Kembali

Bibirnya begitu dekat dengan milikku. Aku bisa merasakan hangat napasnya di wajahku dan itu membuat jantungku lepas irama. Lima tahun mengenalnya, belum pernah ia sedekat ini. Arion adalah pria yang sangat menghormati wanita. Kontak fisik yang terjadi di antara kami paling jauh adalah genggaman tangan, untuk menuntunku atau menguatkanku.

Namun kini, bibir kami hampir bersentuhan. Di dalam mobil yang sempit ini. Hanya ada aku dan dia, berdua dalam debaran yang menghentak dada kami masing-masing. Aku menelan ludahku, menanti apa yang akan dia lakukan setelah bibir kami berhadapan. Apakah ia benar-benar akan menciumku?

Tidak. Ia menarik tubuhnya kembali, bersandar pada jok mobil di belakang kemudi. Hatiku mencelos, harus aku akui itu. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku begitu ingin merengkuhnya dan mengatakan padanya bahwa aku adalah miliknya. Tidak perlu bertanya-tanya lagi, hatiku sudah lama kuserahkan padanya. Tapi lagi-lagi aku tidak boleh egois.

Aku mengalihkan pandanganku pada bangunan bergaya Itali, Soriano Trattoria, di hadapanku. Arion menyuruhku kembali dan menyelesaikan apa yang belum selesai antara aku dan Banyu. Agar tidak ada kenangan yang terbawa pulang. Haruskah?

Aku menimbang-nimbang sejenak keputusan apa yang harus kuambil. Kembali ke dalam trattoria itu atau tetap di dalam mobil dan memaksa Arion membawaku pulang. Tanganku perlahan bergerak ke pegangan pintu lalu membukanya. Arion menoleh, mata kami beradu sejenak. Ia tersenyum untuk meyakinkanku.

Akhirnya aku pun turun dari mobil. Menapaki aspal di lapangan parkir selangkah demi selangkah menuju pintu trattoria. Perlahan dan goyah. Pikiranku bercabang ke dua nama di dua tempat yang berbeda. Banyu di depanku, Arion di belakangku.

Aku berhenti di depan pintu trattoria. Dari tempatku terlihat Roberto sedang melayani pengunjung restoran, sementara Banyu tidak tampak. Justru bayangan Arion lah yang tampak di mataku, terpantul melalui pintu kaca di hadapanku. Ia duduk memandangiku, tampak begitu pasrah dengan apapun keputusanku.

Arion….

Tidak, yang aku cari tidak ada di depanku. Aku bergegas berbalik menuju mobil Arion. Aku masuk ke dalam mobil tanpa bicara sepatah-kata pun. Arion mengernyitkan dahinya, menatapku bingung.

“Kenapa kembali?” tanyanya. Ada kehati-hatian yang aku tangkap dalam nada bicaranya.

Aku menundukkan kepalaku sambil memainkan restleting tasku untuk mengusir perasaan yang berkecamuk dalam hatiku.

“Aku tidak peduli pada masa lalu. Yang aku pedulikan adalah apa yang ada di masa sekarang dan mungkin akan jadi masa depanku. Kamu.”

Entah dapat kekuatan dari mana hingga aku bisa mengungkapkan semua itu pada Arion, tanpa keraguan sedikit pun. Ya, akhirnya aku kalah pada keegoisanku. Tapi, bukankah cinta memang egois?

Ia meraih tubuhku dan membawaku ke dalam dekapannya. Hangat dan nyaman. Dikecupnya puncak kepalaku lalu ia mengangkat wajahku. Matanya menjelajahi mataku sedalam-dalamnya. Kupejamkan mataku begitu bibirnya menyentuh bibirku, lembut.

Advertisements

4 comments on “Kembali

  1. […] “Kembali” (@rin_hapsarina) […]

  2. Nathalia says:

    so sweet 🙂

  3. […] “Kembali” (@rin_hapsarina) […]

  4. […] “Kembali” (@rin_hapsarina) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s