Bagaimana Jika

Suara ketukan di pintu kamarku menarikku kembali dari alam mimpi. Refleks mataku melirik jam digital di atas nakas di samping ranjangku. Tepat jam duabelas malam. Siapa sih tengah malam begini? Rutukku dalam hati.

Karena sudah hampir tertidur pulas, aku harus berusaha keras untuk bisa bangun dan membukakan pintu untuk tamu tak diundang itu. Senyuman di wajah Arion langsung menyambutku begitu pintu kamarku terbuka. Aku memandangnya dengan kesal.

“Ada apa?” tanyaku ketus.

Bukannya segera menjawab Arion malah tertawa melihat penampilanku yang acak-acakan. Aku yang dibalut piyama favoritku yang sudah lusuh dengan rambut berantakan. Meskipun sudah sering menginap di rumahku sejak bertahun-tahun yang lalu, ia belum pernah melihat penampilanku seberantakan ini. Wajahku menghangat, malu juga rasanya.

“Jangan ketawa, ah! Siapa suruh ganggu orang tidur?” sungutku.

“Iya, iya. Aku nggak ketawa lagi,” ujar Arion sambil berusaha menahan tawanya.

“Keluar, yuk!” Tiba-tiba ia menarik tanganku dan mengajakku keluar.

“Eh, kemana? Ngapain?” protesku.

“Ada yang mau aku tunjukkin.”

Dengan wajah merengut aku pun akhirnya pasrah mengikutinya. Rupanya ia membawaku ke halaman belakang. Mataku menjelajahi seluruh sudut halaman, mencari-cari apa kiranya yang akan ia tunjukkan padaku. Aku tidak menemukan apapun. Semua tampak sama seperti sebelumnya. Sampai saat ia mengangkat sebuah kue tart kecil dari atas meja di teras. Lilin angka 25 menyala di atasnya.

“Selamat ulang tahun, Nindy,” ucapnya seraya mendekatkan kue itu padaku.

Oh, ini hari ulang tahunku! Begitu sibuknya aku dengan urusan ayah sampai-sampai aku melupakan hari ulang tahunku sendiri. Kalau tidak ada Arion, hari ulang tahun hanya akan menjadi hari yang aku lewati seperti biasanya.

“Tiup lilinnya. Jangan lupa make a wish dulu,” ujarnya memecah lamunanku.

Kutiup sepasang lilin yang melambangkan usiaku kini tersebut. Sebelumnya aku memohon tiga permintaan pada Tuhan.  Pertama, agar Arion selalu di sisiku. Kedua, agar Arion selalu di sisiku. Dan ketiga, agar Arion selalu di sisiku. Aku tertawa dalam hati mengingat kelakuan konyolku itu.

Arion meletakkan kembali kue tart itu di atas meja.

“Hadiahnya cuma kue? Tidurku udah terganggu dan aku cuma dapat kue?” Aku berpura-pura kesal padanya.

Ia tertawa kecil lalu merogoh saku kanan celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah keluar bersama tangannya.

“Ini bukan hadiah dariku,” ujarnya seraya membuka kotak itu perlahan.

Tampak sebuah cincin bermata rubi di dalamnya. Cincin itu… Aku sepertinya sudah pernah melihat cincin itu sebelumnya. Tapi aku tidak bisa mengingat di mana aku melihatnya. Aku menatap cincin itu dan Arion secara bergantian.

“Ini milik Nyonya Astari, ibumu. Beliau menitipkannya padaku untuk diberikan padamu di ulang tahunmu yang ke-25.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bayangan ibuku saat mengenakan cincin itu di jari manisnya memenuhi kepalaku. Ibu tidak memakainya setiap hari, hanya pada momen-momen tertentu. Ibu bilang cincin itu terlalu berharga. Bukti cinta dari ayah. Air mata menggenangi pelupuk mataku.

“Beliau juga menitipkan dirimu padaku,” sambungnya.

Aku menatapnya tidak mengerti. Arion mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan meraih tangan kiriku.

“Menikahlah denganku. Seperti yang ibumu harapkan,” ujarnya lirih.

Aku cepat-cepat menarik tanganku dari genggamannya. Cincin yang sudah di ujung jari manisku itu terjatuh. Arion tampak terkejut dengan reaksiku. Aku menatap matanya tajam.

“Bagaimana…,” Kalimatku tergantung. Aku berusaha menelan sesuatu yang mencekat tenggorokanku.

“Bagaimana… Bagaimana jika ibuku tidak pernah memintamu untuk menikahiku?” ulangku, kali ini satu kalimat utuh.

Mata Arion membesar, tidak menyangka aku akan menodongnya dengan pertanyaan seperti itu. Jantungku memacu. Bukan karena bahagia namun karena kekecewaan yang membanjiri relung hatiku tiba-tiba. Apa yang selama ini kusangka sebagai sebuah ketulusan ternyata hanyalah bentuk dari tanggung jawabnya. Mungkin juga balas budi atas kebaikan keluargaku padanya.

“Apakah… Kamu akan tetap melakukan semua ini?” tanyaku lirih, hampir berbisik.

Ia hanya diam menatapku. Entah sedang memikirkan jawaban yang tepat atau karena ia tidak mungkin memberiku jawaban yang sebenarnya. Aku tidak peduli. Aku menatapnya lebih dalam lagi, mencari jawaban yang tidak bisa terucap oleh bibirnya.

Kepalanya tertunduk. Sementara aku masih berdiri di hadapannya tanpa mengalihkan pandanganku darinya sedetik pun.

“Aku menunggu jawabanmu,” kataku tegas.

Advertisements

One comment on “Bagaimana Jika

  1. […] “Bagaimana Jika” (@rin_hapsarina) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s