Aku Menyesal Menikahimu

Sehembus angin lembut membangunkan tidurku. Aku membuka mataku perlahan. Sudah terang. Rupanya matahari sudah bangun duluan. Sudah tiga malam aku menginap di resort ini dan aku selalu bangun saat matahari sudah tinggi. Entah karena suasana resort yang tenang atau karena kehangatan yang diberikan pria yang selalu berbaring di sampingku tiap malam.

Aku melirik sisi kanan kasurku. Kosong. Dia sudah tidak ada di sana. Aku melongok ke arah balkon, pintunya terbuka. Pria yang resmi menjadi suamiku sejak seminggu yang lalu itu ada di sana. Berdiri di tepi balkon seraya berkutat dengan pemandangan pantai di bawah.

Aku tersenyum, mengagumi siluetnya. Betapa aku bersyukur bisa memilikinya dalam hidupku. Kala. Pria bertubuh tinggi dan tegap yang mampu  membuatku jatuh cinta padanya berulang kali. Dia bukan pria romantis seperti yang diidamkan banyak wanita. Sikapnya cenderung cuek. Namun perhatian-perhatian tak terduga yang ia berikan padaku lah yang membuatku yakin saat nengucapkan kata ‘I do’ saat ia melamarku.

Aku turun dari tempat tidur lalu berjalan menghampirinya. Ia nenoleh sekilas ketika mendengar langkah kakiku.

“Selamat pagi, sayang,” sapaku seraya memeluknya dari belakang.

“Pagi,” balasnya singkat.

Kusandarkan kepalaku di punggungnya. Sejak dulu aku sangat suka punggungnya yang lebar. Hangat dan nyaman.

“I love you,” bisikku.

“Hmm….” jawabnya.

Aku tertawa dalam hati. Kenapa masih saja susah bagimu untuk mengungkapkan perasaanmu? Selanjutnya aku memutuskan untuk terdiam. Kupererat pelukanku. Kunikmati wangi tubuhnya yang bercampur dengan aroma laut. Kuhayati detak jantungnya yang berpadu dengan suara debur ombak. Aku tidak perlu mendengarnya mengucapkan kata cinta. Begini saja sudah cukup.

“Aku menyesal menikahimu.” Kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya itu menghentikan detak jantungku seketika.

Baru saja aku menikmati kebahagiaan yang menurutku tak tergantikan ini, tiba-tiba kini semua harus lenyap hanya dengan sebuah kalimat. Kulepaskan pelukanku dan berjalan mundur selangkah darinya.

“Kamu… serius?” tanyaku lirih, hampir tak mampu bersuara.

Sesungguhnya saat ini aku ingin sekali memakinya namun hanya itu yang mampu terucap olehku. Aku bisa memaklumi jika ia tidak pernah membalas kata cinta yang aku ucapkan berulang kali. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan merasa menyesal telah menikahiku. Terlebih ia ucapkan itu di masa bulan madu kami. Sakit luar biasa.

Ia membalikkan tubuhnya, menghadap ke arahku.

“Iya, aku serius,” ujarnya dengan tenang.

Satu lagi tembakan jitu mengenai hatiku. Pelupuk mataku memanas, sedetik lagi hujan air mata pasti akan tumpah membasahi pipiku. Kususuri kedua bola matanya. Mencari-cari kesungguhan dalam tatapannya. Kenapa ia bisa begini kejam?

“Aku menyesal menikahimu,” ulangnya.

“Cukup!” teriakku.

Tanpa bisa kukendalikan lagi, tanganku bergerak untuk menamparnya. Namun ia berhasil menangkap tanganku lebih dulu sebelum tamparanku mendarat di pipinya. Aku berusaha berontak namun tenagaku tidak seberapa dibanding tenaganya. Sambil tetap memegang tanganku, ia melangkah mendekat padaku. Ditatapnya mataku dalam-dalam.

“Aku menyesal menikahimu sekarang. Aku menyesal telah membuang waktuku selama bertahun-tahun untuk mencari kebahagiaan padahal kebahagiaanku cuma satu. Kamu,” ujarnya lembut namun tegas.

Lalu perlahan ia mencium bibirku. Air mata yang tadi tertahan kini kubiarkan jatuh karena ini air mata bahagia.

Kebahagiaanku pun cuma satu. Kamu, Kala.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

5 comments on “Aku Menyesal Menikahimu

  1. Ririn says:

    kekekeekke..sempat takut, eh, akhirnya ..
    #mesra

  2. bagus rin.. lanjutkan…….

  3. Udin says:

    Mantap y critany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s