Payung Ungu Amela

Kuteguk sisa kopiku sampai habis. Sudah hampir jam delapan, kalau tidak buru-buru berangkat aku bisa terlambat sampai ke kantor karena terjebak macet. Pagi ini aku harus melakukan presentasi penting. Terlambat bisa membuat reputasi karirku berantakan. Kalau sampai itu terjadi, janin berusia tiga bulan dalam rahim istriku ini mau makan apa nanti.

“Aku berangkat dulu,” pamitku.

Aku bangkit dari kursi makan lalu kukecup keningnya sebelum aku melangkah menuju pintu depan. Ia pun berdiri dari kursinya dan berjalan mengikutiku.

“Mas, menurut ramalan cuaca hari ini akan hujan deras. Lebih baik kamu bawa payung daripada nanti kamu kehujanan,” nasehatnya.

Ia bergegas menuju teras. Diambilnya sebuah payung berwarna ungu dari dalam gentong keramik yang kami jadikan sebagai tempat payung. Ia berjalan kembali je arahku lalu menyerahkan payung itu padaku. Aku menerimanya dengan agak ragu.

Payung itu adalah payung kesayangan Amela, istriku. Ia sudah memilikinya sejak kami masih berpacaran. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai payung itu, entah kenapa. Mungkin karena warnanya, mungkin juga karena payung itu terlalu berat sehingga tidak nyaman dibawa. Entahlah, aku hanya tidak menyukainya.

“Makasih, ya,” ujarku.

Demi menyenangkan hatinya aku membawa payung itu. Seulas senyum lega merekah di wajahnya. Ia lalu meraih tanganku dan menciumnya.

“Hati-hati, ya. Pulangnya jangan terlalu malam, kasihan si kecil kesepian,” rajuknya seraya menempelkan telapak tanganku di perutnya.

“Iya, aku akan pulang cepat. Ayah kerja dulu ya, Sayang.” Kukecup perut Amela.

“Aku berangkat ya,” pamitku pada Amela sekali lagi.

Ia mengangguk seraya melambaikan tangannya. Dengan menenteng payung ungu milik Amela, aku melangkah pergi.

***

“Mas, jangan lupa bawa ini.”

Amela menyodorkan payung ungunya padaku. Aku buru-buru menggelengkan kepalaku.

“Malas ah, La. Bawanya repot,” tolakku.

“Tapi menurut ramalan cuaca nanti akan hujan deras lho, Mas….”

“Ah, ramalan cuaca itu bohong. Buktinya kemarin terang-benderang, mataharinya terik banget,” Aku berusaha memberinya alasan.

Ekspresi wajahnya berubah kesal. Payung dalam genggamannya itu masih ia sodorkan padaku.

“Siap-siap kan nggak ada salahnya,” omelnya pelan.

Aku merangkul tubuhnya dan mengajaknya ke teras rumah.

“Lihat tuh, mataharinya aja lagi bersinar bahagia begitu.” Jariku menunjuk ke arah matahari yang bertengger manis di langit.

Ia menatapku kesal tapi sepertinya kekecewaannya sudah mulai luruh. Kukecup keningnya dan kuelus perutnya sambil berpamitan. Namun ia hanya mengiringi kepergianku dengan sebuah anggukan.

***

Butir-butir hujan turun membasahi jalanan ini tanpa jeda. Deras, langit tumpah seluruhnya. Angin bertiup begitu kencang, membuat pohon-pohon di sekitarku terpelanting ke kanan dan kiri. Aku berteduh di halte sambil memeluk tubuhku erat-erat untuk menahan rasa dingin yang menyerang. Rumahku hanya tinggal beberapa kilometer lagi dari sini tapi terlalu nekat untuk berjalan menerobos hujan sederas ini.

Aku jadi teringat payung ungu milik Amela. Seharusnya aku tidak menolak saran istriku unttuk membawanya. Perasaan sesal menyusupi hatiku. Ekspresi kecewa Amela terbayang dalam ingatanku. Nalurinya sebagai istri yang mengkhawatirkan suaminya telah aku remehkan begitu saja.

Tiba-tiba ponselku berdering. Nama Amela tertera di layar. Ia pasti sedang mengkhawatirkanku di rumah. Ia paling cemas kalau aku sampai kehujanan karena ia tahu asmaku pasti akan kambuh setelahnya. Penyesalanku kini ditambah oleh rasa bersalah karena telah membuatnya cemas.

“Halo,” Buru-buru kujawab telponnya.

“Kamu di mana?” tanyanya dalam nada kecemasan.

“Aku di halte…”

“Ya udah, aku ke sana bawain payung,” potongnya.

“Nggak usah, aku tunggu hujannya reda aja. Aku nggak apa-apa kok,” ujarku untuk menenangkannya.

Tidak ada sahutan dari seberang telepon. Sepi.

“Halo…. Halo….”

Aku mengecek layar ponselku. Ternyata ia sudah memutuskan sambungan telepon kami. Amela pasti akan nekat datang hanya untuk membawakan payung untukku. Aku menghela napas panjang. Kali ini aku yang mencemaskannya.

Halte tempatku berteduh mulai penuh. Orang-orang yang baru turun dari angkutan umum memilih untuk berteduh lebih dulu daripada harus pulang basah kuyup.

Tidak berapa lama kemudian aku melihat sesosok perempuan bertubuh ramping dengan payung ungu di tangannya berjalan di seberang jalan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan, sepertinya ia sedang mencari-cari sosokku. Aku tertawa geli melihat apron yang masih melekat di tubuhnya. Ia pasti tadi sedang masak hidangan makan malam lalu bergegas pergi mencariku karena terlampau khawatir.

“Amela!” panggilku.

Amela menoleh dan langsung tersenyum begitu matanya menemukan sosokku. Ia bergegas berjalan menyeberang ke arahku. Payung ungunya bergerak seirama dengan gerak tubuhnya. Aku baru menyadari betapa payung ungu kesayangannya itu begitu cocok dengan kecantikannya. Ia tampak semakin anggun di bawah payung itu.

Namun semua keindahan itu harus sirna tiba-tiba. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi datang dari arah kanan, tepat di lajur yang sama di mana Amela sekarang berdiri. Amela yang terlalu terkejut oleh kemunculan mobil itu hanya bisa berdiri mematung di tempatnya. Matanya terpaku pada mobil yang terus berjalan mendekatinya itu.

“Amela! Awas!” teriakku berkali-kali.

Panik, aku berusaha menyadarkan Amela agar cepat menyingkir dari sana. Orang-orang di sekitarku pun ikut meneriakinya. Namun Amelia tidak bergerak sedikit pun. Mobil itu semakin dekat dengan tubuh Amela.

Jantungku serasa berhenti berdetak saat aku harus menyaksikan mobil itu menghantam tubuh Amela. Tubuhnya terpelanting sejauh beberapa meter. Ia kini tergeletak di atas aspal, diam tidak bergerak.

Orang-orang segera berbondong-bondong menghampirinya. Srmentara aku kehilangan daya untuk melangkahkan kakiku. Tubuhku seolah terpancang kuat di tempatku berdiri. Mengeluarkan suara pun aku tidak sanggup. Sudah begitu banyak orang mengerumuni Amela dan aku sempat menangkap seseorang mengatakan bahwa Amela sudah meninggal.

Sekuat tenaga aku seret kakiku menuju tempat Amela tergeletak. Kuterobos kerumunan orang-orang di sekelilingnya. Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas. Hatiku bagaikan teriris-iris menyaksikan kondisinya yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari kepalanya.

Aku jatuh berlutut di sampingnya. Kuraih tubuhnya yang dingin ke dalam pelukanku.

“Amela…. Amela…,” Aku memanggil namanya berkali-kali namun matanya tidak kunjung terbuka.

“Amela, bangun…”

Kubelai dan kuciumi wajahnya namun ia tetap terpejam. Airmataku jatuh tanpa bisa kubendung lagi, mengalir di pipiku bersamaan dengan air hujan. Aku mendekap tubuhnya erat-erat. Aku sadar aku telah kehilangan dia. Pemilik payung ungu yang selalu mengkhawatirkanku. Amela.

Advertisements

One comment on “Payung Ungu Amela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s