Pria yang Melamarku Adalah Pembunuh

“Astari!”

Suara teriakan yang berasal dari dalam rumah itu mengejutkan kami berdua. Aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Arion. Tanpa mempedulikan cincin yang terjatuh sekali lagi, aku langsung berlari menghambur masuk ke dalam rumah. Aku bisa mendengar suara langkah kaki Arion mengikutiku.

“Astari!” teriakan itu terdengar lagi.

Ayah! Teriakan ayah itu menandakan sebuah ketidakberesan tengah terjadi. Aku bergegas membuka pintu kamar ayah yang tidak terkunci. Sejak ayah sakit aku tidak pernah mengijinkan ayah mengunci pintu kamarnya. Untuk menghindari itu, aku sengaja menyimpan kunci kamar ayah.

Bau menyengat menyapa penciuman kami begitu pintu kamar terbuka. Ayah tampak sedang berdiri di samping ranjangnya dengan raut wajah bingung. Aku melirik kasur ayah sekilas, noda lebar berwarna kekuningan mengotori seprainya. Perlahan aku menghampirinya. Kubuat sikapku agar tampak setenang mungkin.

“Ada apa, Ayah?” tanyaku lembut.

“Astari mana? Ibumu di mana?” tanyanya dengan panik.

“Oh, ayah buang air? Tidak apa-apa. Ayo, kita ke kamar mandi dulu, Yah.”

Aku bermaksud memapahnya ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar namun ayah mendorongku menjauh.

“Panggil ibumu. Biar ibumu saja yang bersihkan,” perintahnya.

“Ibu tidak ada. Biar aku yang bersihkan, sama saja,” ujarku dengan tetap menjaga intonasi suaraku agar tetap lembut.

Aku kembali menggandeng tangannya namun ayah menepisku.

“Apa maksudmu ibumu tidak ada? Kemana dia malam-malam begini?” Nada suara ayah terdengar meninggi.

Aku merangkulnya sambil mengusap-usap punggungnya.

“Ibu sudah pergi menemui Tuhan dua tahun yang lalu, Ayah,” bisikku.

Dengan kasar ayah mendorong tubuhku. Aku mundur beberapa langkah dengan sedikit terhuyung. Beruntung, Arion dengan sigap menangkap tubuhku sehingga aku tidak terjatuh.

“Jangan bercanda kamu!” bentaknya. “Mana mungkin…”

Ayah menggantung kalimatnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan tatapannya tajam ke arah Arion.

“Pembunuh!” tunjuknya.

Mata Arion terbelalak. Ia tampak begitu terkejut dengan tudingan ayah itu. Aku pun tidak menyangka. Selama ayah mengenal Arion, tidak pernah sekalipun ayah bersikap kasar pada Arion.

“Ayah, ini Arion. Dia bukan pembunuh,” aku berusaha menyadarkan ayah.

Ayah menggelengkan kepalanya, “Dia yang telah membunuh Astari! Dia lah pembunuhnya! Pergi! Pergi dari sini!”

“Ayah, jangan begini….” bujukku.

Tubuh ayah terlihat makin tegang, wajahnya pun kini memerah penuh amarah.

“Pergi!” usirnya lagi.

Aku menoleh ke arah Arion yang hanya bisa berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi. Meskipun kondisi ayah tidak sehat, tuduhan ayah itu pasti tetap terasa menyakitkan baginya.

“Arion, keluarlah dulu,” pintaku, demi ayah dan juga demi perasaan Arion sendiri.

Aku harus mengulang permintaanku sampai tiga kali sebelum akhirnya Arion tersadar dan segera beranjak keluar dari kamar ayah. Aku pun kembali memusatkan perhatianku pada ayah. Kupeluk tubuh rentanya untuk menenangkannya.

“Dia telah membunuh Astari-ku….” raungnya.

Aku tidak menyahutinya. Kini raungannya berganti menjadi isak tangis yang memilukan. Kubiarkan ia menangis sampai luka di hatinya berangsur-angsur mereda.

Sementara itu, aku bertanya-tanya tentang maksud dari tuduhan ayah pada Arion tadi. Apakah itu hanya halusinasi ayah? Atau mungkinkah tuduhan itu adalah bagian dari memori ayah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s