Senin

Soriano Trattoria. Lagi. Entah sudah Senin yang keberapa aku menyambangi restoran Italia ini. Tidak terhitung lagi. Jangan sangka aku adalah penggemar sejati makanan Italia. Bukan, sama sekali bukan.

Tiap datang ke restoran ini aku tidak pernah memesan makanan apapun. Hanya secangkir latte yang langsung diantarkan Roberto, owner restoran ini, padaku tanpa aku harus memesan terlebih dahulu. Ia kadung hapal semua kebiasaanku, bahkan aku pun yakin ia bisa mengikuti caraku mengangkat cangkir dan menyeruput latte-ku.

Setelah meletakkan secangkir latte di atas mejaku, Roberto akan berdiri sejenak di sampingku seraya memandang ke arah yang sama denganku. Punggung seorang pria berusia 60 tahunan dengan kombinasi warna hitam dan putih masing-masing 50 persen pada rambutnya. Pria itu duduk sendirian membelakangi kami. Matanya tertuju pada pintu restoran. Punggungnya akan menegak saat pintu tersebut terbuka namun dengan segera ia menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran kursi begitu ia melihat orang yang datang bukanlah orang yang ia harapkan.

Dia lah tujuanku selalu datang ke tempat ini. Hari yang sama, jam yang sama. Kegiatan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas hidupku. Aku tidak mengeluh. Aku melakukannya karena aku peduli pada pria itu lebih dari aku peduli pada diriku sendiri.

Seorang pramusaji menghampiri pria itu. Disodorkannya buku menu pada pria itu lalu ia bersiap mencatat pesanan di atas notes kecilnya. Pria itu menggeleng, menyerahkan kembali buku menu ke pramusaji di sampingnya. Pramusaji itu pasti masih baru. Ia belum tahu bahwa pria itu tidak akan mau memesan sebelum seseorang yang ditunggunya datang.

Seseorang itu tidak akan datang, batinku miris.

“Sebentar lagi,” ujar Roberto seraya menepuk pundakku. Akhirnya Roberto pun beranjak dari tempatnya berdiri selama beberapa menit tadi.

Ya, sebentar lagi. Aku mulai bersiap-siap. Menyiapkan hati dan kekuatan untuk menghadapi apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan.

Tiba-tiba tubuh pria itu bergetar hebat. Aku segera bangkit dari tempat dudukku. Isak tangis dari pria itu mulai terdengar. Makin lama makin kencang dan kini terdengar seperti sebuah lolongan. Beberapa pengunjung restoran yang belum pernah menyaksikan semua ini menatap pria itu dengan bingung, cemas dan juga takut. Aku bergegas menghampirinya.

“Ayah…” panggilku.

Ia menoleh ke arahku. Aku berusaha menyuguhkan senyum terbaikku untuknya.

“Ayah kenapa nangis?” tanyaku seraya mengusap pipinya yang penuh dengan air mata.

Pertanyaan yang sama di setiap Senin. Perih yang sama. Akting buruk  yang sama karena aku tidak pernah berhasil menahan sebulir dua bulir air mata yang memaksa turun di pipiku.

“Astari… Astari… Astari meninggalkan kita, Nindy….” ujarnya di sela isak tangisnya yang belum mereda.

Aku mengulurkan tanganku padanya dan memeluk tubuh tuanya erat-erat. Aku bisa merasakan getaran tubuhnya. Getaran yang sama seperti saat ia mendengar kabar duka itu untuk pertama kalinya dua tahun yang lalu. Kencan pasta yang berubah menjadi duka bahkan sebelum dimulai.

“Ibu tidak pergi. Ibu ada di suatu tempat, mengawasi kita dan ingin kita hidup bahagia. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengan Ibu,” ujarku lirih. Entah mengapa masih saja berat mengatakan kalimat itu meskipun sudah beratus kali kukatakan.

Kupeluk terus tubuh Ayah tanpa peduli sejumlah pasang mata yang memandangi kami. Getaran di tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Setelah ia benar-benar tenang, aku baru melepas pelukanku.

“Sekarang kita pulang, ya,” ajakku dengan lembut.

Ia hanya menatapku tanpa menjawab. Namun tubuhnya tidak menolak saat kupapah berjalan keluar dari restoran. Sampai Senin depan, mungkin drama ini akan terulang kembali.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

6 comments on “Senin

  1. […] #FFBerantai dimulai dari “Senin” (@rin_hapsarina) – “Sekeping Puzzle” (@momo_DM) – “Mawar yang […]

  2. […] “Senin” (@rin_hapsarina) […]

  3. […] “Senin” (@rin_hapsarina) […]

  4. Nathalia says:

    itu sebenarnya bukan ayahnya?

  5. […] “Senin” (@rin_hapsarina) […]

  6. […] “Senin” (@rin_hapsarina) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s