Aku Cuma Mau Kamu, Titik

“Kamu gila!” bentaknya seraya menatapku tajam.

Wajahnya merah padam dikuasai amarah. Aku akui aku memang keterlaluan. Dalam pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun terpisah, aku langsung mengajukan permohonan ini padanya.

“Kamu lihat ini!” Ia menunjuk cincin emas putih di jari manisnya. “Aku bukan aku yang dulu lagi. Ada seseorang yang telah memilikiku dan seorang malaikat kecil dalam hidupku. Kamu juga tahu itu, kan?”

Ya, aku tahu betul. Kamu sudah mengabarkannya padaku dengan sangat gembira saat akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungimu sebulan yang lalu, ucapku dalam hati.

“Kamu berhak jadi yang pertama.” Nada suaranya melembut seiring dengan amarahnya yang meluruh.

Aku menggeleng, “Mungkin aku memang gila, tidak waras, sakit atau apapun sebutannya. Delapan tahun…. Seharusnya sudah cukup untuk melupakanmu, tapi nyatanya…”

Aku menghela napas dalam-dalam, mencari-cari kekuatan untuk melanjutkan kalimatku.

“Nyatanya kamu tetap bersemayam di sini dan di sini.” Aku menunjuk kepala dan dadaku.

“Tidak peduli sekeras apapun usahaku untuk mengusirmu, kamu tetap tidak kunjung pergi. Aku mohon jangan siksa aku lagi. Biarkan aku mendapatkan apa yang hatiku mau. Hatiku cuma mau kamu. Aku cuma mau kamu, titik.”

Ia mundur satu langkah seraya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti.

“Terlambat. Seharusnya kamu memohon sebelum kamu menghilang dariku dulu.”

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s