Sebuah Pinangan

Dari sudut kafe ini aku diam-diam mengamati gerak-geriknya. Berkali-kali ia melihat jam tangannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Beruntung aku berdiri di sudut yang tersembunyi sehingga ia tidak melihatku, orang yang sejak tadi ditunggunya. Sebentar lagi, aku harus tega membuatnya menunggu sebentar lagi.

Ia menguncir rambut panjangnya, entah untuk yang keberapa kali. Aku tertawa dalam hati. Gadis yang kukenal sejak kami masih sama-sama berseragam putih abu-abu itu sama sekali tidak pernah berubah. Menguncir rambut, mencopot kuncirannya lalu menguncirnya lagi adalah perilaku khasnya saat ia sedang gelisah. Biasanya jika aku membuatnya menungguku terlalu lama, ia akan menyambutku dengan wajah ditekuk dan aksi mogok bicara. Tapi kali ini ia tidak akan sempat menekuk wajahnya karena kejutan yang akan aku berikan padanya justru akan membuatnya tersenyum bahagia. Wajahku terasa hangat saat membayangkannya.

Seorang pelayan datang menghampirinya. Pelayan itu membawakan seporsi es krim. Dari kejauhan aku bisa menangkap ia dan si pelayan sedang berdebat kecil. Ia pasti sedang ngotot mengatakan bahwa ia tidak memesan es krim itu dan menyuruh pelayan itu membawanya kembali. Alia, gadis yang sedang kuamati itu, tidak pernah mau menerima makanan dari orang yang tidak ia kenal. Padahal kalau ia tahu aku yang memesankan es krim itu untuknya, ia pasti akan langsung melahapnya habis. Sekarang pun ia pasti sedang melawan hasratnya atas es krim kesukaannya itu demi prinsip yang ia pegang teguh.

Entah apa yang dikatakan pelayan itu sehingga Alia akhirnya mau menerima es krim itu. Ia memandangi green tea ice cream di hadapannya dengan serius. Tampak keraguan dalam sikapnya, makan atau tidak.

Makanlah, sesuap saja. Bibirku komat-kamit layaknya mengucapkan sebuah mantra.

Perlahan tangannya bergerak mengambil sendok. Ia melayangkan pandangannya sejenak ke seluruh penjuru kafe. Mungkin ia berharap bisa menemukan orang yang pantas dicurigai sebagai pemberi es krim itu. Lalu ia kembali memakukan tatapannya pada hidangan olahan susu berwarna hijau itu selama beberapa detik sebelum akhirnya memakan suapan pertamanya.

“Yes!” sorakku.

Aku segera menutup mulutku ketika menyadari volume suara yang baru keluar dari mulutku. Posisiku tidak terlalu jauh darinya jadi kalau aku kurang berhati-hati ia bisa saja menyadari keberadaanku. Aku kembali memfokuskan diri pada gerak-geriknya. Ia mulai rileks dan menikmati suap demi suap es krim yang datang secari misterius itu. Namun tiba-tiba ia menghentikan suapannya. Matanya menangkap sesuatu yang aneh, sebuah benda yang tidak seharusnya berada dalam es krim. Dengan hati-hati ia mengambil benda bulat berwarna perak itu dan mengamatinya dengan seksama.

Sekarang lah saatnya. Aku keluar dari persembunyianku dan berjalan menghampirinya. Posisinya yang membelakangiku membuatnya tidak menyadari kedatanganku. Ia masih sibuk berkutat dengan cincin yang ia temukan laksana harta karun di dalam es krim saat aku menyodorkan seikat bunga lily kesukaannya di depan wajahnya. Ia menoleh ke arahku dengan ekspresi seolah sedang  melihat alien.

“Sinu!” ujarnya setengah berteriak.

Aku bersimpuh di lantai di samping kursinya. Kutatap mata coklatnya dalam-dalam seraya mengumpulkan seluruh kekuatan yang kupunya untuk menyampaikan sebuah pertanyaan.

“Alia, would you marry me?” Aku mengambil cincin yang kusiapkan untuk melamarnya malam ini dari tangannya.

Hening. Alih-alih menjawab, sekujur tubuh Alia mematung. Ia tidak tersenyum apalagi menghambur ke dalam pelukanku. Ia hanya menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mungkin ia begitu terkejut dan terharu sampai ia tidak dapat berkata apa-apa.

Sedetik kemudian isak demi isak tangisnya pecah. Buliran-buliran airmata jatuh seolah tak dapat terbendung.

“Kenapa nangis?” tanyaku dengan lembut.

Kuseka airmata di pipinya dan berusaha menenangkannya namun tangisnya tidak kunjung mereda. Aku sering melihat adegan lamaran dalam film-film romantis. Sang wanita memang selalu menangis terharu saat mendengar kalimat sakti itu tapi tangisan dalam film itu tidak sehebat ini. Aku berusaha menepis segala pikiran buruk dalam kepalaku.

I can’t. I’m sorry… aku benar-benar minta maaf,” ujarnya di sela isak tangisnya.

“Sst…. It’s fine. Nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Semua ini memang terlalu tiba-tiba.”

Harus aku akui aku memang kecewa. Untuk mengatakan semua itu juga tidaklah mudah tapi aku harus menerima kenyataan.

“Tadinya aku  pikir ini adalah waktu yang paling tepat. Aku cuma lima bulan ada di Jakarta jadi aku melamarmu sekarang dan berharap kita bisa nikah sebelum aku pergi lagi ke Jepang. Lebih bagus lagi kalau kamu mau ikut aku ke Jepang. Tapi nggak apa-apa, aku tahu pernikahan bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan,” tambahku.

Aku menggenggam tangannya erat-erat agar ia tidak merasa bersalah lagi.

Ia menggeleng, “Ini bukan karena aku belum siap. Bukan…” ia berusaha mengatur isaknya agar ia bisa melanjutkan perkataannya.

“Hubungan kita…. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Maaf…,” ia kembali kesulitan bicara.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Ia mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapanku. Ia menarik napas berkali-kali. Apa yang menjadi alasannya pastilah sesuatu yang berat untuk dikatakan daan mungkin akan sangat menyakitkan untuk kudengar. Aku tidak peduli, aku hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Pandanganku tidak sedikit pun beranjak darinya. Aku ingin dia tahu kalau aku menunggu penjelasannya.

“Aku…,” ia mulai bicara, “aku nggak bisa sepertimu yang sanggup menjaga kesetiaan saat kita berjauhan. Aku butuh sosok yang nyata, bukan sekadar gambar dan suara yang saling kita tukar lewat Skype. Aku butuh pelukan saat aku menangis, genggaman tangan saat aku lemah, dan juga….”

Tangisnya kembali pecah. Setengah hatiku merasa iba menyaksikan gadis yang sangat kucintai menangis tersedu hingga tubuhnya berguncang, namun setengah hatiku lagi menahanku dan menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Aku sudah menghianatimu, Sinu. Dan tanpa aku sadari hubungan kami berjalan makin jauh. Perasaan yang terjalin di antara kami pun makin erat. Maafkan aku,” ujarnya setelah ia berhasil menguasai dirinya sejenak.

Aku merasakan sesuatu mencekat tenggorokanku, menghalangi satu kata pun keluar dari mulutku. Genggaman tanganku terlepas begitu saja. Dengan susah payah aku berusaha berdiri. Kukerahkan seluruh upaya agar kakiku yang mendadak lemas ini mampu menopang tubuhku. Semua sudah jelas sekarang, aku sudah mengerti. Seharusnya aku marah saat ini, seharusnya aku melampiaskan seluruh kekecewaanku pada gadis yang telah menghianati kepercayaanku namun  aku tidak bisa. Selangkah demi selangkah tertatih aku beranjak pergi. Meninggalkan harapan yang menyisakan luka di hatiku.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s