Takut

Belakangan ini aku sering banget sesak napas. Sering aku nggak kuat mandi dan terpaksa makan sambil berbaring karena sesak napas bikin aku nggak kuat duduk. Udah bolak-balik ke dokter, minum obat sesak setiap hari, tapi nggak ada hasilnya malah rasanya aku semakin lemah. Capek rasanya.

Tapi selain rasa capek, ada perasaan lain yang lebih menghantuiku. Takut. Aku bukan takut nggak akan bisa berumur panjang seperti yang udah dokter voniskan. Aku juga bukannya takut pada rasanya sulit bernapas. Bukan.

Aku takut pada perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi dalam hidupku. Aku takut pada banyak hal yang mungkin nggak akan bisa aku lakukan lagi. Aku takut akan jadi benar-benar lumpuh. Terpenjara di balik empat sisi tembok, terpisah dari dunia luar. Aku takut pada akhirnya impian-impian yang selama ini jadi alat bantu hidupku akan jadi sekadar lelucon yang nggak akan pernah jadi nyata. Aku takut, dan aku pun semakin sesak.

Jadi teman atau siapapun yang baca tulisanku ini, aku mohon kalian sudi menyempatkan diri untuk sejenak mendoakan aku. Agar Tuhan berkenan memberi tubuh dan jiwaku kekuatan. Agar aku bisa merajut hari demi hari untuk mewujudkan impian-impianku. Sebelum akhirnya hari terakhirku itu tiba.

Kekuatan Super

Aku punya kekuatan super
Bisa menjadikanku siapapun
Bisa membawaku kemanapun
Bisa menempatkanku dalam situasi apapun
Semua sesuai sesuka mauku

Aku punya kekuatan super
Yang lebih hebat dari ilmu sihir
Lebih hebat dari kekuatan peramal
Yang mampu menaklukkan realitas
Yang seringkali mengkhianati mauku

Aku punya kekuatan super
Bisa menyamakan getar hati kita
Bisa membuatmu memujaku
Bisa menjadikanmu milikku
Selama waktu yang aku mau

Aku punya kekuatan super
Kusebut itu imajinasi

But I Don’t Love You Anymore

Vivi’s Song Pick : Sara Bareilles – Brave

Beep… Beep… Beep…

Teriakan klakson mobil yang memekakkan telinga membuatku cepat-cepat memulaskan lipstik di bibirku. Aku bergegas mengambil tas kerjaku dan berlari keluar dari rumah kontrakanku. Mobil Yovie sudah terparkir di depan pagar rumah. Buru-buru kupakai sepatuku lalu melangkah secepat yang aku bisa menuju mobilnya.

“Lama banget sih!” semprotnya begitu aku mendudukkan pantatku di atas jok penumpang di bagian depan kabin.

Wajah Yovie tampak kusut. Matanya merah dan rambutnya berantakan. Aku paling benci melihatnya dalam keadaan seperti ini namun aku tidak pernah berani mengungkapkan ketidaksukaanku.

“Maaf. Tapi ini kan masih seperempat jam lebih awal dari biasanya,” ujarku sambil menutup pintu mobil.

“Berani protes lo? Masih untung gue jemput!” bentaknya seraya menoyor kepalaku.

Aku memilih diam. Dua tahun bersamanya cukup untuk membuatku tahu betul sikap bagaimana yang harus aku ambil di saat-saat seperti ini. Mobil Yovie mulai melaju dan aku memakukan pandanganku pada jalanan di balik jendela mobil. Keheningan pun mengisi kabin sepanjang perjalanan menuju kantorku.

“Sepi banget sih! Nggak bisa ngomong ya?” protesnya beberapa lama kemudian.

Aku yang tersentak oleh suara kerasnya yang tiba-tiba, segera berusaha mencari bahan pembicaraan untuk meredam amarahnya.

“Kamu pulang pagi lagi?” tanyaku dengan intonasi selembut mungkin. Bukan pilihan bagus namun hanya itu yang bisa terpikir olehku.

“Ish, sekalinya ngomong nggak penting gitu!” sungutnya. Ia lalu menyalakan CD Player dan menyetel volumenya sampai batas tertinggi. Musik hip-hop mengalun dari situ.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kata orang aku ini bodoh karena mau saja menerima perlakuan sekasar ini selama dua tahun. Aku pun tidak mengerti kenapa aku masih bertahan di sisinya. Setiap kali aku berniat menyudahi semua ini dan meninggalkannya, aku selalu mengurungkan niatku kembali karena luluh oleh perhatian-perhatiannya. Yovie memang bermuka dua. Di suatu saat ia sangat kasar namun di saat lain ia bisa jadi begitu lembut dan romantis. Jika memang bodoh adalah satu-satunya sebutan yang cocok untukku, aku menerimanya.

Yovie menghentikan mobilnya di tepi jalan di depan gedung perkantoran tempatku bekerja.

“Makasih ya,” ucapku singkat.

Aku baru saja hendak membuka pintu mobil saat ia menarik tubuhku ke dekatnya lalu mencium bibirku dengan paksa sementara tangannya mulai bergerak menyusuri tubuhku. Aroma alkohol menguar dari mulut dan tubuhnya. Aku harus mendorong tubuhnya untuk menghentikan aksinya. Dahinya berkernyit, kesal karena aku menolak memuaskan nafsunya.

“Pulang kantor langsung ke apartemenku,” perintahnya tanpa menatapku.

Aku terdiam sejenak. Kumatikan CD Player di hadapanku. Ia tampak terkejut dan berniat memrotes aksiku namun aku buru-buru mendahuluinya bicara.

“Maaf, aku nggak bisa ke apartemenmu malam ini, besok malam, lusa, ataupun hari-hari lainnya. Kamu juga nggak perlu jemput dan antar aku ke kantor lagi mulai besok. Hubungan kita selesai sampai di sini.” Entah dapat kekuatan dari mana sehingga aku bisa melontarkan keputusan ini tanpa goyah.

“Apa-apaan sih? Kamu kan tahu kalau aku cinta sama kamu,” rayu Yovie untuk menahanku.

Aku tersenyum padanya. Kubelai pipinya dengan lembut yang kemudian disambut dengan kecupan di tanganku.

“But I don’t love you anymore,” ujarku tegas.

Tanpa memberinya kesempatan untuk bicara lagi, aku turun dari mobil. Jika masih ada yang menyebutku bodoh, aku tidak akan menerimanya lagi.

Lepas

Aku harus melepas lagi
Kali ini tanpa airmata
Mungkin aku telah terbiasa
Mungkin juga karena dia berkali lipat, berjuta pangkat, lebih pantas

Aku harus melepas lagi
Kali ini tetap terasa sakit
Masih namun tidak hingga melukaiku
Mungkin aku terlanjur siap
Dan telah berkawan dengan realita

Aku harus melepas lagi
Kali ini sebelum mencoba
Namun aku tidak menyesali
Mungkin aku tahu
Mencoba pun sia-sia

Aku harus melepas lagi
Untuk kesekian kali
Cinta hanya ilusi

Pamulang, 040813.

Meski Bukan Cinta

Mencintaimu dalam diam
Sudah lebih dari cukup

Mendoakanmu dari kejauhan
Mungkin satu-satunya cara untukku mencinta sosokmu

Kita adalah mimpi yang sulit mewujud
Aku menyadarinya tanpa meragu

Maka biarkan aku di sini
Menjaga debar jantungku yang kian memacu

Saat namamu terngiang
Saat senyum kau ulas

Meski bukan cinta

Jari Manis

“Benar kamu nggak apa-apa?” Pertanyaan yang dilontarkan Banyu itu langsung menyambutku begitu aku melangkahkan kakiku di teras belakang. Banyu yang sedang memandangi hujan langsung menoleh begitu mendengar suara langkah kakiku mendekat.

Sudah lima kali aku mendengar pertanyaan itu hari ini. Sekali di rumah sakit, dua kali di sepanjang perjalanan menuju rumah, sekali begitu kami turun dari mobil, dan terakhir di sini.
Aku menyodorkan secangkir coklat panas padanya. Ia mengambilnya tanpa mengalihkan tatapannya dariku, menunggu jawaban yang ia mau.

“I’m fine, Banyu.” Kali ini aku memberi penekanan dalam tiap suku kata yang aku ucapkan untuk membuatnya yakin.

Banyu masih menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyeruput coklat panas di tangannya seraya memandangi tetes hujan yang turun. Hening sejenak tercipta di antara kami.

“Aku cuma khawatir,” ujarnya lirih.

“Terima kasih,” jawabku singkat dengan suara hampir berbisik.

Ia kembali menyeruput coklat panasnya. Tatapannya terpaku pada sekumpulan mawar di salah satu sudut taman belakang rumahku. Namun aku bisa melihat bahwa ia sebenarnya tidak sedang menatap mawar-mawar itu. Tatapannya menerawang begitu jauh.

“Apa karena Ar…” Tiba-tiba Banyu menggantung kalimatnya.

Aku sempat menangkap kata ‘ar’ di ujung kalimatnya. Apakah yang ia maksud adalah Arion? Mungkinkah Banyu juga melihat sosok Arion di rumah sakit tadi? Aku berusaha menutup rapat mulutku dari keinginan untuk menanyakannya pada Banyu. Aku takut jika dugaanku salah, aku malah akan memperkeruh suasana.

“Aku masih menanti jawabanmu,” Banyu menyeruput coklat panasnya lagi, “atas pinanganku,” lanjutnya seraya menolehkan wajahnya ke arahku.

Pinangan itu, sejak seminggu yang lalu dan aku masih belum bisa memberinya satu jawaban pun. Terlebih lagi dengan kemuunculan sosok Arion di rumah sakit tadi. Banyu memang baik, sangat baik, namun ia bukan lagi pria yang kucintai.

Hujan turun semakin deras. Aku meremas kedua tanganku dan meraba jari manisku. Tempat ini masih kosong. Hanya ada satu cincin yang bisa melingkarinya.

“Aku masih menanti seseorang menepati janjinya,” ujarku seraya meraba jari manisku sekali lagi.

Sosok

Aku melihatnya. Meskipun dari kejauhan, aku mampu mengenali sosoknya dengan baik. Tatapan sepasang mata itu, selalu hadir dalam mimpiku selama hampir dua tahun ini. Dan semua masih terlihat sama, masih mampu membuat jantungku kehilangan iramanya. Arion.

Ia bergeming di tempatnya, di seberang pintu masuk rumah sakit tempatku memijakkan kedua kakiku yang terasa kaku. Ia hanya menatapku dengan raut wajah yang sulit kumengerti. Bahagiakah ia bertemu denganku? Sinar matanya nengatakan sebaliknya dan itu membuat hatiku perih.

Saat ini rasanya aku ingin berlari ke arahnya. Menghambur ke dalam hangat peluknya yang telah sekian lama tidak kurasakan. Aku ingin menumpahkan seluruh rindu yang diam-diam melahap habis perasaanku. Aku ingin menagih janjinya untuk memakaikan cincin peninggalan ibuku di jariku. Namun kakiku enggan melangkah sesentipun. Seolah ada sesuatu yang menahanku untuk mendekatinya.

Seketika itu juga aku mengutuk Arion yang hanya mampu berdiam diri. Tidak rindukah ia padaku? Bukankah ia sudah berjanji untuk kembali? Sekarang ia sudah ada di sini, membiarkanku melihat sosoknya yang pernah menghilang, namun mengapa ia enggan datang mendekat? Aku ingin meneriakkan namanya namun rasanya tubuhku kompak menentang keinginanku hari ini. Bahkan lidahku pun ikut kelu.

“Nindy.”

Baru saja aku berhasil melangkahkan sebelah kakiku, panggilan itu menghentikanku. Refleks aku menoleh ke arah belakangku. Banyu datang mendekat sambil menggandeng Ayah.

“Kamu kenapa, Nin? Muka kamu kok pucat?” Senyum di wajah Banyu berganti menjadi raut cemas.

Aku hanya menggeleng. Aku tidak mungkin memberi tahu Banyu yang sebenarnya. Apalagi ada Ayah di sini. Aku tidak ingin penyakit Ayah kambuh jika mendengar nama Arion kusebut.

“Kamu yakin?” tanya Banyu memastikan.

Aku menggangguk seraya mengalihkan tatapanku darinya.

“Ya udah, kita pulang yuk! Aku ambil mobil dulu sebentar.” Banyu menyerahkan Ayah padaku lalu ia berlari kecil menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk.

Selepas Banyu pergi, aku kembali menoleh ke arah tempat Arion tadi berdiri. Kosong. Sosok itu sudah hilang sebelum aku sempat menyapanya. Aku berusaha mencari sosoknya ke segala arah namun nihil. Tidak terlihat sekilas pun sosok Arion lagi. Ia benar-benar menghilang seolah apa yang kulihat tadi adalah ilusi. Tidak, itu bukan ilusi dan aku tidak sedang berhalusinasi karena terlalu rindu. Aku yakin itu.

Arion benar-benar ada di sini. Tatapan itu nyata. Senyata detak jantungku yang belum juga kembali normal.

Arion, apakah ini bukan waktumu untuk pulang?