Ada Dia Di Matamu

“Aku mencintaimu!” tegasnya sekali lagi.

“Siapa?” Aku pun mengulang pertanyaan yang sama.

Ia mengernyitkan dahi, kebingungan. “Apa maksudmu?”

“Siapa yang kamu cintai?”

Ia menarik napas panjang, berusaha melepaskan kekesalannya.

“Kamu!” ujarnya seraya mencengkeram kedua lenganku kuat-kuat.

Aku tertawa sinis. “Kamu yakin?”

Ia melepaskan cengkeramannya dan menatapku tidak mengerti.

“Kamu yakin kamu mencintaiku?” ulangku. “Awalnya aku pun berpikir kamu mencintaiku tapi ternyata aku salah. Kamu mencintai diriku yang mengingatkanmu padanya.”

“Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkanmu?” Suaranya terdengar pasrah.

Aku menggeleng.

“Tidak perlu. Kamu tidak perlu meyakinkanku. Semua hanya akan jadi usaha yang sia-sia. Aku bisa melihat jawabannya di matamu karena matamu tidak diciptakan untuk memantulkan kebohongan.”

Aku hening sejenak. Kutatap matanya dalam-dalam. Ya, aku bisa melihatnya. Bukan bayanganku yang ada di bola matanya. Serupa tapi bukan aku.

“Ada dia di matamu. Itulah kejujuranmu.”

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s