Tentang Kamu

Suaramu. Ya, suaramu yang membuatku jatuh cinta padamu, bukan wajahmu. Saat itu kamu sedang membicarakan buku pertamamu sambil bersenda-gurau dengan penyiar radio yang selalu menjadi teman setiaku tiap Minggu. Namamu baru pertama kali kukenal. Tulisanmu belum pernah sekalipun kubaca. Apalagi wajahmu, tak terbayang segaris pun. Namun seolah kamu baru saja merapal mantra yang membuat hatiku bergetar. Hanya sebuah getaran kecil namun namamu selalu kuingat.

Aku tidak pernah mencari bukumu, bukumu lah yang menemukanku. Di saat aku sedang kecewa karena buku yang kucari tidak ada, tiba-tiba mataku menangkap wujud bukumu di antara tumpukan buku-buku lainnya. Tanpa pikir panjang aku mengambilnya dan membawanya pulang. Halaman demi halaman yang mempesonaku. Kamu menawarkan cerita cinta yang nyata dalam bukumu. Bukan kisah cinta happily ever after layaknya kisah Cinderella. Bukan juga kisah cinta setragis milik Romeo dan Juliet. Cinta yang kamu tulis adalah sebuah realita. Pahit, tapi memang begitulah cinta yang selama ini kukenal. Sejak halaman terakhir kututup, namamu pun melekat dalam benakku.

Terkadang hidup ini penuh kejutan. Kebetulan-kebetulan yang bisa jadi adalah sebuah pengecoh tapi bisa juga menjadi sebuah petunjuk. Aku tidak tahu kebetulan-kebetulan yang meliputi kita sebenarnya berwujud sebagai apa. Tanggal lahir yang sama, profesi yang sama, dan kebetulan lainnya yang mengejutkan sekaligus lucu. Aku pun tidak mau terjebak dalam kebetulan bermuka dua itu. Namun hati tidak pernah berbohong, namamu makin tidak bisa kuhapus.

Pertemuan pertama kita, sebuah kejutan manis dari teman-temanku. Aku terlalu bahagia hingga mulutku bisu. Kamu pun diam dan itu membuatku sedikit kecewa. Aku mengharapkanmu mendekat dan mengajakku bicara. Sayang, kamu tidak mengerti arti dari tatapan yang malu-malu kulayangkan padamu. Bukan masalah, aku tetap bahagia sampai rasanya ingin menangis. Kali ini bukan hanya suaramu dan tulisanmu. Aku resmi jatuh cinta pada sosokmu. Dan saat kamu berpamitan pulang lalu mengatakan bahwa lain kali kita akan bertemu lagi, namamu kini menjelma menjadi sebuah harapan.

Tapi kamu pergi, beberapa bulan setelah pertemuan kita. Ke tempat yang jauh, benua yang berbeda. Aku harus mrnunggu dua tahun untuk bisa memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Aku menangis tanpa kamu tahu.

Mencintaimu membuatku tampak bodoh dan lucu. Jatuh cinta padamu sebelum kita bertemu saja sudah lucu. Ditambah kenyataan bahwa aku menangisi dan merindukan seseorang yang hanya menganggapku sebagai penggemarnya. Aku pasti terlihat jauh lebih bodoh dan lucu lagi. Lalu dengan keenggananku untuk mendekatimu karena aku takut kamu ketakutan lalu akhirnya menjauh. Apalagi untuk bilang cinta. Aku hanya mampu memendamnya, entah sampai kapan. Aku memang bodoh dan lucu.

Tulisan ini pun tidak akan aku berikan padamu. Aku berharap ada kebetulan lain dalam hidup kita yang akan menghantarkan tulisan ini padamu. Aku tidak minta balasan rasa darimu. Sejak awal aku tidak mengharapkannya. Aku hanya minta satu hal darimu. Berjanjilah, setelah kamu membaca tulisan ini, jangan pergi menjauh dan jangan pula mendekat jika tidak ingin mendekat. Mengertilah perasaanku seperti aku mengerti perasaanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s