Mawar yang Mekar

Aku berdiri bersandar pada daun pintu sambil memandangi sosok Arion. Dilihat dari sisi manapun dia tetap tampak menarik. Arion memang tidak setampan Roberto dari Soriano Trattoria yang aku yakin digilai begitu banyak wanita. Arion berbeda. Ia memiliki sesuatu yang mampu membuat siapapun betah berada di dekatnya. Ia juga mampu memacu debar jantung perempuan manapun dengan caranya sendiri. Termasuk aku.

Lihat saja pemandangan sempurna yang sedang tersaji di hadapanku. Seorang pria berkulit sawo matang sedang duduk sambil berkelana dalam pikirannya sendiri. Sungguh, aku penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Mungkinkah itu aku?

“Kamu nggak capek berdiri terus?” tanyanya tanpa menolehkan kepalanya.

Aku tersenyum tipis. Sedikit kecewa karena keasyikanku mengaguminya diam-diam, terganggu. Aku berjalan mendekati kursi rotan di sampingnya dan duduk di atasnya. Ia menyeruput coklat panas buatannya perlahan. Ia tidak suka kopi, berlawanan denganku yang begitu memuja kopi.

“Ayahmu?” tanyanya sambil meletakkan mug-nya di atas meja kecil yang memisahkan kursi kami.

“Tidur,” jawabku singkat.

Ia menatapku lama. Sementara aku menengadahkan kepalaku, menatap langit yang mulai digantungi awan mendung.

“Kamu nggak capek? Maksudku, dengan semua ini?”

Aku menghela napas setelah mendengar pertanyaan yang Arion lontarkan.

“Harus aku jawab ya?” tanyaku kesal.

Arion menggeleng, “Nggak, kamu nggak perlu jawab sama aku. Yang perlu kamu lakukan adalah jujur pada hatimu.”

“Yang Ayah punya cuma aku dan yang aku punya cuma Ayah. Kami saling membutuhkan. Yang lain-lain tidak penting lagi.”

“Termasuk kebahagiaanmu sendiri?” tanyanya. Tubuhnya condong ke arahku.

“Aku bahagia selama bisa terus menjaga Ayah.”

Ia menarik kembali tubuhnya ke posisi semula.

“Kalau begitu, ijinkan aku ikut menjaga Ayahmu,” ujarnya setengah berbisik.

“Kamu selalu membantuku menjaga Ayah.”

Arion menggeleng cepat.

“Bukan, bukan seperti selama ini. Lebih dari itu. Aku ingin menjaga kalian berdua, untuk seumur hidupku.”

Hatiku berdebar kencang. Bohong kalau aku bilang aku tidak bahagia mendengarnya. Aku suka matanya yang selalu menatapku dalam seperti saat ini. Aku suka perhatiannya yang tulus, bukan hanya untukku tapi juga untuk Ayah. Aku suka kesediaannya untuk mendengarkan semua keluh-kesahku. Aku suka kebiasaannya menghabiskan akhir pekan dengan keluargaku di rumahku. Aku suka semua tentangnya. Sejak lima tahun yang lalu.

Tapi aku tidak bisa egois. Aku tidak mungkin membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku yang kacau-balau ini, apalagi membiarkannya bertanggung jawab atas kebahagiaanku dan Ayah. Arion berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Jelas bukan denganku.

Ia masih menatapku. Menanti izin untuknya terucap dari bibirku.

“Mawarku sudah mekar,” kataku seraya memandangi mawar-mawar yang bermekaran di taman belakang rumahku.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat kekecewaan tergambar di wajahnya. Ia pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama denganku.

“Mawar-mawar itu akan tampak indah jika dibiarkanĀ  tetap di pohonnya. Jika dipetik hanya demi memuaskan keegoisan kita, keindahannya akan berangsur-angsur menghilang. Layu dan kering.”

Seperti hubungan kita, tambahku dalam hati.

Ia tidak memberi reaksi apapun. Tatapannya lurus ke depan sementara tangannya merogoh saku celananya. Sebungkus rokok ia keluarkan dari dalamnya. Ia mangambil sebatang rokok, menyalakannya lalu menghisapnya. Yang tersisa di antara kami hanyalah hening dan setetes demi setetes hujan yang mulai turun.

Lanjutan dari FF ‘Senin’ karyaku dan ‘Sekeping Puzzle’ karya Mas @momo_DM.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

5 comments on “Mawar yang Mekar

  1. […] dari “Senin” (@rin_hapsarina) – “Sekeping Puzzle” (@momo_DM) – “Mawar yang Mekar” (@rin_hapsarina) – Share this:PrintEmailFacebookTwitterLike this:LikeBe the first to like this […]

  2. […] “Mawar yang Mekar” (@rin_hapsarina) […]

  3. […] “Mawar yang Mekar” (@rin_hapsarina) […]

  4. […] “Mawar yang Mekar” (@rin_hapsarina) […]

  5. […] “Mawar yang Mekar” (@rin_hapsarina) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s