Disabilitas dan Pandangan Masyarakat : Sekelumit Cerita

Sesuai dengan judul di atas, postingan saya kali ini akan membahas mengenai ‘Disabilitas dan Pandangan Masyarakat’. Bukan, bukan…. Saya tidak akan menyuguhkan kajian-kajian, teori ataupun data-data yang berhubungan dengan topik tersebut, karena saya memang tidak mumpuni untuk bicara dengan gaya seperti itu. Saya akan berbagi pengalaman saya sebagai seorang penyandang disabilitas yang harus berhadapan dan berkembang di tengah masyarakat yang biasa mendapat predikat ‘normal’. Tanpa perlu bicara panjang lebar lagi, lebih baik segera saya mulai sekelumit cerita saya.

Nama saya Rina. Saya adalah penyandang disabilitas Muscular  Distrophy, yaitu kelainan genetik yang mengganggu fungsi otot. Jika ditanya bagaimana kehidupan saya sebagai penyandang disabilitas, dengan berani saya akan menjawab bahwa hidup saya baik bahkan luar biasa baik. Hidup saya berjalan senormal mungkin, meskipun tidak bisa dipungkiri tetap ada beberapa batasan yang tidak mungkin dihilangkan. Semua itu karena kedua orangtua saya yang selalu berusaha membuat saya memiliki hidup yang sama dengan anak-anak lain yang normal.

Orangtua saya sudah mengajarkan saya berbaur dengan masyarakat sejak saya kecil. Mereka selalu mengajak saya ke tempat-tempat umum bahkan terkadang membawa saya ke tempat mereka bekerja. Dulu saya memang sering merasa risih saat orang-orang menatap saya dengan heran dan penasaran, namun lama kelamaan saya merasa terbiasa dan tidak lagi terganggu oleh tatapan-tatapan itu. Orangtua saya menyuruh saya untuk memaklumi orang-orang itu karena tidak semua orang mengerti tentang kondisi saya. Bahkan sekarang jika saya ditatap seperti itu, saya membalas mereka dengan senyuman.

Saat SD, saya bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Bukan untuk mendiskriminasikan saya namun agar saya mengerti bahwa saya memiliki teman-teman dengan kondisi yang sama, bahkan ada yang lebih buruk. Selama bersekolah di sana saya dibimbing untuk menemukan bakat saya. Bakat adalah bekal berharga bagi penyandang disabilitas agar sanggup bertahan di tengah-tengah masyarakat normal.

Mulai SMP saya bersekolah di sekolah umum negeri. Itu adalah tantangan bagi saya sebagai satu-satunya penyandang disabilitas di Sekolah itu. Saya harus bisa berbaur dengan mereka dan kuncinya adalah saya harus menjadi orang yang terbuka. Tidak boleh minder apalagi sampai menutup diri. Pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman, saya layani satu-persatu dengan sebaik-baiknya. Setelah mereka mengerti dan mengenal saya, mereka pun memperlakukan saya layaknya tidak ada perbedaan di antara kami. Ngobrol, belajar, bercanda, saling contek, semua kami lakukan bersama tanpa diskriminasi. Guru-guru pun tidak pernah membedakan saya. Paling mereka memberikan saya sedikit kemudahan seperti mengganti pelajaran olahraga yang tidak bisa saya ikuti dengan membuat makalah tentang olahraga. Prestasi akademis yang saya tunjukkan pun membuat mereka tidak lagi memandang saya sebelah mata.

Masa-masa SMA pun tidak jauh berbeda dengan masa SMP. Tidak ada kesulitan yang berarti. Karena kebetulan rumah saya terletak tepat di seberang sekolah, teman-teman pun sering bertandang baik untuk belajar bersama atau hanya sekedar main dan mengobrol. Kehidupan remaja yang saya alami benar-benar terasa normal dan saya tidak pernah sedikitpun merasa dikucilkan hanya karena kondisi fisik saya yang berbeda dari yang lain.

Beberapa tahun belakangan ini pun saya harus berhadapan dengan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas lagi demi perkembangan karir saya sebagai seorang penulis. Betapa bersyukurnya saya karena keberadaan saya disambut dengan sangat baik oleh senior maupun teman-teman penulis yang masih sama-sama belajar seperti saya. Mereka semua mengapresiasi karya saya dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak pernah meragukan kemampuan saya meskipun dengan kondisi fisik yang kurang. Tidak pernah ada sikap diskriminatif yang tampak dari mereka. Bahkan mereka memperlakukan saya seolah saya tidak memiliki satu pun kekurangan.

Jadi menurut saya, sebenarnya masyarakat tidak pernah membeda-bedakan apakah anda penyandang disabilitas atau bukan. Jika di awal-awal ada sedikit rasa heran yang muncul dari mereka, itu semua disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang disabilitas. Maka menjadi tugas kita sebagai penyandang disabilitas untuk memberikan penjelasan sebaik-baiknya pada mereka sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang sama dengan masyarakat normal di luar bentuk dan kondisi fisik yang berbeda. Jangan pernah menutup diri dari masyarakat. Penyandang disabilitas tetap membutuhkan masyarakat normal dan disadari atau tidak masyarakat normal pun membutuhkan para penyandang disabilitas.

Mengembangkan bakat dan kemampuan diri adalah salah satu cara ampuh agar kita bisa terjun di tengah masyarakat dengan lebih percaya diri. Dan rasanya kita harus berterima kasih pada sekelompok teman-teman tuna netra yang telah menyediakan wadah bagi para penyandang disabilitas untuk menyalurkan bakat dan kemampuan mereka. Wadah yang diberi nama Kartunet yang memiliki kepanjangan ‘Karya’ dan ‘Tuna netra’ ini tidak kenal lelah untuk membantu para penyandan disabilitas untuk mengembangkan diri. Melalui Website Kartunet para penyandang disabilitas bisa menunjukkan bakat mereka dengan memposting berbagai macam tulisan mulai dari artikel sampai tulisan-tulisan sastra. Kartunet  juga selalu memberikan informasi-informasi yang berguna dan menarik seputar kehidupan para penyandang disabilitas. Komunitas ini juga tidak kenal lelah dalam berjuang untuk membuka pandangan masyarakat agar para penyandang disabilitas bisa dilihat sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang mampu memberikan sumbangsih besar untuk negara ini.

Alangkah lebih baik jika di masa yang akan datang bisa bermunculan komunitas-komunitas seperti Kartunet sehingga akan semakin banyak wadah bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan diri. Tentunya dukungan dari pemerintah dengan mewujudkan aksesibilitas bagi para penyandang disabilitas sangatlah diharapkan agar proses pengembangan diri para penyandang disabilitas menjadi lebih mudah.

Advertisements

17 comments on “Disabilitas dan Pandangan Masyarakat : Sekelumit Cerita

  1. Afiani says:

    artikel yang menarik, thanks

  2. @CowokArab says:

    Semangat ya mbak…

    Saya sedikit banyak mengerti dg keadaan anda.. Karena saya jg seorang disabilitas… Kisah2 masa kecilnya dan sekolah tak jauh berbeda dg saya.. Tetep semangat ya… 🙂

  3. Syaiful Bahri says:

    Semoga tulisan macam ini dan sejenisnya dibaca oleh orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, dengan merujuk pengalaman orang tua anda mereka tidak merasa sendiri dan malu.
    Kalau tidak mengganggu privacy, mungkin akan lebih sip kalau mbak berkenan menulis pengalaman yang berhubungan dengan cinta dan calon mertua. Trims.

  4. Amin… Semoga tulisan saya ini bermanfaat. Memang perlu disadari bahwa peranan orangtua sangat penting dalam perkembangan anak-anak dengan disabilitas. Wah, tentang calon mertua? Mungkin nanti ya Pak kalau saya sudah punya calon mertua 😀

  5. Ndy says:

    *kangen Rina*
    *hugs*

  6. ilhamsk says:

    selamat gan, masuk urutan 50 teratas kontes kartunet.
    good luck yah! 🙂

  7. BlueLov says:

    aritekelnya menarik…
    apalgi ada yg bahas tentang difabilitas… aku suka bgt, mengingat jaman nulis skripsi, aku ngambil tntg difabilitas juga..

    salam kenal

  8. Clara says:

    kayaknya baru kali ini aku mampir ke blogmu ya Rin hihi~
    aku mungkin salah satu orang yang nggak tau menau soal disabilitas itu, tp bukan tidak mau tau. dan dari tulisanmu ini aku jd lebih paham dr sebelumnya. dan aku senang bisa kenal sama kamu hihihi ^ ^~~ kapan2 aku main lagi ya~~

  9. Bukik says:

    Aku percaya dan berjuang untuk tetap percaya
    bahwa setiap orang dikaruniai anugerah dalam bentuk bakat uniknya masing-masing
    Terima kasih sudah berbagi cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s