Halo, Siapa Namamu?

Hembusan angin sepoi-sepoi membelai kulit wajahku sekaligus mengirimkan harum mawar yang tumbuh dengan rimbun di taman di balik jendela ini. Kupenuhi ruang penciumanku dengan aroma manis itu. Sejenak tubuhku terasa begitu rileks. Tanpa sadar mataku pun terpejam, menghayati pagi ini dengan sungguh-sungguh. Pagi yang tersaji di balik jendela ini sungguh berlawanan dengan pagi yang menguar dalam kamar pengap dan lembab ini. Jika saja mungkin, aku ingin sekali meloncat keluar menembus terali besi yang melintang di seluruh permukaan jendela.

Aku membuka mataku saat telingaku menangkap suara langkah sepatu mendekat. Tanpa perlu menoleh aku sudah bisa menebak siapa dia. Sebentar lagi ia akan mulai bertanya ini-itu, pura-pura peduli pada keadaanku. Aku sengaja mengabaikan kehadirannya dan memilih mendaratkan pandanganku pada merahnya kelopak mawar.

“Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu pagi ini?” tanyanya dengan suara dibuat-buat agar terdengar lembut dan penuh perhatian.

Tidak bosankah ia mengajukan pertanyaan yang sama setiap hari? Aku saja sudah bosan mendengarnya, itu sebabnya aku sudah tidak mau menjawab pertanyaan itu lagi. Lagipula jawaban apa yang harus aku berikan padanya? Jelas aku tidak akan pernah bisa merasa baik dengan keadaanku yang serba membingungkan ini.

Perempuan itu duduk bersimpuh di samping kursiku. Ia menaruh tensimeter yang dibawanya di atas pangkuannya lalu ia meraih tanganku dan mulai memeriksa tekanan darahku.

“Sedikit rendah,” ujarnya lebih kepada dirinya sendiri.

Dari sudut mataku aku bisa melihatnya melongok ke dalam baki sarapanku.

“Kenapa kamu tidak memakan sarapanmu lagi? Kalau begini terus kamu bisa jatuh sakit.”

Ia berdiri lalu menarik meja dorong tempat baki sarapanku diletakkan ke dekatku. Aku mendengus, berusaha menghalau bau memuakkan dari bubur di hadapanku.

“Ellen…”

Jangan panggil aku dengan nama itu! Meskipun aku tidak bisa mengingat siapa namaku yang sebenarnya, aku bisa merasakan bahwa nama itu bukanlah namaku.

“Makanlah.” Ia menyuapkan sesendok bubur ke mulutku.

Organ dalam perutku sudah bergolak hebat padahal makanan itu belum masuk ke dalam mulutku. Aku menepis sendok itu dengan kasar hingga terlempar ke lantai. Wajahnya memucat seketika. Ia tampak begitu ketakutan namun tetap berusaha menguasai dirinya. Dengan gemetar ia mengambil sendok yang jatuh di lantai dan menaruhnya kembali di dalam baki.

“Makanlah kalau kau sudah lapar,” ujarnya sebelum pergi meninggalkanku.

Aku mendorong meja dorong dengan kakiku. Sampai kapanpun aku tidak akan memakan bubur yang rasanya sama dengan air itu lagi. Aku sudah muak. Aku ingin keluar dari tempat menyesakkan ini. Aku ingin menemukan jawaban atas pertanyaan besar yang selama ini menggelayuti hidupku. Siapa diriku?

Wajah itu… Wajah yang terpantul di kaca jendela… Siapa gadis pemilik mata sebulat kelereng dan kulit seputih kapas itu? Bagaimana kehidupannya tiga bulan yang lalu, sebelum ia terkurung dalam kamar ini?

“Halo, siapa namamu?” tanyaku lirih pada bayangan diriku.

Aku mungkin bukan hanya sudah kehilangan ingatan tapi juga sudah kehilangan akal sehatku. Setengah hatiku berharap ada keajaiban yang membuat bayanganku itu bisa memberiku jawaban.

“Ah!” erangku.

Rasa sakit yang demikian hebat tiba-tiba menyerang kepalaku. Disusul oleh kelebatan-kelebatan adegan berputar silih-berganti dalam benakku. Aku melihat seorang anak perempuan berumur sekitar sepuluh tahunan. Anak itu mengenakan seragam sekolah dan di bagian dadanya tertera sebuah nama, Rossa. Wajahnya terlihat familiar bagiku. Mata bulat itu….

Dalam sekejap adegan itu berganti. Kini aku melihat sebuah kamar yang didominasi oleh warna putih. Ada dua orang yang sedang tidur di sana. Sepertinya mereka adalah sepasang suami-istri. Tidak, ternyata mereka tidak sedang tidur. Tubuh mereka bersimbah darah, mereka tewas! Dan di samping ranjang tempat kedua mayat itu terbaring, tampak seorang gadis berjongkok di lantai. Tangan kirinya menggenggam sebilah pisau yang berlumuran darah. Mungkinkah dia yang telah membunuh sepasang suami-istri itu? Wajahnya terlihat makin jelas dan….

“Ah!” Rasa sakit di kepalaku makin menjadi.

Seluruh adegan yang tadi berputar bagai film dalam kepalaku terhenti begitu saja. Pandanganku menggelap dan tubuhku serasa melayang. Satu yang masih kuingat sebelum kesadaranku hilang, gadis pembunuh itu adalah aku.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

3 comments on “Halo, Siapa Namamu?

  1. […] 75. via @omidgreeny 76. via @exewriyan 77. via @hadisome 78. via @dreamofmay 79. via @rohmah_ 80. via @rinhapsarina 81. via @byteregz 82. via @ingeynwa 83. via @sheiilarizkia 84. Share this:Like this:LikeBe the […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s