Dag Dig Dug

Hujan deras dan ojek langgananku belum datang menjemput. Aku bersorak kegirangan dalam hati. Aneh? Tidak ada yang aneh bagi orang yang sedang jatuh cinta. Aku selalu menanti saat-saat seperti ini. Bahkan aku juga berdoa agar langit sudi bekerjasama denganku untuk menumpahkan hujan sederas mungkin setiap hari di saat jam pulang sekolah. Kalau perlu dengan durasi selama mungkin agar aku bisa terjebak lebih lama lagi di sini, bersama dia.

Ya, dia yang sedang berjalan menuju ke sini. Pria bertubuh tegap yang menandakan kecintaannya pada olahraga. Darahku mengalir lebih cepat dari biasanya begitu aku melihat sosoknya. Seperti biasa ia memilih berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di pintu seraya memandangi hujan yang turun.

“Belum dijemput?” Suara beratnya yang menyentuh pendengaranku membuat irama detak jantungku jadi tak beraturan.

“Belum,” jawabku singkat, khawatir ia bisa menangkap getaran dalam suaraku jika aku mengucapkan kalimat yang lebih panjang.

Aku meliriknya sekilas, ia tidak sedang memandangku. Matanya kokoh memandangi langit yang masih dibayangi awan mendung. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa alasannya selalu berdiri di sini saat hujan begini. Apa dia begitu menyukai hujan? Atau dia sengaja ingin menemaniku menunggu jemputanku datang? Aku menertawai diriku sendiri karena sudah berpikir ia berdiri di sini untukku.

Hembusan angin yang mengiringi hujan terasa makin dingin karena kegugupanku. Aku memeluk tubuhku sendiri untuk menghangatkan diriku. Aku menatapnya diam-diam. Dingin-dingin begini menghambur ke dalam pelukannya pasti akan terasa nyaman. Tapi mana mungkin aku berani melakukannya, berdiri berdekatan dengannya seperti ini saja sudah membuatku ingin pingsan.

Tiba-tiba dia melepas jaket yang dikenakannya. Aneh, memangnya dia tidak akan kedinginan tanpa jaket itu? Ia menoleh ke arahku dan aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke langit. Aku bisa merasakan ia berjalan mendekatiku. Jantungku berdetak makin kencang. Mungkin setelah ini aku harus memeriksakan kondisi jantungku ini ke dokter, kalau-kalau ada bagian yang rusak karena tidak kuat menahan detak yang begitu cepat.

Aku pikir jantungku akan berhenti seketika saat ia memakaikan jaketnya ke tubuhku. Tuhan, jaga aku…. Jangan sampai aku pingsan di hadapannya.

“Sekarang lagi musim hujan, lebih baik selalu sedia jaket atau sweater. Nanti asmamu bisa kambuh kalau terus-terusan terpapar udara dingin,” nasehatnya.

“Terima kasih, Pak.”

Aku hanya sanggup mengatakan itu lalu keheningan kembali tercipta di antara kami. Yang terdengar hanyalah gemericik hujan dan suara detak jantungku.

Dag dig dug.

Aku berharap ia bisa mendengarnya agar detak ini mewakiliku mengungkapkan kepadanya bahwa aku diam-diam mencintai guru matematikaku itu.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s