Cinta yang Menyembuhkan

Sudah hampir setengah jam aku duduk di bangku taman ini. Sendiri. Memandangi orang-orang berjalan ke sana kemari dalam irama langkah yang menggambarkan kesibukan. Suster, dokter, pasien, dan juga para penjenguk. Bukan karena lalu-lalang itu tampak menarik hingga aku tidak bisa mengalihkan mataku. Aku hanya perlu menempatkan pandanganku pada satu titik sementara otakku sedang berusaha keras mencerna perkataan dokter setengah jam yang lalu.

“Anda menderita kanker otak stadium akhir. Dan, maaf kalau saya harus mengatakan ini, usia anda hanya tinggal sebulan lagi.”

Entah untuk yang keberapa kalinya kalimat itu terngiang di telingaku. Meskipun begitu, aku sama sekali belum bisa yakin dengan perkataan dokter itu. Aku sakit kanker otak stadium akhir dan akan mati dalam waktu satu bulan? Dokter itu pasti sedang bercanda.

Aku mencoba merunut semua peristiwa yang membawaku nekat memeriksakan diri hari ini. Penyebab utamanya adalah sakit kepala yang tidak kunjung sembuh sejak sebulan yang lalu. Lalu aku pun sempat pingsan di kantor karena rasa sakit di kepalaku sudah tidak tertahankan. Tapi kalau semua gejala itu menghadapkanku pada diagnosa separah tadi, rasanya sulit untuk aku percaya. Di luar sakit kepala, kondisiku baik-baik saja. Aku bukannya seperti orang sekarat yang sedang menunggu kematian. Tidak seperti pasien yang duduk di kursi roda di seberangku itu. Tubuhnya begitu kurus seolah dagingnya telah habis sama sekali. Matanya cekung dan tatapannya redup. Bahkan ia sudah kehilangan daya untuk menopang tubuhnya agar bisa tetap duduk tegak.

Bagaimana mungkin dokter bisa memvonisku seperti itu?

Air mata di pelupuk mataku mulai merebak. Seketika perasaan  takut menyeruak di sela-sela penyangkalanku. Bagaimana jika vonis dokter itu benar? Aku masih 27 tahun. Belum punya pencapaian apa-apa. Belum menikah apalagi memiliki anak. Aku belum menemukan pangeran impianku. Aku juga belum… ah! Tuhan, tidakkah aku masih terlalu muda untuk Kau panggil? Masih begitu banyak yang ingin kuraih.

Tiba-tiba seorang pria berdiri di hadapanku seraya menyodorkan sebatang coklat padaku. Aku menatapnya penuh tanda tanya.

“Ini bisa menenangkan hatimu, ” ujarnya. Suaranya yang begitu lembut menyihirku.

Seperti dimantrai, tanganku bergerak sendiri untuk mengambil sebatang coklat dalam genggamannya. Ia lalu duduk di sisi kiriku. Ia melemparkan pandangannya ke titik di mana mataku tadi tertuju. Sementara itu, aku masih menatap pria dengan gaya rambut crew cut itu dengan heran.

“Seminggu yang lalu aku ada dalam posisimu. Rasanya kosong, terjebak di antara rasa percaya dan tidak percaya,” tuturnya tiba-tiba.

Kini aku mengerti apa maksud pria ini. Aku menunduk, menunggunya bicara lebih banyak.

“Aku berharap semua ini hanya lelucon. Atau mimpi buruk. Atau kesalahan diagnosa seperti yang sering terjadi dalam cerita sinetron. Aku berharap salah satu dari tiga kemungkinan itu ada yang benar.”

Ia menghela napasnya sebelum mulai bicara lagi.

“Tapi itu hanya harapan. Hidup tidaklah sesederhana itu,” lanjutnya.

Ia tertawa kecil. Sinis.

“Tidak ada yang lebih menakutkan dari mengetahui kapan ajal kita tiba. Rasanya semua yang kita lakukan selama hidup ini sia-sia.”

Refleks aku mengangguk, menyetujui perkataannya.

“Menangis dan kehilangan harapan pun tidak akan bisa mengubah apapun. Jadi aku putuskan untuk menikmati sisa waktu yang aku miliki dengan sungguh-sungguh. Melakukan semua yang belum pernah kulakukan. Pergi ke mana saja yang aku inginkan. Tidak perlu memikirkan orang lain. Diriku adalah raja yang harus selalu aku senangkan. Dengan begitu aku akan mati sambil tersenyum bahagia. Mau bergabung?” Ia mengulurkan tangannya padaku seraya memperlihatkan deretan  giginya yang rapi.

Aku tidak kunjung membalas uluran tangannya. Tanganku malah sibuk menarik-narik ujung kertas pembungkus coklat. Entahlah, aku belum bisa seoptimis dia. Diriku masih berduka. Jangankan untuk tertawa lebar seperti dia, menarik bibirku semili saja aku tidak sanggup.

Ia merebut coklat dari tanganku lalu membuka bungkusnya dengan sekali robekan. Setelah bungkusnya ia rapikan, ia memberikan coklat itu lagi padaku.

“Bersedih hanya akan memperpendek sisa waktu kita,” ujarnya.

Aku menerima coklat yang sudah terbuka itu lalu menggigit sedikit ujungnya. Manis menyapa lidahku begitu ia lumer di atasnya. Memang ada pahit yang mengiringi tapi seperti coklat ini, pahitnya kenyataan ini mungkin bisa kubuat menjadi manis.

***

“Kamu siap?”

Aku mengangguk meskipun aku tidak yakin apakah aku memang benar-benar siap. Sepertinya tidak akan ada kata ‘siap’ untuk terjun dari ketinggian seekstrim ini, yang ada hanya piliihan untuk loncat atau mundur.

Petugas memeriksa tali pengaman yang terpasang di tubuh kami sekali lagi. Pikiran buruk melintasi benakku, bagaimana jika ada yang luput dari pemeriksaan petugas? Aku dan Vero bisa mati lebih cepat dari vonis dokter. Buru-buru aku mengusir semua hal negatif yang mampir dalam pikiranku. Kami di sini untuk bersenang-senang, menikmati hidup yang tersisa untuk kami.

Jantungku tiba-tiba mempercepat iramanya saat petugas mengatakan pada kami bahwa semuanya sudah siap. Vero merangkul pinggangku seerat mungkin dan aku pun melakukan hal yang sama padanya. Kami mulai berhitung dan pada hitungan ketiga kami lompat bersamaan.

Kami berteriak sekuat tenaga. Semua terasa begitu cepat. Dalam sekejap ujung kepala kami sudah menyentuh permukaan danau. Tali elastis menarik tubuh kami lalu memelantingkan kami kembali ke bawah. Tubuh kami tergantung dalam posisi terbalik. Aku bisa merasakan darah mengalir deras ke kepalaku.

Aku menoleh ke arah Vero dan kami saling bertatapan. Ia tertawa lebar, kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Perlahan ia  mendekatkan bibirnya di telingaku. Hembusan napasnya yang terasa hangat di wajahku membuat darahku mengalir makin deras.

“Aku mencintaimu,” bisiknya lembut.

Bibirnya berpindah dari telingaku menuju bibirku. Ciuman singkat yang dalam sebelum tubuh kami ditarik kembali ke atas.

***

Gerimis hujan masih saja membasahi tanah merah di hadapanku, seolah langit enggan untuk menghentikan tangisnya. Air mata di pipiku pun terus saja mengair. Suasana pemakaman sudah sepi. Hanya tinggal aku berdiri di sini, belum rela melepaskan kepergiannya. Ini terlalau cepat dan tiba-tiba.

“Belum mau pulang?” Seseorang menepuk pundakku.

Aku menoleh dan mendapatinya sudah berdiri di sampingku. Ia merangkul pundakku dan menarik tubuhku ke dalam dekapannya.

“Kamu harus ikhlas,” nasehatnya padaku.

Aku menggeleng lemah. “Kenapa malah dia yang meninggalkan kita? Padahal kita yang terang-terangan divonis dokter tidak akan melewati waktu sebulan, kenapa malah dia yang pergi  lebih dulu?”

Kalimatku terputus-putus di sela isakan tangisku. Hidup ini bagaikan sebuah lelucon. Semua begitu mudah dibolak-balik. Aku dan Vero yang seharusnya lebih pantas berada dalam timbunan tanah merah itu justru kini sedang berdiri mengenang sepupuku yang baru saja dibaringkan di dalam sana. Ia tidak pernah sakit seperti kami. Hanya karena kepalanya terantuk tepi meja, ia harus pergi untuk selamanya. Siapa yang menyangka?

“Enam bulan yang lalu, dunia bagaikan kiamat untuk kita. Namun kini kita masih bisa berdiri tegak di atas kedua kaki kita sendiri. Meskipun aku juga tidak tahu untuk berapa lama lagi,” ujarnya lirih.

“Semua ini misteri. Jawabannya menjadi rahasia yang Tuhan simpan. Jalani saja dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh cinta. Karena mungkin, yang membuat kita terus bertahan sampai saat ini, adalah cinta.”

Ia mempererat dekapannya seraya menggiringku pergi meninggalkan pemakaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s