<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Live, Love and Laugh</title>
	<atom:link href="http://writerinashu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://writerinashu.wordpress.com</link>
	<description>Cerita sederhana dari manusia sederhana</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Feb 2012 13:12:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='writerinashu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Live, Love and Laugh</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://writerinashu.wordpress.com/osd.xml" title="Live, Love and Laugh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://writerinashu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sebuah Pinangan</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/19/sebuah-pinangan/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/19/sebuah-pinangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 17:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://writerinashu.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Dari sudut kafe ini aku diam-diam mengamati gerak-geriknya. Berkali-kali ia melihat jam tangannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Beruntung aku berdiri di sudut yang tersembunyi sehingga ia tidak melihatku, orang yang sejak tadi ditunggunya. Sebentar lagi, aku harus tega &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/19/sebuah-pinangan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=150&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sudut kafe ini aku diam-diam mengamati gerak-geriknya. Berkali-kali ia melihat jam tangannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Beruntung aku berdiri di sudut yang tersembunyi sehingga ia tidak melihatku, orang yang sejak tadi ditunggunya. Sebentar lagi, aku harus tega membuatnya menunggu sebentar lagi.</p>
<p>Ia menguncir rambut panjangnya, entah untuk yang keberapa kali. Aku tertawa dalam hati. Gadis yang kukenal sejak kami masih sama-sama berseragam putih abu-abu itu sama sekali tidak pernah berubah. Menguncir rambut, mencopot kuncirannya lalu menguncirnya lagi adalah perilaku khasnya saat ia sedang gelisah. Biasanya jika aku membuatnya menungguku terlalu lama, ia akan menyambutku dengan wajah ditekuk dan aksi mogok bicara. Tapi kali ini ia tidak akan sempat menekuk wajahnya karena kejutan yang akan aku berikan padanya justru akan membuatnya tersenyum bahagia. Wajahku terasa hangat saat membayangkannya.</p>
<p>Seorang pelayan datang menghampirinya. Pelayan itu membawakan seporsi es krim. Dari kejauhan aku bisa menangkap ia dan si pelayan sedang berdebat kecil. Ia pasti sedang ngotot mengatakan bahwa ia tidak memesan es krim itu dan menyuruh pelayan itu membawanya kembali. Alia, gadis yang sedang kuamati itu, tidak pernah mau menerima makanan dari orang yang tidak ia kenal. Padahal kalau ia tahu aku yang memesankan es krim itu untuknya, ia pasti akan langsung melahapnya habis. Sekarang pun ia pasti sedang melawan hasratnya atas es krim kesukaannya itu demi prinsip yang ia pegang teguh.</p>
<p>Entah apa yang dikatakan pelayan itu sehingga Alia akhirnya mau menerima es krim itu. Ia memandangi <em>green tea ice cream</em> di hadapannya dengan serius. Tampak keraguan dalam sikapnya, makan atau tidak.</p>
<p><em>Makanlah, sesuap saja</em>. Bibirku komat-kamit layaknya mengucapkan sebuah mantra.</p>
<p>Perlahan tangannya bergerak mengambil sendok. Ia melayangkan pandangannya sejenak ke seluruh penjuru kafe. Mungkin ia berharap bisa menemukan orang yang pantas dicurigai sebagai pemberi es krim itu. Lalu ia kembali memakukan tatapannya pada hidangan olahan susu berwarna hijau itu selama beberapa detik sebelum akhirnya memakan suapan pertamanya. </p>
<p>&#8220;Yes!&#8221; sorakku.</p>
<p>Aku segera menutup mulutku ketika menyadari volume suara yang baru keluar dari mulutku. Posisiku tidak terlalu jauh darinya jadi kalau aku kurang berhati-hati ia bisa saja menyadari keberadaanku. Aku kembali memfokuskan diri pada gerak-geriknya. Ia mulai rileks dan menikmati suap demi suap es krim yang datang secari misterius itu. Namun tiba-tiba ia menghentikan suapannya. Matanya menangkap sesuatu yang aneh, sebuah benda yang tidak seharusnya berada dalam es krim. Dengan hati-hati ia mengambil benda bulat berwarna perak itu dan mengamatinya dengan seksama.</p>
<p>Sekarang lah saatnya. Aku keluar dari persembunyianku dan berjalan menghampirinya. Posisinya yang membelakangiku membuatnya tidak menyadari kedatanganku. Ia masih sibuk berkutat dengan cincin yang ia temukan laksana harta karun di dalam es krim saat aku menyodorkan seikat bunga lily kesukaannya di depan wajahnya. Ia menoleh ke arahku dengan ekspresi seolah sedang  melihat alien.</p>
<p>&#8220;Sinu!&#8221; ujarnya setengah berteriak.</p>
<p>Aku bersimpuh di lantai di samping kursinya. Kutatap mata coklatnya dalam-dalam seraya mengumpulkan seluruh kekuatan yang kupunya untuk menyampaikan sebuah pertanyaan.</p>
<p>&#8220;Alia, <em>would you marry me</em>?&#8221; Aku mengambil cincin yang kusiapkan untuk melamarnya malam ini dari tangannya.</p>
<p>Hening. Alih-alih menjawab, sekujur tubuh Alia mematung. Ia tidak tersenyum apalagi menghambur ke dalam pelukanku. Ia hanya menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mungkin ia begitu terkejut dan terharu sampai ia tidak dapat berkata apa-apa.</p>
<p>Sedetik kemudian isak demi isak tangisnya pecah. Buliran-buliran airmata jatuh seolah tak dapat terbendung.</p>
<p>&#8220;Kenapa nangis?&#8221; tanyaku dengan lembut.</p>
<p>Kuseka airmata di pipinya dan berusaha menenangkannya namun tangisnya tidak kunjung mereda. Aku sering melihat adegan lamaran dalam film-film romantis. Sang wanita memang selalu menangis terharu saat mendengar kalimat sakti itu tapi tangisan dalam film itu tidak sehebat ini. Aku berusaha menepis segala pikiran buruk dalam kepalaku.</p>
<p>&#8220;<em>I can&#8217;t. I&#8217;m sorry</em>&#8230; aku benar-benar minta maaf,&#8221; ujarnya di sela isak tangisnya.</p>
<p>&#8220;Sst&#8230;. <em>It&#8217;s fine</em>. Nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Semua ini memang terlalu tiba-tiba.&#8221;</p>
<p>Harus aku akui aku memang kecewa. Untuk mengatakan semua itu juga tidaklah mudah tapi aku harus menerima kenyataan.</p>
<p>&#8220;Tadinya aku  pikir ini adalah waktu yang paling tepat. Aku cuma lima bulan ada di Jakarta jadi aku melamarmu sekarang dan berharap kita bisa nikah sebelum aku pergi lagi ke Jepang. Lebih bagus lagi kalau kamu mau ikut aku ke Jepang. Tapi nggak apa-apa, aku tahu pernikahan bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan,&#8221; tambahku.</p>
<p>Aku menggenggam tangannya erat-erat agar ia tidak merasa bersalah lagi.</p>
<p>Ia menggeleng, &#8220;Ini bukan karena aku belum siap. Bukan&#8230;&#8221; ia berusaha mengatur isaknya agar ia bisa melanjutkan perkataannya.</p>
<p>&#8220;Hubungan kita&#8230;. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Maaf&#8230;,&#8221; ia kembali kesulitan bicara.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221; tanyaku tidak mengerti.</p>
<p>Ia mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapanku. Ia menarik napas berkali-kali. Apa yang menjadi alasannya pastilah sesuatu yang berat untuk dikatakan daan mungkin akan sangat menyakitkan untuk kudengar. Aku tidak peduli, aku hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Pandanganku tidak sedikit pun beranjak darinya. Aku ingin dia tahu kalau aku menunggu penjelasannya.</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;,&#8221; ia mulai bicara, &#8220;aku nggak bisa sepertimu yang sanggup menjaga kesetiaan saat kita berjauhan. Aku butuh sosok yang nyata, bukan sekadar gambar dan suara yang saling kita tukar lewat Skype. Aku butuh pelukan saat aku menangis, genggaman tangan saat aku lemah, dan juga&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tangisnya kembali pecah. Setengah hatiku merasa iba menyaksikan gadis yang sangat kucintai menangis tersedu hingga tubuhnya berguncang, namun setengah hatiku lagi menahanku dan menuntut penjelasan lebih lanjut.</p>
<p>&#8220;Aku sudah menghianatimu, Sinu. Dan tanpa aku sadari hubungan kami berjalan makin jauh. Perasaan yang terjalin di antara kami pun makin erat. Maafkan aku,&#8221; ujarnya setelah ia berhasil menguasai dirinya sejenak.</p>
<p>Aku merasakan sesuatu mencekat tenggorokanku, menghalangi satu kata pun keluar dari mulutku. Genggaman tanganku terlepas begitu saja. Dengan susah payah aku berusaha berdiri. Kukerahkan seluruh upaya agar kakiku yang mendadak lemas ini mampu menopang tubuhku. Semua sudah jelas sekarang, aku sudah mengerti. Seharusnya aku marah saat ini, seharusnya aku melampiaskan seluruh kekecewaanku pada gadis yang telah menghianati kepercayaanku namun  aku tidak bisa. Selangkah demi selangkah tertatih aku beranjak pergi. Meninggalkan harapan yang menyisakan luka di hatiku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=150&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/19/sebuah-pinangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Adanya</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/11/apa-adanya/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/11/apa-adanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 02:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://writerinashu.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Priya&#8217;s  Coffee. Kucocokkan kembali nama coffee shop di hadapanku ini dengan nama coffee shop yang tertera dalam pesan Kala. Ya betul, ini coffee shop yang dimaksud Kala. Ia menyuruhku menunggunya di sini. Ia berjanji akan segera datang setelah syuting dadakan &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/11/apa-adanya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=148&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Priya&#8217;s  Coffee. Kucocokkan kembali nama <em>coffee shop</em> di hadapanku ini dengan nama coffee shop yang tertera dalam pesan Kala. Ya betul, ini coffee shop yang dimaksud Kala. Ia menyuruhku menunggunya di sini. Ia berjanji akan segera datang setelah syuting dadakan pagi ini selesai.</p>
<p>Aku mendorong pintu <em>coffee shop</em> dan masuk ke dalam. Pengunjungnya sudah ramai namun aku masih bisa merasakan kenyamanan yang ditawarkan <em>coffee shop</em> ini. Kala bilang aku pasti akan suka dengan suasana di sini. Ia benar, sepertinya aku akan sering datang ke sini selama aku berada di Yogya. Mungkin lebih baik sekalian saja aku jadikan tempat ini sebagai ruang kerjaku untuk menulis skenario drama baru yang bersetting di Yogya. Toh, Kala tidak  akan bisa sering menemaniku. Ia tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya sebagai sutradara. </p>
<p>Aku memesan <em>cappucino</em> untukku sebelum aku melangkah menuju meja kosong di sudut <em>coffee shop</em>. Aku bersyuukur spot ini masih kosong. Dari sini aku bisa melihat ke seluruh penjuru tempat ini. Sambil menyesap <em>cappucino</em>-ku, aku mengamati para pengunjung di sekelilingku. Aku suka kegiatan ini. Mengamati perilaku orang-orang di sekitar sangatlah berguna untuk pekerjaanku sebagai penulis skenario. Bahkan seringkali aku menebak-nebak cerita hidup orang-orang yang aku temui. Dengan sedikit sentuhan dramatisasi aku bisa menjadikan cerita hidup rekaanku itu menjadi drama televisi.</p>
<p>Perhatianku tertambat pada dua pasangan duduk tidak berjauhan. Yang menarik buatku adalah cara mereka dalam mengekspresikan kasih sayang begitu bertolak-belakang. Pasangan yang satu menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan obrolan panjang yang diselingi tawa lepas dari keduanya. Entah topik apa yang sedang  begitu asyik mereka bicarakan. Mungkin tentang sebuah tempat yang berkesan di hati mereka. Dari ransel dan barang-barang lain yang mengelilingi mereka, aku menebak mereka sedang merencanakan atau baru saja pulang dari sebuah perjalanan. Pasangan <em>backpacker</em>  sepertinya cocok untuk  menjadi judul kisah mereka.</p>
<p>Sementara pasangan yang satu lagi, pria bertopi bisbol dan wanita dengan rok kuning, bercengkerama dalam diam. Tidak ada obrolan panjang melainkan sibuk berkutat dengan kesibukan masing-masing. Namun tangan mereka tetap saling menggenggam dan sesekali si pria mencium pipi wanitanya. Manis.</p>
<p>Melihat kedua pasangan itu membuatku teringat akan hubunganku dengan Kala. Hubungan  kami tidak seakrab dan semanis mereka. Kami tidak pernah mengobrol panjang seperti &#8216;pasangan <em>backpacker&#8217;</em> itu dan Kala tidak pernah mau melakukan kontak fisik denganku di depan umum seperti yang dilakukan pria bertopi bisbol itu. Kecuali menggenggan tanganku atau merangkulku sebagai bentuk perlindungan.</p>
<p>Andai saja Kala memiliki seperempat saja dari sifat terbuka pria backpacker itu atau seperempat saja dari sisi romantis pria bertopi bisbol. Ah, tapi jika begitu mungkin aku tidak akan menjatuhkan hatiku padanya. Aku mencintainya karena dia Kala. Arogan, tertutup, kaku, namun sanggup membuatku jatuh cinta berkali-kali dengan perhatian-perhatiannya yang tak terduga.</p>
<p>Bunyi lonceng kecil yang terpasang di pintu <em>coffee shop</em> membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah pintu dan senyumku langsung terkembang begitu aku melihat siapa yang datang. Matanya sempat mencari-cari ke sekeliling tempat ini sampai akhirnya ia menangkap sosokku. Ia memberi tanda padaku untuk menunggu sebentar. Setelah selesai memesan minuman untuknya, ia bergegas mnghampiriku.</p>
<p>&#8220;Hai,&#8221; sambutku. &#8220;Udah selesai syutingnya?&#8221;</p>
<p>Ia mengangguk. Inilah Kala, selama kata masih bisa digantikan dengan gerak tubuh ia tidak akan mau buang-buang suara.</p>
<p>&#8220;Kamu benar, aku suka tempat ini. Sepertinya aku akan menyelesaikan skenarioku di sini,&#8221; ujarku.</p>
<p>&#8220;Sesuai tebakanku,&#8221; katanya singkat.</p>
<p>Aku tersenyum mendengarnya. <em>Iya, kamu memang tidak pernah salah menilaiku. Kamu selalu tahu apa keinginan dan kebutuhanku bahkan tanpa perlu kamu menanyakannya padaku</em>, ujarku dalam hati.</p>
<p>Seorang pelayan datang mengantarkan <em>espresso</em> pesanannya. Ia langsung menyeruputnya sedikit dan meletakkannya kembali. Aku memandanginya lekat-lekat. Jantungku masih saja berdebar kencang saat menatapnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanyanya. Sepertinya ia merasa risih karena kupandangi seperti itu.</p>
<p>&#8220;Kangen,&#8221; ucapku manja.</p>
<p>Ia mendecakkan lidahnya. Segurat rona merah jambu muncul di pipinya. Aku tertawa melihat tingkahnya itu. Menyadari aku sedang menggodanya, ia pun memelototiku.</p>
<p>Keasyikanku menggoda Kala terganggu sejenak saat seorang gadis berjalan keluar dari kamar kecil <em>coffee shop</em>. Secara otomatis perhatianku tersedot oleh gadis dengan penampilan yang tidak biasa itu. Ia mengenakan gaun pengantin dan riasan di wajahnya masih terlihat samar-samar.</p>
<p>&#8220;Kabur ya?&#8221; tanyaku pada diri sendiri.</p>
<p>Kala mengikuti arah mataku, penasaran apa yang sedang kupandangi.</p>
<p>&#8220;Kebiasaan, seenaknya  tebak cerita hidup orang,&#8221; ujarnya datar.</p>
<p>Aku mencibirkan bibirku. &#8220;Itu bagian dari tugasku,&#8221; aku membela diriku.</p>
<p>&#8220;Kalau nanti kita menikah, apa ada kemungkinan kamu akan melarikan diri seperti gadis itu?&#8221; tanyanya tiba-tiba.</p>
<p>Aku cukup terkejut mendengar ia menanyakan hal seperti itu. Apa pertanyaan itu adalah tanda bahwa ia takut kehilanganku? Sekilas ada perasaan bahagia menyusup dalam hatiku. Aku mengusap cincin pertunangan kami yang tersemat di jari manisku.</p>
<p>&#8220;Meskipun kamu sering bersikap menyebalkan. Meskipun kamu tidak seromantis pria bertopi bisbol itu atau tidak seceria pria dengan ransel besar di sana,&#8221; aku menunjuk kedua orang yang aku sebut itu dengan mataku, &#8220;tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk melarikan diri darimu. Sampai kapanpun.&#8221;</p>
<p>Tidak ada reaksi apa-apa darinya. Ia malah mengangkat cangkir <em>espresso</em>-nya lalu menyesapnya perlahan. Namun aku bisa melihat sekilas bibirnya bergerak membentuk sebuah senyuman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=148&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/11/apa-adanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Menyesal Menikahimu</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/09/aku-menyesal-menikahimu/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/09/aku-menyesal-menikahimu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 06:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://writerinashu.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Sehembus angin lembut membangunkan tidurku. Aku membuka mataku perlahan. Sudah terang. Rupanya matahari sudah bangun duluan. Sudah tiga malam aku menginap di resort ini dan aku selalu bangun saat matahari sudah tinggi. Entah karena suasana resort yang tenang atau karena &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/09/aku-menyesal-menikahimu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=145&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehembus angin lembut membangunkan tidurku. Aku membuka mataku perlahan. Sudah terang. Rupanya matahari sudah bangun duluan. Sudah tiga malam aku menginap di resort ini dan aku selalu bangun saat matahari sudah tinggi. Entah karena suasana resort yang tenang atau karena kehangatan yang diberikan pria yang selalu berbaring di sampingku tiap malam.</p>
<p>Aku melirik sisi kanan kasurku. Kosong. Dia sudah tidak ada di sana. Aku melongok ke arah balkon, pintunya terbuka. Pria yang resmi menjadi suamiku sejak seminggu yang lalu itu ada di sana. Berdiri di tepi balkon seraya berkutat dengan pemandangan pantai di bawah.</p>
<p>Aku tersenyum, mengagumi siluetnya. Betapa aku bersyukur bisa memilikinya dalam hidupku. Kala. Pria bertubuh tinggi dan tegap yang mampu  membuatku jatuh cinta padanya berulang kali. Dia bukan pria romantis seperti yang diidamkan banyak wanita. Sikapnya cenderung cuek. Namun perhatian-perhatian tak terduga yang ia berikan padaku lah yang membuatku yakin saat nengucapkan kata &#8216;I do&#8217; saat ia melamarku.</p>
<p>Aku turun dari tempat tidur lalu berjalan menghampirinya. Ia nenoleh sekilas ketika mendengar langkah kakiku.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi, sayang,&#8221; sapaku seraya memeluknya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Pagi,&#8221; balasnya singkat.</p>
<p>Kusandarkan kepalaku di punggungnya. Sejak dulu aku sangat suka punggungnya yang lebar. Hangat dan nyaman.</p>
<p>&#8220;I love you,&#8221; bisikku.</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230;.&#8221; jawabnya.</p>
<p>Aku tertawa dalam hati. Kenapa masih saja susah bagimu untuk mengungkapkan perasaanmu? Selanjutnya aku memutuskan untuk terdiam. Kupererat pelukanku. Kunikmati wangi tubuhnya yang bercampur dengan aroma laut. Kuhayati detak jantungnya yang berpadu dengan suara debur ombak. Aku tidak perlu mendengarnya mengucapkan kata cinta. Begini saja sudah cukup.</p>
<p>&#8220;Aku menyesal menikahimu.&#8221; Kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya itu menghentikan detak jantungku seketika.</p>
<p>Baru saja aku menikmati kebahagiaan yang menurutku tak tergantikan ini, tiba-tiba kini semua harus lenyap hanya dengan sebuah kalimat. Kulepaskan pelukanku dan berjalan mundur selangkah darinya.</p>
<p>&#8220;Kamu&#8230; serius?&#8221; tanyaku lirih, hampir tak mampu bersuara.</p>
<p>Sesungguhnya saat ini aku ingin sekali memakinya namun hanya itu yang mampu terucap olehku. Aku bisa memaklumi jika ia tidak pernah membalas kata cinta yang aku ucapkan berulang kali. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan merasa menyesal telah menikahiku. Terlebih ia ucapkan itu di masa bulan madu kami. Sakit luar biasa.</p>
<p>Ia membalikkan tubuhnya, menghadap ke arahku.</p>
<p>&#8220;Iya, aku serius,&#8221; ujarnya dengan tenang.</p>
<p>Satu lagi tembakan jitu mengenai hatiku. Pelupuk mataku memanas, sedetik lagi hujan air mata pasti akan tumpah membasahi pipiku. Kususuri kedua bola matanya. Mencari-cari kesungguhan dalam tatapannya. Kenapa ia bisa begini kejam?</p>
<p>&#8220;Aku menyesal menikahimu,&#8221; ulangnya.</p>
<p>&#8220;Cukup!&#8221; teriakku.</p>
<p>Tanpa bisa kukendalikan lagi, tanganku bergerak untuk menamparnya. Namun ia berhasil menangkap tanganku lebih dulu sebelum tamparanku mendarat di pipinya. Aku berusaha berontak namun tenagaku tidak seberapa dibanding tenaganya. Sambil tetap memegang tanganku, ia melangkah mendekat padaku. Ditatapnya mataku dalam-dalam.</p>
<p>&#8220;Aku menyesal menikahimu sekarang. Aku menyesal telah membuang waktuku selama bertahun-tahun untuk mencari kebahagiaan padahal kebahagiaanku cuma satu. Kamu,&#8221; ujarnya lembut namun tegas.</p>
<p>Lalu perlahan ia mencium bibirku. Air mata yang tadi tertahan kini kubiarkan jatuh karena ini air mata bahagia.</p>
<p>Kebahagiaanku pun cuma satu. Kamu, Kala.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=145&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/02/09/aku-menyesal-menikahimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inilah Aku Tanpamu</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/20/inilah-aku-tanpamu/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/20/inilah-aku-tanpamu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 14:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/20/inilah-aku-tanpamu/</guid>
		<description><![CDATA[Alunan lagu Here, There And Everywhere versi instrumental terdengar di sela denting alat makan yang beradu dan obrolan-obrolan hangat di restoran ini. Aku duduk sendirian di salah satu sudut restoran, mengamati sekitar. Tampaknya malam ini pasangan kekasih mendominasi jumlah pengunjung &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/20/inilah-aku-tanpamu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=142&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alunan lagu Here, There And Everywhere versi instrumental terdengar di sela denting alat makan yang beradu dan obrolan-obrolan hangat di restoran ini. Aku duduk sendirian di salah satu sudut restoran, mengamati sekitar. Tampaknya malam ini pasangan kekasih mendominasi jumlah pengunjung restoran. Wajar, hari ini adalah hari Valentine, hari penting bagi orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Aku pun sama dengan mereka. Malam ini aku akan menikmati makan malam yang romantis dengan pria yang paling kucinta.</p>
<p>Membayangkan sosoknya saja sudah membuat pipiku memerah. Aku menatap sekotak hadiah yang telah kupersiapkan untuknya seraya tersenyum. Aku menghabiskan waktu berhari-hari demi hadiah itu. Ah, kenapa dia belum datang juga?</p>
<p>Baru saja hendak kuhubungi dia, sosoknya sudah menyapa pandanganku. Langkahnya tergesa menuju ke mejaku.</p>
<p>&#8220;Maaf ya,&#8221; ujarnya begitu sampai di mejaku. &#8220;Aku salah memperhitungkan waktu. Rapat selesai lebih dari jadwal, belum lagi macet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa,&#8221; kataku.</p>
<p>&#8220;Happy Valentine&#8217;s day!&#8221; Aku menyerahkan hadiahku padanya.</p>
<p>&#8220;Wah!&#8221; serunya. &#8220;Apa ini?&#8221; tanyanya seraya mengguncang-guncang hadiah di tangannya.</p>
<p>&#8220;Buka saja.&#8221;</p>
<p>Dengan hati-hati ia membuka kotak itu lalu mengeluarkan isinya. Sebuah patung kayu setinggi sepuluh sentimeter berbentuk sekuntum mawar layu yang kupahat sendiri. Ia memperhatikan patung itu dengan seksama.</p>
<p>&#8220;Bagus, tapi kenapa bentuknya seperti ini?&#8221; tanyanya.</p>
<p>Aku merebut benda itu dari tangannya. &#8220;Seperti inilah aku tanpamu, layu. Jadi jika suatu saat nanti kamu berpikiran untuk meninggalkanku, lihatlah patung ini dan bayangkan bagaimana hidupku tanpamu,&#8221;</p>
<p>Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak kecil. Ia membukanya dan memperlihatkannya padaku. Di dalamnya, sepasang cincin emas putih polos diletakkan.</p>
<p>&#8220;Cincin ini akan mengikatku di sisimu selamanya. Happy Valentine&#8217;s day!&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=142&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/20/inilah-aku-tanpamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu Hari Ini</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/19/aku-benci-kamu-hari-ini/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/19/aku-benci-kamu-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 06:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Kami berdiri berhadapan. Aku dan dia. Kali ini bukan sebagai pasangan kekasih yang telah melewati dua kali natal bersama, melainkan sebagai seorang polisi dan seorang penjahat. Kami tidak sedang berakting atau sekadar main tangkap-tangkapan. Pistol yang teracung di tangan kami &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/19/aku-benci-kamu-hari-ini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=137&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami berdiri berhadapan. Aku dan dia. Kali ini bukan sebagai pasangan kekasih yang telah melewati dua kali natal bersama, melainkan sebagai seorang polisi dan seorang penjahat. Kami tidak sedang berakting atau sekadar main tangkap-tangkapan. Pistol yang teracung di tangan kami masing-masing pun bukan pistol air atau pistol mainan. Itu pistol sungguhan. Isinya peluru sungguhan. Siap menembus kulit kami begitu kami menarik pelatuknya. Mungkin dia duluan, atau mungkin aku, atau bisa saja bersamaan. Tidak ada yang tahu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti yang sudah kubilang, kami tidak sedang main-main. Siapa yang sangka aku akan terjebak dalam pilihan yang demikian sulit. Siapa yang sangka pria yang selama ini menjalin cinta denganku adalah seorang anggota organisasi kriminal yang paling dicari oleh kepolisian. Dan siapa pula yang menyangka akulah yang ditugaskan untuk meringkusnya di antara sekian banyak petugas polisi yang ada. Aku bahkan tidak sempat memberikan diriku waktu untuk meratapi kenyataan pahit ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Menyerahlah&#8230;.” pintaku lirih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tembak aku atau biarkan aku pergi,” balasnya. Ada ketegasan di balik suaranya yang sama lirihnya denganku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Permintaan itu melemparku ke dalam lautan kenangan. Saat itu kami sedang iseng berandai-andai. Seraya bermain-main dengan borgolku di tangannya ia tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan yang memaksaku berpikir keras untuk menjawabnya. Bagaimana jika ia adalah seorang penjahat dan aku ditugaskan untuk menangkapnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jika hal itu terjadi, aku hanya minta dua pilihan darimu. Tembak aku atau biarkan aku pergi, “ ujarnya saat itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tertawa perih dalam hati. Tidak kusangka ia bukan hanya sekadar berandai-andai. Ia sungguh-sungguh menanyakan pertanyaan itu karena ia tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi. Tidak, aku tidak akan semudah itu menuruti permintaannya. Ia sudah menipuku selama ini dan aku tidak rela membiarkan keegoisannya menang begitu saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Biar peluru kita yang memutuskan,” ujarku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami bersiap menarik pelatuk kami masing-masing. Aku mengangkat tangan kiriku, membuat hitungan dengan jariku. Satu&#8230; dua&#8230; dan pada hitungan ketiga kami akan menembak secara bersamaan&#8230; tiga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku jatuh tersungkur tepat setelah bunyi letusan dari kedua pistol kami terdengar. Aku bisa merasakan nyeri hebat di pinggangku. Darah segar mengalir deras dari situ. Aku tidak peduli pada lukaku itu, mataku berusaha mencari-cari sosoknya. Aku menemukannya sedang berdiri menatapku. Ia baik-baik saja, peluruku tepat mengenai tempat yang kusasar, lengannya. Ada pancaran rasa khawatir dalam tatapannya. Aku berusaha tersenyum untuk meredakan kekhawatiran itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Pergilah&#8230;.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku tahu tidak ada suara yang keluar dari mulutku namun aku yakin ia mampu menerjemahkan kata-kata yang kusampaikan melalui mataku. Selangkah demi selangkah ia pun beranjak pergi meninggalkanku. Bayangannya menghilang tepat sebelum temanku datang untuk menyelamatkanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sampai bertemu lagi suatu saat nanti. Aku benci kamu hari ini tapi aku mencintaimu selamanya.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=137&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/19/aku-benci-kamu-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepucuk Surat Cinta (Bukan) Dariku</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/18/sepucuk-surat-cinta-bukan-dariku/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/18/sepucuk-surat-cinta-bukan-dariku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 07:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/18/sepucuk-surat-cinta-bukan-dariku/</guid>
		<description><![CDATA[Berkelana kesana-kemari di bawah terpaan terik matahari atau guyuran hujan tentu bukanlah hal mudah. Terkadang aku ingin menyudahi apa yang telah aku lakukan selama hampir dua tahun ini namun aku tahu aku tidak boleh mengikuti emosiku semata. Di jaman seperti &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/18/sepucuk-surat-cinta-bukan-dariku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=136&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkelana kesana-kemari di bawah terpaan terik matahari atau guyuran hujan tentu bukanlah hal mudah. Terkadang aku ingin menyudahi apa yang telah aku lakukan selama hampir dua tahun ini namun aku tahu aku tidak boleh mengikuti emosiku semata. Di jaman seperti ini di mana begitu banyak pengangguran luntang-luntung mencari pekerjaan, aku harusnya bersyukur telah memiliki pekerjaan. Meskipun menjadi tukang pos bukanlah cita-citaku. Sejak kecil aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjadi tukang pos seperti ayahku saat aku dewasa. Tapi apa mau dikata, takdir memang hobi mempermainkan hidup manusia.</p>
<p>Dulu, ayahku bilang profesi tukang pos adalah profesi yang mulia. Tugasnya menyambungkan tali silaturahmi antara dua manusia yang terpisah jarak. Beruntung, masih banyak orang yang memilih menggunakan surat untuk menjaga hubungan satu sama lain di tengah kemajuan teknologi yang pesat ini sehingga profesi mulia itu masih bisa tetap eksis.</p>
<p>Aku cukup setuju dengan pendapat ayah tersebut. Selama ini aku melihat dan mengalami sendiri bagaimana ekspresi dan aura kebahagiaan terpancar di wajah-wajah penerima surat yang aku temui. Dan semua itu mampu membayar keringat, rasa lelah, dan tubuh yang basah oleh air hujan, dengan lunas.</p>
<p>Tapi tidak dengan penghuni rumah ini. Kebahagiaannya saat menerima surat yang aku antarkan justru memperparah penderitaanku. Sudah lebih dari tiga bulan aku mengirimkan surat demi surat untuknya dan sungguh, aku benar-benar sudah muak.</p>
<p>&#8220;Pos!&#8221; seruku tak bersemangat.</p>
<p>&#8220;Iya!&#8221; sahut seseorang dari dalam rumah.</p>
<p>Tidak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan seorang gadis berambut ikal panjang berlari-lari kecil menghampiriku.</p>
<p>&#8220;Surat untuk Sagita,&#8221; ujarku seraya menyerahkan surat untuknya.</p>
<p>Belum sempat aku memintanya menandatangani bukti terima, ia sudah asyik membuka dan membaca suratnya. Keceriaan di wajahnya berangsur bertambah dua kali lipat. Ia tampak jauh lebih bahagia dari biasanya.</p>
<p>&#8220;Ibu!&#8221; Ia bersiap berlari masuk ke dalam rumah. Sepertinya ada kabar gembira yang ingin segera ia sampaikan pada keluarganya.</p>
<p>&#8220;Mbak, tandatangan dulu,&#8221; cegahku.</p>
<p>&#8220;Oh, iya!&#8221; Ia pun berbalik lalu mengambil pulpen dan kertas di tanganku.</p>
<p>&#8220;Maaf ya, saya terlalu bahagia sampai lupa. Akhir bulan ini kekasih saya mau datang untuk melamar saya,&#8221; ujarnya setelah memberikan tandatangan yang kuminta. Ia lalu bergegas kembali ke dalam rumah.</p>
<p>Tanganku terkulai lemas di sisi tubuhku. Aku menyesal. Seharusnya aku mengikuti kata hatiku untuk tidak mengantar surat untuknya hari ini. Atau mungkin seharusnya aku tidak pernah menjadi tukang pos sehingga aku tidak pernah bertemu dengannya. Sehingga aku tidak perlu patah hati seperti ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=136&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/18/sepucuk-surat-cinta-bukan-dariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Dia Di Matamu</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/17/ada-dia-di-matamu-2/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/17/ada-dia-di-matamu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 13:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/17/ada-dia-di-matamu-2/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku mencintaimu!&#8221; tegasnya sekali lagi. &#8220;Siapa?&#8221; Aku pun mengulang pertanyaan yang sama. Ia mengernyitkan dahi, kebingungan. &#8220;Apa maksudmu?&#8221; &#8220;Siapa yang kamu cintai?&#8221; Ia menarik napas panjang, berusaha melepaskan kekesalannya. &#8220;Kamu!&#8221; ujarnya seraya mencengkeram kedua lenganku kuat-kuat. Aku tertawa sinis. &#8220;Kamu &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/17/ada-dia-di-matamu-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=135&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Aku mencintaimu!&#8221; tegasnya sekali lagi.</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221; Aku pun mengulang pertanyaan yang sama.</p>
<p>Ia mengernyitkan dahi, kebingungan. &#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang kamu cintai?&#8221;</p>
<p>Ia menarik napas panjang, berusaha melepaskan kekesalannya.</p>
<p>&#8220;Kamu!&#8221; ujarnya seraya mencengkeram kedua lenganku kuat-kuat.</p>
<p>Aku tertawa sinis. &#8220;Kamu yakin?&#8221;</p>
<p>Ia melepaskan cengkeramannya dan menatapku tidak mengerti.</p>
<p>&#8220;Kamu yakin kamu mencintaiku?&#8221; ulangku. &#8220;Awalnya aku pun berpikir kamu mencintaiku tapi ternyata aku salah. Kamu mencintai diriku yang mengingatkanmu padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkanmu?&#8221; Suaranya terdengar pasrah.</p>
<p>Aku menggeleng.</p>
<p>&#8220;Tidak perlu. Kamu tidak perlu meyakinkanku. Semua hanya akan jadi usaha yang sia-sia. Aku bisa melihat jawabannya di matamu karena matamu tidak diciptakan untuk memantulkan kebohongan.&#8221;</p>
<p>Aku hening sejenak. Kutatap matanya dalam-dalam. Ya, aku bisa melihatnya. Bukan bayanganku yang ada di bola matanya. Serupa tapi bukan aku.</p>
<p>&#8220;Ada dia di matamu. Itulah kejujuranmu.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=135&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/17/ada-dia-di-matamu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadilah Milikku, Mau?</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/16/jadilah-milikku-mau/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/16/jadilah-milikku-mau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 13:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/16/jadilah-milikku-mau/</guid>
		<description><![CDATA[Aku diikuti. Aku memacu langkahku secepat yang aku bisa untuk menghindarinya. Aku bisa merasakan ia berusaha mengejarku dan ternyata ia tidak kalah cepat dariku. Baiklah, jika memang tidak bisa dihindari maka lebih baik dihadapi. Aku berbalik lalu menantangnya dengan mataku. &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/16/jadilah-milikku-mau/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=132&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku diikuti.</p>
<p>Aku memacu langkahku secepat yang aku bisa untuk menghindarinya. Aku bisa merasakan ia berusaha mengejarku dan ternyata ia tidak kalah cepat dariku. Baiklah, jika memang tidak bisa dihindari maka lebih baik dihadapi. Aku berbalik lalu menantangnya dengan mataku.</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu terus mengikutiku? Kamu mau apa?&#8221; tanyaku kasar.</p>
<p>Ia tidak menjawab. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang mengesankan kepolosan. Lama-lama aku iba juga melihat kondisinya. Tubuhnya basah kuyup oleh hujan yang baru beberapa menit berhenti. Ia tampak menggigil kedinginan. Apa yang terjadi padanya? Melihat perawakannya, seharusnya ia adalah tipe rumahan yang biasa dirawat dengan baik.</p>
<p>&#8220;Rumahmu di mana?&#8221; Kali ini aku melembutkan suaraku.</p>
<p>Ia menunduk, memandangi jajanan aspal yang basah di bawah kakinya. Apakah ia baru diusir dari rumah? Tiba-tiba ada perasaan aneh menjalari hatiku. Sebuah perasaan yang mendesakku untuk merengkuhnya dan menyelamatkannya dari kesedihan.</p>
<p>&#8220;Kamu lapar?&#8221; Aku mengambil sebatang coklat dari dalam saku trench coat-ku dan memberikannya padanya.</p>
<p>Sejenak ia tampak ragu-ragu namun akhirnya coklat itu dilahapnya dengan nikmat. Aku tersenyum senang melihatnya. Ia begitu manis, aku menyesal telah memperlakukannya dengan buruk tadi.</p>
<p>Sebatang coklat habis dalam sekejap. Binar di matanya kini kembali menyala. Tanganku refleks membelai kepalanya. Beruntung, ia tidak marah dengan perbuatanku itu.</p>
<p>&#8220;Jadilah milikku, mau?&#8221; tanyaku tanpa basa-basi.</p>
<p>&#8220;Guk!&#8221; jawabnya sambil mengibas-kibaskan ekornya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=132&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/16/jadilah-milikku-mau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Cuma Mau Kamu, Titik</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/15/aku-cuma-mau-kamu-titik-3/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/15/aku-cuma-mau-kamu-titik-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 08:47:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/15/aku-cuma-mau-kamu-titik-3/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kamu gila!&#8221; bentaknya seraya menatapku tajam. Wajahnya merah padam dikuasai amarah. Aku akui aku memang keterlaluan. Dalam pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun terpisah, aku langsung mengajukan permohonan ini padanya. &#8220;Kamu lihat ini!&#8221; Ia menunjuk cincin emas putih di jari manisnya. &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/15/aku-cuma-mau-kamu-titik-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=129&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kamu gila!&#8221; bentaknya seraya menatapku tajam.</p>
<p>Wajahnya merah padam dikuasai amarah. Aku akui aku memang keterlaluan. Dalam pertemuan pertama kami setelah bertahun-tahun terpisah, aku langsung mengajukan permohonan ini padanya.</p>
<p>&#8220;Kamu lihat ini!&#8221; Ia menunjuk cincin emas putih di jari manisnya. &#8220;Aku bukan aku yang dulu lagi. Ada seseorang yang telah memilikiku dan seorang malaikat kecil dalam hidupku. Kamu juga tahu itu, kan?&#8221;</p>
<p>Ya, aku tahu betul. Kamu sudah mengabarkannya padaku dengan sangat gembira saat akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungimu sebulan yang lalu, ucapku dalam hati.</p>
<p>&#8220;Kamu berhak jadi yang pertama.&#8221; Nada suaranya melembut seiring dengan amarahnya yang meluruh.</p>
<p>Aku menggeleng, &#8220;Mungkin aku memang gila, tidak waras, sakit atau apapun sebutannya. Delapan tahun&#8230;. Seharusnya sudah cukup untuk melupakanmu, tapi nyatanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku menghela napas dalam-dalam, mencari-cari kekuatan untuk melanjutkan kalimatku.</p>
<p>&#8220;Nyatanya kamu tetap bersemayam di sini dan di sini.&#8221; Aku menunjuk kepala dan dadaku.</p>
<p>&#8220;Tidak peduli sekeras apapun usahaku untuk mengusirmu, kamu tetap tidak kunjung pergi. Aku mohon jangan siksa aku lagi. Biarkan aku mendapatkan apa yang hatiku mau. Hatiku cuma mau kamu. Aku cuma mau kamu, titik.&#8221;</p>
<p>Ia mundur satu langkah seraya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti.</p>
<p>&#8220;Terlambat. Seharusnya kamu memohon sebelum kamu menghilang dariku dulu.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=129&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/15/aku-cuma-mau-kamu-titik-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamu Manis, Kataku</title>
		<link>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/14/kamu-manis-kataku/</link>
		<comments>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/14/kamu-manis-kataku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 10:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Live, Love and Laugh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/14/kamu-manis-kataku/</guid>
		<description><![CDATA[Eye shadow, sudah. Blush on, sudah. Aku memoleskan lipstik warna peach kesukaannya sebagai sentuhan terakhir di bibirnya. Selesai. Aku tersenyum puas seraya mengagumi lukisanku di atas wajahnya. Jika ia melihatnya ia pasti akan berteriak histeris lalu memelukku seraya berterimakasih. Seperti &#8230; <a href="http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/14/kamu-manis-kataku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=126&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eye shadow, sudah. Blush on, sudah. Aku memoleskan lipstik warna peach kesukaannya sebagai sentuhan terakhir di bibirnya. Selesai.</p>
<p>Aku tersenyum puas seraya mengagumi lukisanku di atas wajahnya. Jika ia melihatnya ia pasti akan berteriak histeris lalu memelukku seraya berterimakasih. Seperti dulu, saat aku mendandaninya untuk pertama kali. Waktu itu aku terkejut setengah mati akan reaksinya. Selama tiga tahun aku menjalani karirku sebagai penata rias, belum pernah sekalipun aku menemui pelanggan yang segembira dia akan hasil kerjaku. Aku tersentuh, senyuman tulusnya tidak pernah bisa kulupakan sejak itu.</p>
<p>Kusentuh bibir tipisnya. Bibir yang mungkin sudah beratus kali kukecup yang selalu dibayarnya dengan senyuman favoritku. Ah, seluruh memori tentangnya seketika melesak masuk ke dalam benakku. Suara manjanya saat memanggil namaku, belaian lembutnya di punggungku saat aku lelah, dan pancaran matanya yang selalu tampak antusias saat mendengarkan cerita-ceritaku.</p>
<p>Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Perih. Namun tidak seperih luka di hatiku. Tiba-tiba aku ingin memakinya karena telah tega membuatku menderita seperti ini tapi tidak ada satupun makian yang sanggup meluncur dari mulutku. Aku terlalu mencintainya. Bahkan aku sengaja menawarkan diri untuk mendandaninya hari ini sebagai hadiah terakhir dariku untuknya.</p>
<p>Kupandangi wajahnya sekali lagi. Bukan, bukan riasanku yang membuatnya tampak sempurna melainkan struktur wajahnya sendiri yang memang sudah sempurna.</p>
<p>&#8220;Kamu manis,&#8221; kataku lirih. Dia lebih suka disebut manis ketimbang cantik.</p>
<p>Dia tersenyum padaku. Kunikmati senyuman terakhirnya itu sebelum dia dibaringkan di dalam peti mati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/writerinashu.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/writerinashu.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=writerinashu.wordpress.com&amp;blog=22470892&amp;post=126&amp;subd=writerinashu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://writerinashu.wordpress.com/2012/01/14/kamu-manis-kataku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077f4675defcd29fe0eefa06a44327ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">writerinashu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
