Selembar Foto

Untuk yang kedua kalinya dalam satu hari aku datang ke trattoria milik Roberto ini. Tujuanku masih sama, ayah. Namun kali ini bukan untuk menjemput ayah, melainkan untuk mencari selembar foto yang sangat berharga bagi ayah. Begitu sadar kalau foto itu tidak ada bersamanya, ia langsung diserang kepanikan hebat. Tidak ada cara lain untuk menenangkannya selain membawa pulang foto itu untuknya.

Roberto menyambut kedatanganku dengan tatapan heran. Ia tidak bertanya apa-apa, aku pun sedang tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun. Meninggalkan ayahku berdua saja dengan pembantu di rumah membuatku merasa tidak tenang. Pembantu rumah tangga berusia 20 tahunan itu pasti tidak akan sanggup menghadapi ayahku sendirian kalau-kalau serangan panik itu datang lagi. Aku harus cepat.

Mataku tertuju pada meja untuk empat orang di salah satu sudut restoran. Pemandangan yang aku saksikan di meja itu menghentikan langkahku. Sepasang pria dan wanita kini menempati meja yang beberapa jam lalu ditempati oleh ayahku. Dengan lembut si pria mencium kening perempuan yang duduk di sebelahnya. Bukan, aku bukannya iri melihat kemesraan mereka berdua. Wajah pria itulah yang membuatku mematung. Lanang Banyu.

Pria itu pernah menjadi bagian hidupku. Sepuluh tahun yang lalu, selama tiga tahun, kami selalu bersama. Kami tidak pernah benar-benar berpisah. Kami hanya saling menjauh begitu saja setelah kami sama-sama lulus SMA. Sampai akhirnya kami tidak pernah bertemu lagi hingga hari ini.

“Kamu kenapa diam di sini? Fotonya sudah ketemu?” Arion, yang mengantarku ke sini, rupanya sudah berdiri di sampingku.

“Nin, kamu kenapa?” ulangnya.

Aku cepat-cepat menggeleng, “Nggak, aku nggak apa-apa.”

Aku bergegas menghampiri meja Banyu, Arion mengikuti langkahku. Sekarang bukan saatnya bermelankolis ria dengan kenangan masa lalu. Kondisi Ayah jauh lebih penting. Namun tidak bisa kupungkiri jantungku memacu kian cepat seiring langkah kakiku.

“Maaf menggangu, apa kalian melihat selembar foto di sekitar sini?” tanyaku begitu sampai di meja Banyu.

Aku berpura-pura tidak mengenalinya. Aku tidak yakin Banyu masih mengingatku. Lagipula ada perempuan bertubuh kurus itu di sampingnya. Kalaupun Banyu masih mengingatku, mungkin ia akan tetap berpura-pura tidak mengenalku demi menjaga perasaan kekasihnya. Aku juga tidak ingin malu sendiri karena bersikap sok akrab dengannya.

Banyu menatapku sambil terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Nindy?” tanyanya tidak lama kemudian.

Rupanya ia mengingatku. Aku membentuk ekspresi terkejut di wajahku lalu tersenyum padanya.

“Banyu?”

Ia mengangguk gembira. Sementara perempuan itu hanya memandang kami bergantian. Ekspresinya seperti habis terkejut oleh sesuatu, entah apa.

“Kamu apa kabar? Udah lama ya nggak ketemu,” ucapnya membuka reuni ini.

“Aku baik,” jawabku singkat. “Kamu fotografer?”

Mataku mengarah pada perlengkapan fotografi yang ia bawa.

“Iya, sebentar lagi ada pemotretan di sini. Ini modelnya,” Banyu mengenalkan perempuan yang keningnya ia cium tadi padaku.

“Rae, ini Nindy. Nindy, ini Raina.” Ia lalu memperkenalkan kami berdua.

Aku tersenyum pada Raina yang dibalas dengan senyuman tipis olehnya.

“Itu pacarmu?” Banyu menunjuk Arion yang berdiri di sebelahku.

Aku selalu menghindari pertanyaan itu karena aku sendiri tidak tahu pasti apa posisi Arion dalam hidupku. Ia lebih dari sahabat tapi aku juga tidak membiarkannya masuk dalam wilayah pacar.

“Nin, fotonya,” bisik Arion di telingaku.

“Oh, iya. Banyu, maaf aku sedang buru-buru. Apa kamu lihat selembar foto di sekitar meja ini?” tanyaku lagi.

Banyu menggeleng, “Kamu, Rae?”

Raina juga menggelengkan kepalanya.

“Itu dia!” seru Arion tiba-tiba.

Arion menunjuk ke arah kolong meja. Aku melongok ke bawah. Betul, foto ibuku ada di situ. Dengan sigap Arion mwmbungkuk dan mengambilnya. Foto itu ia serahkan padaku.

“Kita pulang?” Pertanyaan yang lebih menyerupai ajakan dari Arion.

Aku mengangguk.

“Banyu, Raina, aku harus segera pulang. Sampai ketemu lagi ya,” pamitku.

“Oke. Senang bisa ketemu kamu lagi, Nin.”

Banyu berdiri dari kursinya lalu mendekatiku untuk memelukku. Namun aku mundur selangkah untuk mencegahnya. Ia mengerti penolakanku.

Setelah berpamitan, aku dan Arion bergegas meninggalkan trattoria itu dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Arion tidak bicara sepatah-kata pun, bahkan bertanya tentang Banyu pun tidak. Ia hanya fokus pada mobil yang dikendarainya dan kondisi jalanan yang cukup padat. Sampai kami tiba di rumah, Arion masih belum bicara juga.

Advertisements

5 comments on “Selembar Foto

  1. […] “Selembar Foto” (@rin_hapsarina) […]

  2. […] “Selembar Foto” (@rin_hapsarina) […]

  3. Nathalia says:

    nah loh! ada yg cemburu 🙂

  4. […] “Selembar Foto” (@rin_hapsarina) […]

  5. […] “Selembar Foto” (@rin_hapsarina) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s