Testpack

Masih dengan gaun tidur yang melekat di tubuh, aku duduk diam di tepi ranjang. Mataku lekat mengikuti tiap langkahnya yang bolak-balik dari sudut satu ke sudut lain di kamar ini. Sesekali ia melirik jam di dinding lalu melirikku dan kembali menatap lantai yang ia jejaki. Terlihat jelas ia sedang gugup sekaligus penuh harapan. Tingkahnya memang sudah tidak karuan begini sejak kemarin aku mengabarkan padanya tentang keterlambatan datang bulanku yang sudah memasuki masa satu minggu.

“Sudah waktunya. Ayo, cepat dilihat,” ujarnya tiba-tiba.

Aku bergegas beranjak menuju kamar mandi. Di atas wastafel, lembaran testpack sudah menantiku untuk mengabarkan hasil dari tes yang aku lakukan beberapa menit yang lalu. Senyumku otomatis terkembang saat aku melihat jumlah garis yang tertera di atas testpack itu. Aku segera keluar untuk memperlihatkannya pada Dion namun rupanya ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Tak ada satu pun pertanyaan yang keluar dari mulutnya namun tatapannya sudah mewakili pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalanya sejak tadi. Kutunjukkan testpack itu padanya tanpa berkata apa-apa.

“Dua garis? Po-positif?” tanyanya sedikit ragu.

Aku mengangguk dengan pasti. Tiba-tiba ia menarikku ke dalam pelukannya. Aku sampai dibuat sesak napas oleh pelukannya yang begitu erat. Rupanya pelukan seerat itu dirasanya masih belum cukup untuk mengekspresikan kegembiraannya, ia lalu menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi. Wajar jika ia segembira ini, usia lima tahun pernikahan kami selalu kami isi dengan usaha keras kami untuk memiliki seorang anak. Sekarang, akhirnya keajaiban itu terjadi. Aku pun bahagia. Sangat bahagia.

Kini ia menatap mataku dalam-dalam. Setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Aku merasa mataku juga ikut basah.

“Aku akan menjadi seorang ayah,” bisiknya.

“Dan aku akan menjadi seorang ibu,” balasku.

Ia memelukku lagi, kali ini dengan penuh kelembutan. Punggungnya bergerak naik-turun seiring dengan isak tangis bahagianya. Sementara itu pikiranku berkelana, membayangkan wajah bahagia seseorang saat ia mendengar kabar kehamilanku ini nanti. Aku harus segera menemui Prabu untuk menunjukkan testpack yang telah menjadikan asisten suamiku itu seorang ayah.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s