Aku Benci Kamu Hari Ini

Kami berdiri berhadapan. Aku dan dia. Kali ini bukan sebagai pasangan kekasih yang telah melewati dua kali natal bersama, melainkan sebagai seorang polisi dan seorang penjahat. Kami tidak sedang berakting atau sekadar main tangkap-tangkapan. Pistol yang teracung di tangan kami masing-masing pun bukan pistol air atau pistol mainan. Itu pistol sungguhan. Isinya peluru sungguhan. Siap menembus kulit kami begitu kami menarik pelatuknya. Mungkin dia duluan, atau mungkin aku, atau bisa saja bersamaan. Tidak ada yang tahu.

 

Seperti yang sudah kubilang, kami tidak sedang main-main. Siapa yang sangka aku akan terjebak dalam pilihan yang demikian sulit. Siapa yang sangka pria yang selama ini menjalin cinta denganku adalah seorang anggota organisasi kriminal yang paling dicari oleh kepolisian. Dan siapa pula yang menyangka akulah yang ditugaskan untuk meringkusnya di antara sekian banyak petugas polisi yang ada. Aku bahkan tidak sempat memberikan diriku waktu untuk meratapi kenyataan pahit ini.

 

“Menyerahlah….” pintaku lirih.

 

“Tembak aku atau biarkan aku pergi,” balasnya. Ada ketegasan di balik suaranya yang sama lirihnya denganku.

 

Permintaan itu melemparku ke dalam lautan kenangan. Saat itu kami sedang iseng berandai-andai. Seraya bermain-main dengan borgolku di tangannya ia tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan yang memaksaku berpikir keras untuk menjawabnya. Bagaimana jika ia adalah seorang penjahat dan aku ditugaskan untuk menangkapnya?

 

“Jika hal itu terjadi, aku hanya minta dua pilihan darimu. Tembak aku atau biarkan aku pergi, “ ujarnya saat itu.

 

Aku tertawa perih dalam hati. Tidak kusangka ia bukan hanya sekadar berandai-andai. Ia sungguh-sungguh menanyakan pertanyaan itu karena ia tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi. Tidak, aku tidak akan semudah itu menuruti permintaannya. Ia sudah menipuku selama ini dan aku tidak rela membiarkan keegoisannya menang begitu saja.

 

“Biar peluru kita yang memutuskan,” ujarku.

 

Kami bersiap menarik pelatuk kami masing-masing. Aku mengangkat tangan kiriku, membuat hitungan dengan jariku. Satu… dua… dan pada hitungan ketiga kami akan menembak secara bersamaan… tiga.

 

Aku jatuh tersungkur tepat setelah bunyi letusan dari kedua pistol kami terdengar. Aku bisa merasakan nyeri hebat di pinggangku. Darah segar mengalir deras dari situ. Aku tidak peduli pada lukaku itu, mataku berusaha mencari-cari sosoknya. Aku menemukannya sedang berdiri menatapku. Ia baik-baik saja, peluruku tepat mengenai tempat yang kusasar, lengannya. Ada pancaran rasa khawatir dalam tatapannya. Aku berusaha tersenyum untuk meredakan kekhawatiran itu.

 

Pergilah….

 

Aku tahu tidak ada suara yang keluar dari mulutku namun aku yakin ia mampu menerjemahkan kata-kata yang kusampaikan melalui mataku. Selangkah demi selangkah ia pun beranjak pergi meninggalkanku. Bayangannya menghilang tepat sebelum temanku datang untuk menyelamatkanku.

 

Sampai bertemu lagi suatu saat nanti. Aku benci kamu hari ini tapi aku mencintaimu selamanya.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s