Akhir

Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Cukup keras hingga mampu membuat tubuhku terhuyung dan akhirnya terjatuh menabrak meja kaca di ruang tamu apartemen kami. Sesuatu yang hangat mengalir di pelipisku, darah. Kuarahkan pandangan penuh kebencian  ada sesosok pria yang kini tengah berdiri seraya bertolak pinggang di hadapanku. Maaf, apa barusan aku mengucapkan kata ‘kebencian’? Huh, aku ini benar-benar lucu. Kalau aku memang membencinya, kenapa aku masih bertahan di sisinya dan membiarkan peristiwa  seperti ini terulang lagi dan lagi. Mungkin lebih tepat jika aku disebut bodoh.

Aku menunggu beberapa detik namun ia tidak berbuat apa-apa lagi. Ia hanya berdiri memandangiku. Aku menyimpulkan semua ini sudah selesai. Ia sudah puas melampiaskan  marahnya. Perlahan aku bangkit. Kepalaku terasa agak pusing saat aku berusaha berdiri.  Aku meliriknya sekilas, ia masih diam dalam posisi yang sama. Hanya matanya yang bergerak mengikutiku. Aku pun memutuskan untuk tidak berkata sepatah kata pun. Aku  tidak ingin menyulut emosinya kembali.

Dengan sedikit sempoyongan aku berjalan menuju dapur untuk mengambil peralatan P3K. Tapi ternyata kesimpulanku meleset. Tepat saat aku melewatinya, dengan tiba-tiba ia  menjambak rambutku.

“Bukannya sudah berkali-kali aku bilang, jangan pernah bicara dengan laki-laki itu lagi!” teriaknya tepat di telingaku.

“Kami hanya saling sapa,” ujarku di tengah rintihan kesakitan. Kepalaku terasa makin berenyut-denyut.

“Hanya saling sapa? Hah!” Ia tertawa sinis. “Hanya saling sapa lalu setelah itu kamu pulang dengan membawa kenangan masa lalu kalian?”

Aku berusaha menggelengkan kepalaku. “Aku tidak pernah mengenangnya. Semua itu hanya prasangka burukmu.”

“Prasangka buruk?” Ia meludahi wajahku. “Kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bodohi? Bitch!”

Aku bisa merasakan napasnya yang makin memburu di wajahku. Wajahnya pun kian memerah, ia dikuasai amarah sepenuhnya. Ini harus segera dihentikan. Jika tidak, mungkin bukan hanya pelipisku yang akan berdarah.

“Oke, aku minta maaf. Aku janji aku tidak akan pernah bicara dengannya lagi. Kumohon, lepaskan aku…. Kamu lihat pelipisku berdarah?” Aku berinisiatif menurunkan egoku.

Ia melihat pelipisku lalu menghela napas panjang. Perlahan garis wajahnya melembut.

“Ini terakhir kalinya aku memaafkanmu,” desisnya.

Ia menghempaskanku ke lantai begitu saja lalu ia duduk bersandar di
sofa sambil memejamkan matanya. Aku merangkak menuju dapur. Rasanya sekujur tubuhku sakit dan lemas. Dengan sekuat tenaga aku berdiri untuk mengambil kotak P3K yang tergantung di tembok.

Tubuhku memegang saat telingaku menangkap suara langkah kakinya mendekat. Kali ini apa lagi yang ia mau?

“Biar aku saja.” Ia mengambil kotak P3K di tanganku lalu menuntunku menuju meja makan. “Duduklah.”

Aku duduk di atas kursi yang telah ia tarik untukku. Dengan cekatan ia membersihkan luka di pelipisku lalu menyiapkan perban dan memasangnya di atas lukaku. Wajah itu adalah wajah yang membuatku menerima lamarannya, bukan wajah yang tadi menyiksaku. Waktu empat setengah tahun yang kuhabiskan bersamanya nyatanya tidak membuatku mengerti bagaimana bisa ia bisa berubah-ubah dari monster menjadi malaikat
dalam sekejap.

“Sudah. Dengar,” bisiknya lembut sambil membelai pipiku.”Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku lepas kendali. Semua itu kulakukan karena aku terlalu mencintaimu. Aku tidak suka melihatmu membagi senyumanmu yang cantik ini pada laki-laki lain.” Ia menyentuh bibirku dengan jarinya.

Aku mencoba menelusuri apa yang sesungguhnya ada di dalam tatapan matanya. Sudah terlalu sering aku menyaksikan ekspresi penuh penyesalan ini. Dan sudah terlalu sering pula aku tertipu olehnya. Apakah kali ini aku akan membiarkan diriku mengulangi kebodohan yang sama? Empat setengah tahun seharusnya sudah cukup.

Ia menarik wajahku mendekat padanya dan mulai mencium bibirku dengan penuh gairah. Tangannya bergerak menjelajahi setiap senti tubuhku dari mulai leher, dada, sampai ke bagian bawah tubuhku. Napasnya memburu, namun kali ini bukan karena amarah melainkan nafsu. Mati-matian aku melarang diriku untuk terbuai oleh sentuhannya. Tidak untuk malam ini.

Diam-diam kuambil gunting yang tergeletak di atas meja. Untungnya ia terlalu sibuk memuaskan nafsunya hingga ia tidak melihat yang aku lakukan. Kugenggam gunting itu erat-erat. Tekadku sudah bulat, aku harus melakukannya. Resiko apapun akan aku hadapi, sekalipun itu penjara.

Dengan cepat kutikamkan gunting itu di lehernya lalu kucabut lagi. Darah segar langsung bermuncratan keluar. Kegiatannya menggerayangi tubuhku seketika terhenti. Aku mendorong tubuhnya yang bersandar lemah di tubuhku. Matanya mendelik menatapku dan napasnya tersengal-sengal.

“Bukannya sudah berkali-kali juga kamu berjanji kamu tidak akan mengulanginya lagi! Kali ini aku membantumu menepati janjimu.” Buru-buru aku meneriakkan kalimat itu sebelum napasnya berhenti agar ia mendengarnya.

Waktu empat setengah tahun sudah lebih dari cukup. Dan malam ini semua harus berakhir

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

2 comments on “Akhir

  1. Yuska says:

    Bagus, Rin. Cerita yg sering terjadi di dunia nyata.

  2. Makasih, mbak. Maaf baru lihat comment-nya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s