1 + 1

Aku mengawasi setiap gerak-geriknya dari tempat dudukku. Kami hanya dibatasi oleh sebuah meja persegi namun dia tidak menyadari mataku yang sejak tadi memotret perilakunya. Bahkan mungkin dia juga tidak menyadari bahwa aku masih ada di situ, duduk di hadapannya, bersama dengan teman-teman dari komunitas penulis di mana kami sama-sama tergabung sebagai anggota.

Mengamatinya membuat perutku mual karena perasaan yang bercampur-aduk. Antara kagum akan keindahan fisiknya yang tak pernah gagal membuat detak jantungku memacu—yang seringkali menimbulkan sensasi perih tak tertahankan karena sayangnya makhluk indah itu terlalu tak mungkin untuk kumiliki—dan sebuah perasaan yang kuharafiahkan sebagai kebencian atas sikap acuhnya padaku, hanya padaku.

Seperti saat ini, dia telah menghancurkan harga diriku sebagai perempuan dengan langsung bersikap sangat akrab pada sahabatku yang baru pertama kali dia temui. Benar-benar berlawanan dengan sikapnya padaku yang sudah bertatap muka dengannya sebanyak lebih dari sepuluh kali. Sejak pertemuan pertama sampai sekarang sikapnya tidak kunjung berubah. Hal paling jauh yang terjadi di antara kami hanyalah saling bertukar sapa lewat kalimat singkat seperti ‘apa kabar’. Selanjutnya hening, aku diacuhkan.

Namun dengan sahabatku itu, dia bisa bicara begitu banyak, tertawa lepas tanpa ada canggung. Aku tertampar oleh kenyataan ini. Kubandingkan diriku dengan sahabatku, penampilan kami memang tidak bisa dibilang setara. Siapapun yang dimintai pendapat tentang kami berdua pasti akan menjawab sahabatku jauh lebih menarik daripada aku. Kulitnya yang putih bersih, senyum manisnya menampilkan deretan gigi yang begitu rapi, dan hidungnya begitu mancung. Aku adalah kebalikannya yang sempurna. Tentu saja dia sangat cocok besanding dengan pangeran berkacamata pujaanku yang rupawan.

Aku teringat kalimat dalam sebuah novel yang kutulis, ‘Pria yang pantas diperjuangkan adalah pria yang mampu melihat bentuk hatimu di balik rupa kulitmu’. Lalu apakah dia termasuk pria yang tidak pantas kuperjuangkan karena nyatanya dia masih mudah terbutakan oleh rupa kulit? Aku menggeleng, menyangkal pertanyaanku sendiri. Hati sahabatku juga indah, dan mungkin dia sudah melihatnya di balik rupa kulit sahabatku yang kebetulan juga tampak begitu memikat.

Aku mengerti sekarang. Aku memang tidak pantas memperjuangkannya. Bukan karena dia tidak mampu melihat hatiku, namun karena dia memang bukan untukku. Satu tak akan pernah menjadi dua jika tidak ditambah satu lagi. Ya, sesederhana penjumlahan itu. Sayangnya, aku tidak mendapatkan angka satu itu darinya.

Aku beranjak dari kursiku untuk pindah ke sisi lain restoran ini. Apa yang tidak pantas diperjuangkan harus ditinggalkan. Aku pun memutuskan untuk melepaskan harapan untuk memiliki angka satu yang bukan bagianku. Mungkin di sisi ini, tanpa sengaja aku akan menemukan angka satu yang mampu menjadikanku dua.

Advertisements
This entry was posted in Fiction.

4 comments on “1 + 1

  1. keyen naa…sesuatu bgt….:D

  2. Thank you.. Tp menurut gue kurang greget ah.

  3. emang beneran terjadi #eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s