Sepucuk Surat Cinta (Bukan) Dariku

Berkelana kesana-kemari di bawah terpaan terik matahari atau guyuran hujan tentu bukanlah hal mudah. Terkadang aku ingin menyudahi apa yang telah aku lakukan selama hampir dua tahun ini namun aku tahu aku tidak boleh mengikuti emosiku semata. Di jaman seperti ini di mana begitu banyak pengangguran luntang-luntung mencari pekerjaan, aku harusnya bersyukur telah memiliki pekerjaan. Meskipun menjadi tukang pos bukanlah cita-citaku. Sejak kecil aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjadi tukang pos seperti ayahku saat aku dewasa. Tapi apa mau dikata, takdir memang hobi mempermainkan hidup manusia.

Dulu, ayahku bilang profesi tukang pos adalah profesi yang mulia. Tugasnya menyambungkan tali silaturahmi antara dua manusia yang terpisah jarak. Beruntung, masih banyak orang yang memilih menggunakan surat untuk menjaga hubungan satu sama lain di tengah kemajuan teknologi yang pesat ini sehingga profesi mulia itu masih bisa tetap eksis.

Aku cukup setuju dengan pendapat ayah tersebut. Selama ini aku melihat dan mengalami sendiri bagaimana ekspresi dan aura kebahagiaan terpancar di wajah-wajah penerima surat yang aku temui. Dan semua itu mampu membayar keringat, rasa lelah, dan tubuh yang basah oleh air hujan, dengan lunas.

Tapi tidak dengan penghuni rumah ini. Kebahagiaannya saat menerima surat yang aku antarkan justru memperparah penderitaanku. Sudah lebih dari tiga bulan aku mengirimkan surat demi surat untuknya dan sungguh, aku benar-benar sudah muak.

“Pos!” seruku tak bersemangat.

“Iya!” sahut seseorang dari dalam rumah.

Tidak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan seorang gadis berambut ikal panjang berlari-lari kecil menghampiriku.

“Surat untuk Sagita,” ujarku seraya menyerahkan surat untuknya.

Belum sempat aku memintanya menandatangani bukti terima, ia sudah asyik membuka dan membaca suratnya. Keceriaan di wajahnya berangsur bertambah dua kali lipat. Ia tampak jauh lebih bahagia dari biasanya.

“Ibu!” Ia bersiap berlari masuk ke dalam rumah. Sepertinya ada kabar gembira yang ingin segera ia sampaikan pada keluarganya.

“Mbak, tandatangan dulu,” cegahku.

“Oh, iya!” Ia pun berbalik lalu mengambil pulpen dan kertas di tanganku.

“Maaf ya, saya terlalu bahagia sampai lupa. Akhir bulan ini kekasih saya mau datang untuk melamar saya,” ujarnya setelah memberikan tandatangan yang kuminta. Ia lalu bergegas kembali ke dalam rumah.

Tanganku terkulai lemas di sisi tubuhku. Aku menyesal. Seharusnya aku mengikuti kata hatiku untuk tidak mengantar surat untuknya hari ini. Atau mungkin seharusnya aku tidak pernah menjadi tukang pos sehingga aku tidak pernah bertemu dengannya. Sehingga aku tidak perlu patah hati seperti ini.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

5 comments on “Sepucuk Surat Cinta (Bukan) Dariku

  1. ifnurhikmah says:

    Kasihan Kak Rin 😦

  2. yah kenapa kayak gitu kak rin? 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s