengarnya. Aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Aku bisa menebaknya dari ekspresi wajahnya dan juga caranya menyebut namaku. Aku menggelengkan kepalaku seraya mundur selangkah.

“Jangan teruskan. Jangan bicara apa-apa lagi,” suaraku bergetar hebat.

“Saat kebakaran itu terjadi, aku tidak bisa menyelamatkan ibumu. Itu sama saja dengan aku telah membunuhnya,” Arion nekat melanjutkan kalimatnya.

“Kebakaran? Ibuku meninggal karena kecelakaan, kan?”

Aku makin tidak mengerti. Kenapa semua harus jadi semisterius ini? Ayah dan Arion, jadi selama ini mereka merahasiakan penyebab kematian ibuku dariku? Tapi untuk apa?

Aku mundur selangkah lagi. Perlahan Arion maju dan meraih tanganku. Aku berusaha melawan tapi cengkeramannya begitu kuat.

“Aku akan menjelaskan semuanya,” ujarnya tegas.

Ia menuntunku ke meja makan dan menyuruhku duduk di salah satu kursi. Aku pasrah, kuikuti semua perintahnya. Ia lalu duduk di kursi di hadapanku. Kami sama-sama terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan mulai bicara.

***

Kami berdua terdiam. Aku tenggelam dalam pikiranku sementara Arion sepertinya sedang memberiku kesempatan untuk memahami semuanya. Ia sudah menceritakan rahasia yang tidak kuketahui selama bertahun-tahun. Aku cukup kecewa namun alasan yang ia berikan membuatku mau tidak mau harus memakluminya. Dan kini ia bilang ia harus pergi untuk menuntaskan apa yang belum sempat dituntaskan oleh ibuku.

“Kalau begitu, ayo kita lakukan sama-sama. Kita menikah dan melaksanakan rencana ini bersama,” usulku tiba-tiba.

Mata Arion membulat begitu mendengarnya. Cepat-cepat ia menggelengkan kepala.

“Tidak! Aku nggak mau membawa kamu dalam masalah ini,” tolaknya.

“Tapi ini menyangkut keluargaku. Aku nggak mungkin berdiam diri dan membiarkanmu berjuang sendirian,” aku melemparkan argumen terbaikku.

Arion menggenggam tanganku, “Serahkan ini padaku. Kamu bisa mempercayaiku, kan?”

Suaranya terdengar begitu lembut. Aku tahu ia sedang memanfaatkan kelemahanku yang mudah takluk oleh kata-katanya. Dan aku memang sudah setengah takluk saat ini. Tapi aku tidak bisa membiarkannya mengorbankan dirinya demi keluargaku. Apa yang akan ia hadapi bukanlah sesuatu yang kecil dan mudah dikalahkan.

“Kamu tahu aku selalu mempercayaimu, tapi kali ini…”

“Aku tidak akan bisa menghadapimu sebelum aku membayar hutangku pada ibumu. Kamu tega membiarkan batinku tersiksa setiap hari?” tanyanya setelah menyela kalimatku.

Aku menunduk. Aku sudah kehabisan argumen untuk melawan keteguhan niatnya.
Arion tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Ia menaruh sebuah kotak kecil di atas meja. Kotak itu, kotak yang sama dengan kotak yang ia keluarkan saat meminangku semalam. Didorongnya kotak itu ke dekatku.

“Aku mengembalikan cincin ini ke tempat yang seharusnya,” ucapnya.

Lalu ia bangkit dari kursinya.

“Aku pergi,” pamitnya seraya menepuk pundakku pelan.

Aku membiarkannya pergi begitu saja. Lankah kakinya terdengar makin lama makin jauh. Namun pandanganku yang tertuju pada kotak di hadapanku membuatku menyadari sesuatu. Membiarkannya pergi tanpa ada jaminan ia akan kembali rasanya tidak adil buatku. Aku harus membuatnya merasa berhutang padaku sehingga ia pasti akan berusaha keras untuk kembali.
Aku segera mengambil kotak itu dan mengejarnya ke pintu depan.

“Arion,” panggilku.

Aku langsung melesakkan kotak itu ke dalam genggamannya begitu ia membalikkan tubuhnya.

“Belum saatnya kamu mengembalikan cincin itu. Bawa itu bersamamu dan kembalikan saat urusanmu sudah selesai. Ingat, kamu  harus mengembalikannya. Tidak peduli seberapa pun lamanya, kamu tetap harus mengembalikannya.”
Aku berusaha menjaga nada suaraku agar tidak bergetar sedikitpun, meskipun air mata di pelupuk mataku sudah mendesak ingin keluar.

Arion menunduk memandangi kotak dalam genggamannya. Lalu sedikit demi sedikit seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Aku pasti kembali,” janjinya seraya menatapku dengan sepasang mata yang pasti akan begitu kurindukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s